Mana Arisugawa

Joined: April 12th, 2018, 1:38 pm

April 12th, 2018, 2:17 pm #1

 

PELAJAR SMA

Nama: Mana
Nama keluarga: Arisugawa
Tempat & Tanggal lahir: Tokyo, 20 Januari 2002
Umur: 16
Gender: Perempuan
Kewarganegaraan: Jepang
Jurusan/Kelas: SMA kelas 2
Deskripsi karakter: Mata bundar dengan iris senada warna coklat kayu, rambut dipotong short bob sedikit melewati telinga, pipi tembam—seperti hamster, tubuh mungil tidak terlalu gemuk dan terbilang pendek. Hampir tidak pernah menggunakan riasan selain bedak bayi yang dipakai sejak kecil dan lipgloss yang dibeli di drug store karena disuruh teman. Gaya pakaiannya sederhana, cenderung feminim dan girly. Penyuka warna warna pastel dan baju oversized mulai dari jaket sampart t-shirt dan jeans. Hobinya adalah memasak dan merapikan rumah. Yang disukai; masakannya berhasil, masakannya dipuji, rumahnya rapi dan bebas debu, bermain dengan Ponyo—chihuahua peliharaannya. Yang dibenci; kue yang dibuat hangus atau tidak mengembang, nilai ujiannya terbakar, panas matahari musim panas, kulitnya kering, lupa belanja bulanan.
Tinggi/Berat: 156/42
Sifat: Di jaman modern dengan gaya hidup modern, tapi pemikirannya masih terkesan kuno. Susah menerimakan pendapat dan perkembangan teknogi—iya, Mana sedikit gaptek. Agak lemot, tapi hanya kadang kadang terutama kalau kurang makan dan bangun tidur. Penurut, dan amat sangat manja. Suka dimanjakan tapi lebih suka memanjakan orang lain. Pemerhati, suka mengalah. Keburukan terbesarnya adalah mudah menangis, bukan berpikir dengan otak tapi dengan hati ketika menghadapi sesuatu, cleptomania tapi tidak ada yang menegur secara langsung, kok.
Status/orientasi: Married/Straight
Visualisasi: Jung Eunbi (G-Friend : Eunha)
Link menuju galeri/website visualisasi: Eunha
Latar belakang singkat: Kepindahannya ke Toshi Haku di awali dengan kematian sang kakek, yang selama ini merawat. Ia adalah anak yatim, diangkat menjadi anak kandung sendiri oleh seorang kakek pemilik perpustakaan di downtown Tokyo. Sebenarnya bukan pindah untuk mencari suasana baru selepas kematian, tetapi untuk menghindari gosip yang mungkin muncul begitu mendengar kabar tentangnya. Dia sudah menikah, ini karena janji yang kakek buat dengan kakek yang lain—temannya. Dan yang menjadi tunangannya bukan anak sebaya melainkan sudah berumur. Itulah sebabnya ia dan suaminya pindah, karena tidak akan ada yang tau tentang mereka disini. Pernikahannya disembunyikan, tentu saja.
RP Regis:

“Kamu yakin tidak masalah kalau kutinggal sendiri?”

Mana Arisugawa tidak bergeming, ia tetap berada pada posisinya. Satu tangan diatas kepala menekan rasa sakit yang seolah menghajarnya tanpa henti, sementara yang lain menggenggam tangan yang lebih besar dari pada miliknya. Perlahan matanya mengintip, mencari sosok yang lain dan yang kini duduk di ujung ranjang yang mereka tempati. “Nggak apa, Tsu juga harus kerja....” suaranya pelan, serak, masih baru sembuh dari batuk.

Panas badannya masih tinggi, memang. Tapi Mana merasa ia sudah jauh lebih baik ketimbang kali pertama ia terbangun kemarin pagi. Kalau sekarang, Mana rasa sudah mampu untuk membuat bubur dan telur gulung sendiri sebagai makanannya nanti siang. Lagipula, ia tidak mungkin meminta ditemani. Ia tidak mau merepotkan lebih lagi. Kemarin sudah ijin, sekarang tidak mungkin akan ijin lagi. Bekerja berbeda dengannya yang masih belajar, ia tidak ada potong gaji sementara suaminya ada.

Pria itu pun menghela napas, pada akhirnya merebahkan diri lagi di sebelahnya sambil mengusap usap kepalanya. “Sudah berangkat sana, nanti telat.” Ia mengusir, bahkan ada nasa “shush, shush,” yang Mana ucap untuk membuatnya pergi. “Kalau sakit dan butuh sesuatu telepon aku, ne?” Anggukan kepalanya cepat, seolah ia tidak sakit sama sekali. Mana Arisugawa tidak boleh membuat suami khawatir hanya karena masuk angin begini. “.....disebelah juga ada bibi dan paman, aku bisa minta tolong mereka,”

“Telepon”

“Bibi”

“Teleponnn”

“Biiibiiiiii”

“Telepon aku, Mana.”

.....

“Iya, iya. Sana sekarang pergilah bekerja.” Kali itu ia serius, tidak ada gunanya beradu argumen. Waktu sudah mengejar, belum lagi tidak ada makan pagi yang tersedia di meja. Kecupan dilandaskan pada dahi, dan ia pun kembali menutup mata. “Tidur sana, cepat sembuh.” Besok, harus sembuh, Mana.

Iya,

—besok.
Like
Share