That Moment, I Let You Go

Joined: July 5th, 2014, 1:28 pm

July 7th, 2014, 3:51 pm #1

Summary :
Ini pertama kalinya… aku tulus mendoakan kebahagiaanya..

Bukan denganku, tapi dengan orang lain….



Cast :
Cho Kyu-hyun
Kang Ji-yeon
Park Min-woo as classmate

Fandom : ELF
Genre : Romance
Rating : K+-T

Disclaimer: FF ini murni karangan author. Jadi mohon maaf kalau ada salah ketik atau salah tulis hehe.
Blog: http://xiiufang.blogspot.com or http://thefanficlover.blogspot.com


HAPPY READING


---------------------------------------------------------------------------------------



Dia datang sambil berlari setiap pagi. Terkadang bel masuk sudah berbunyi, tapi.. aku sengaja menunggu

Teng!!

“Hei.. Ji-yeon”, katanya dengan nafas yang terengah-engah.

Aku menatapnya dan membalasnya dengan senyum, “Hei Kyu.. Seperti biasa kau hampir terlambat”

Dengan terburu-buru ia membuka lokernya dan mengambil jas sekolah.

Ia kemudian menatapku lagi, “Kenapa kau santai sekali? Apa tidak takut Pak Guru?”

“Biar saja.” Kataku sambil berjalan ke kelas

Sekolah itu membosankan. Apalagi berteman dengan orang yang berisik dan menyebalkan. Sebenarnya aku tidak mau melanjutkan ke SMA, tapi karena ibuku sampai menangis, akhirnya aku masuk ke sekolah biasa.

Keluargaku tidak pernah melihatku sebagai aku. Ia selalu membandingkan dengan onni yang masuk sekolah elit. Hah! Rasanya aku hanya jadi bulan-bulanan di rumah. Karena itu aku tidak ingin sekolah. Buat apa sekolah kalau aku hanya ingin dijadikan ‘duplikat onni’ oleh keluargaku.

Tapi…

Sejak dia datang, semuanya berubah…


----Flashback----

“Perhatian semuanya! Kita kedatangan murid baru dari Busan” kata Pak Guru

“Annyeong-haseo.. Aku Cho Kyu-hyun dari Busan. Salam kenal” ucapnya

Aku terpana melihatnya sejak pertama kali. Ia kelihatan keren walaupun gayanya urakan dan berandalan. Namun dibalik gayanya, ia seorang yang ramah, bahkan terhadapku. Sejak saat itu aku merasakan sekolah itu menyenangkan

----End of Flashback----


“Oh ya, sampaikan pada pacarmu, mau berapa kalipun dia mengajakku, aku tidak akan menerima pekerjaan berbahaya seperti itu” ucapnya sambil berlalu ke kelas

“Hee? Apa?”

Tiba-tiba, Min-woo berlari ke arahku dan merangkulku, “Hai Ji-yeon!”

Aku akhirnya mengerti apa yang dia maksud ‘pacarmu’ tadi

“Dia bukan pacarku!” balasku pada Kyu-hyun.

Setiap pagi aku selalu berlama-lama di depan loker dan menunggunya agar bisa menyapanya. Bahkan aku sampai menukar nomor kursi dengan teman sekelasku yang duduk di sebelahnya. Memang terlihat bodoh. Namun entah mengapa aku menikmatinya dan sekolah menjadi menyenangkan buatku.

Oh! Dan Min-woo? Min-woo merupakan anak dari teman ibuku. Kami memang dekat sejak kecil. Akan tetapi aku tidak pernah memandangnya sebagai lawan jenis. Aku hanya menganggapnya sebagai saudaraku, bahkan bisa dibilang sebagai oppa. Akan tetapi Min-woo sepertinya tidak peduli dan tetap mendekatiku walaupun ia tahu akan sia-sia.

---------------------------------------------------------------------------------------


“Kyu… Cho Kyu-hyun! Bangun..” panggilku. Ia tertidur sejak awal jam pelajaran terakhir. Setelah bel tanda pulang berbunyi, aku membangunkannya. “Hah? Sudah selesai?” tanyanya sambil mengantuk.

“Kau terlalu nyenyak tidur. Pak Guru sampai bosan dan tidak mempedulikanmu” jawabku

“Oh ia, hari ini mau pergi tidak? Min-woo mengajak kita pergi ke noraebang baru di pusat kota” ajakku

“Ah, hari ini aku ada kerja sambilan. Maaf ya” Ia membereskan bukunya dan pergi keluar.

Kyu-hyun memang tinggal sendiri di Seoul. Orang tuanya berada di Busan namun ia merantau ke Seoul dan menetap disini.

Kudengar selain kerja sambilan, ia dan Min-woo sering pergi ‘bekerja’. Sering kulihat ia dan Min-woo pergi ke sekolah dengan luka memar di wajah ataupun badannya. Namun mereka tetap tidak memberitahuku apa pekerjaan itu.

---------------------------------------------------------------------------------------


Aku pergi ke atap sekolah sambil membawa bekal makan siangku. Setiap istirahat aku memang pergi kesana karena aku merasa di kelas terlalu berisik.

Saat itu aku melihatnya sedang melamun di atap sekolah. Aku datang kepadanya dan menepuk bahunya, “Apa yang kau lakukan, Kyu?”
Ia tersentak ketika bahunya kutepuk.

“Melamun apa sampai serius begitu? Memikirkan pacar yang jauh yah?” godaku.

Tiba-tiba ekspresi mukanya berubah. Ia menjadi murung. Aku tidak mengira akan tepat sasaran, padahal aku hanya bercanda…

“Pacar? Sebenarnya bukan pacar…” ucapnya. Ia kemudian bercerita, “Waktu kecil ada seorang anak yang sangat berarti bagiku… Entah mengapa aku selalu ingin melindunginya. Kami pernah berjanji akan pergi melihat bunga mekar saat itu. Namun suatu hari ia tiba-tiba pergi. Kudengar ia pindah ke Seoul bersama keluarganya. Aku hanya tahu namanya, selain itu aku tidak tahu”

Ia kemudian melihatku, “Ah maaf aku jadi cerita seperti ini. Kau orang pertama yang tahu.” Katanya.

Aku hanya diam dan kehilangan nafsu makanku.

“Ah, sudah bel! Ayo kita ke kelas” ajaknya

Aku hanya mengikutinya di belakang. Entah sejak kapan, namun akhirnya aku menyadari kalau sejak awal aku tidak akan bisa menggapai Kyu….

---------------------------------------------------------------------------------------


Keesokan harinya…

Seperti biasa ia berlari menuju sekolah. Saat ia berhenti di depan lokernya dan mengambil jasnya, aku menyapanya, “Hai Kyu…”

Ia tersenyum dan membalasku, “Pagi Ji-Yeon”

“Ah, gadis yang waktu itu kau ceritakan… Siapa namanya?” tanyaku

“Yun-ji… Kim Yun-ji” jawabnya.

“Ah.. Semoga kau bisa bertemu dengannya lagi yah.” Ucapku dengan senyum yang dipaksa.

Ia tersenyum kepadaku, “Terima kasih”

Ini pertama kalinya… aku tulus mendoakan kebahagiaanya..

Bukan denganku, tapi dengan orang lain….

Semoga kau bahagia, Kyu….

Aku.. akan tetap mendoakan kebahagiaanmu....




FIN..
Quote
Like
Share