Tangan Bionik Untukmu

revabhipraya
Honored Member
revabhipraya
Honored Member
Joined: August 16th, 2015, 11:22 pm

January 9th, 2016, 3:34 pm #1

Haii

Di sini, Rey mau membagikan cerita karangan Rey dan teman Rey (nama penanya Roy wkwkwk) yang udah membuluk(?) di laptop selama kurang lebih satu setengah tahun awalnya cerpen ini diikutsertakan buat lomba cerpen duet cewek-cowok, tapi kami gak menang huhuhu(?) Jadi Rey post di sini, deh! XD

Oya, supaya kalian gak bingung, sudut pandang cewek ditulis oleh Rey dan sudut pandang cowok ditulis oleh Roy

Oke, selamat menikmati

Tangan Bionik Untukmu
oleh Rey dan Roy

Hai, namaku Rika, singkatan dari Candrika Nadja. Aku terlahir tanpa kedua tanganku. Ibuku meninggal saat melahirkanku sedangkan Ayah meninggal karena kecelakaan delapan tahun lalu. Entah kecelakaan apa, aku juga tidak tahu. Jadi kini, aku tinggal bersama Kakek dan Nenek dari pihak Ayah. Ibu dan Ayah adalah anak tunggal sehingga aku tidak punya Paman ataupun Bibi. Alhasil, aku tidak punya sepupu walau hanya satu.

Aku ini seorang pengkhayal andal. Menurut Nenek, khayalan-khayalanku bias saja jadi best seller jika dibukukan. Aku tersenyum kecil ketika mendengarnya. Bisa menulis adalah impian terbesarku. Aku menyukai kegiatan sehari-hariku dan berharap dapat menuliskannya di atas lembaran-lembaran kertas. Aku selalu berharap aku punya jurnal hidup.

Mungkin kalian berpikir aku dapat meminta Kakek atau Nenek menuliskannya. Sayangnya, pendengaran Nenek sudah tidak berfungsi begitu baik sedangkan tangan Kakek selalu bergetar tiap kali digerakkan. Kan, tidak mungkin aku bercerita pada Kakek lalu meminta Nenek menulisnya. Akhirnya, aku hanya bisa berbagi cerita dengan Kakek atau sesekali dengan Nenek.

Kini, aku bersekolah di sebuah SMA swasta. SMA Sriwijaya namanya. Aku ditempatkan di kelas XI Bahasa. Aku ini pintar berbicara, pintar berdebat, juga pintar berpendapat. Satu hal, aku tidak bisa menulis. Jadi, sekolah menyediakan seorang guru pembimbing untuk menuliskan apa yang kuinginkan.

Hari ini, kelasku kedatangan murid baru. Seorang laki-laki dari Jakarta, katanya. Namanya Andri. Nama lengkapnya, Candrika Kahfi. Lucu sekali.

Dia punya nama depan yang sama denganku.

*

Namaku Candrika Kahfi, kalian bisa memanggilku Andri. Aku lahir dan tinggal di Jakarta, namun karena ada suatu hal akhirnya aku harus pindah ke Bandung. Ibuku menempatkanku di sebuah SMA swasta yang cukup terkenal. Memang berat rasanya untuk meninggalkan kota kelahiranku. Selain karena teman, aku harus menyesuaikan diri lagi. Yaah… namanya juga hidup. The show must go on.

Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah baruku. Pagi ini, aku diantar oleh orang tuaku. Dari dulu, aku sudah terbiasa datang pagi. Aku harus menyesuaikan diri dengan sekolahku yang baru ini; benar-benar dingin namun menyegarkan. Ternyata belum ada yang datang, entah aku memang terlalu pagi atau bagaimana, aku juga tidak mengerti. Aku memilih duduk di bangku paling depan. Sambil menunggu, kuambil laptop yang kusimpan di tas.

Tak lama, datanglah seorang perempuan yang tidak memiliki kedua tangannya. Dia berkeliling di dalam kelas untuk mencari tempat duduk yang kosong. Aneh, padahal saat ini hanya ada aku dan dia. Kemudian, dia berhenti dan duduk di sampingku.

Aneh… pikirku. Apa yang dilakukannya barusan? Aku diam saja, sama halnya dengan dia yang tidak kunjung bicara. Selama lima menit, tak ada percakapan antara kami sama sekali. Akhirnya, kuputuskan untuk memulai pembicaraan.

"Hai… siapa namamu?" tanyaku.

*

"Namaku?" tanyaku heran. "Kau ingin tahu namaku?"

Dia mengangguk dengan wajah polos. Sama sekali tak ada keinginan tersembunyi yang aneh-aneh di matanya. Aku menghela napas lalu memutuskan untuk mengakhiri perasaan bertanya-tanyanya.

"Aku Rika," jawabku pelan. "Candrika Nadja."

"Candrika?" Dia mengerutkan dahinya yang lebar. "Yakin?"

Aku tertawa kecil. "Emang apa yang salah kalau nama kita sama?"

Matanya yang sebulat bakso melebar. "Kamu tau namaku?"

Aku mengangguk tanpa menatapnya. "Candrika Kahfi atau Andri, dari Jakarta, kan?"

"Kayaknya info tentang aku udah tersebar sebelum aku masuk, ya?"

"Mungkin?"

Dia hanya tertawa kecil. Setelah itu, tak ada lagi percakapan di antara kami. Aku sibuk berkhayal seperti biasa, sedangkan Andri… entah apa yang dia lakukan.

"Kamu punya cerita?"

Aku menatapnya heran. Dia baru mengenalku, dia belum tahu banyak tentangku, dan bukannya bertanya mengenai latar belakangku atau semacamnya, dia justru meminta cerita!

Ya ampun, apa orang ini baik-baik saja?

"Rika?" panggilnya. "Kamu punya cerita?"

Aku menghela napas lalu memutuskan untuk meladeni orang ini. "Punya."

"Cerita, dong," pintanya. "Tentang apapun."

Aku berpikir sejenak. "Aku punya cerita tentang gadis kecil penjual benang."

"Buatanmu?"

Aku mengangguk.

"Wah! Cerita, Rik!" serunya antusias sambil mengeluarkan ponsel.

Aku mengangguk lagi lalu mulai bercerita. Aku bercerita, bercerita, dan bercerita tanpa menyadari bahwa aku sudah bercerita selama sepuluh menit. Begitu aku selesai, Andri bertepuk tangan keras sekali. Untungnya, pagi ini di kelas hanya ada kami berdua.

"Itu buatanmu sendiri, kan?" tanyanya memastikan. Aku mengangguk. "Wah! Kamu keren banget, Rik! Kalo gitu, aku mau cerita buatanmu tiap pagi!"

Aku tertawa kecil. "Ceritaku tiap pagi?"

Andri mengangguk. "Cerita apa aja, Rik. Pokoknya buatanmu."

"Kenapa?"

"Aku suka banget cara kamu nyampein ceritamu dan idemu," jelasnya. "Kamu punya bakat, Rik. Kenapa gak kamu salurkan aja?"

"Dengan tangan seperti ini?"

"Eh… maaf, aku gak bermaksud—"

"Gak apa-apa," potongku. "Oke, aku bakal cerita tiap pagi buatmu."

Dan tiba-tiba kusadari tak ada yang lebih menyenangkan daripada melihatnya bahagia.

*

Akhirnya, aku dapat berkenalan dengannya. Lucunya, namaku sama dengannya. Entah apa yang mendorongku untuk bertanya apakah dia punya cerita atau tidak. Begitu dia menjawab "iya", aku merasa senang. Langsung saja kuambil ponselku yang terletak di dalam saku celanaku.

Aku berusaha mengetik setiap kata yang ia ucapkan padaku dalam ceritanya. Sepuluh menit berlalu dan ia baru berhenti bercerita. Ketika aku tiba di rumah setelah melalui hari pertama di sekolah baru, kubuka kembali cerita yang tadi kuketik di ponsel. Kubaca kembali cerita itu.

Selesai membacanya, aku menyadari bahwa dia memiliki bakat yang luar biasa dalam membuat cerita. Sebenarnya sih, ini hanya firasatku. Sayangnya, dia tidak bisa menulis karena tidak memiliki tangan. Aku merasa sangat kasihan padanya. Keesokan harinya, aku kembali bertemu dengannya di kelas. Aku kembali memintanya untuk bercerita sementara aku menyimpan setiap cerita yang dia sampaikan padaku.

Hari demi hari, cerita demi cerita pun kian terkumpul. Sebenarnya, aku tidak selalu meminta. Terkadang, dia berinisiatif untuk menceritakan ceritanya padaku. Tentu saja itu membuatku sangat senang. Dia terus berbagi cerita sampai libur semester tiba.

Pagi itu, suasana di sekitar rumahku terasa sangat menyejukkan. Di saat-saat seperti itu, aku luangkan waktu untuk berolahraga. Selesai berolahraga, aku istirahat sejenak sambil membuka laptop yang kuletakkan di teras rumahku. Ketika sedang ber-internet ria, aku menemukan informasi lomba membuat cerpen. Tiba-tiba ide itu muncul.

Aku berniat mengikuti lomba tersebut.

Aku memilih satu cerita dari sekian banyaknya cerita yang Rika kisahkah padaku. Cerita itu kuketik, lalu kusimpan dalam bentuk Microsoft Word. Selesai mengetik dan menyelesaikan segala macam hal lainnya, karya itu segera kukirim ke alamat email yang tertera pada informasi lomba tersebut.

Muncul pemberitahuan bahwa cerita yang kukirim itu sudah terkirim. Kini, aku berharap agar bisa memenangkan lomba tersebut. Jika aku memang, uangnya akan sangat bermanfaat.

*

Libur semester telah usai. Seperti biasa, aku datang terlalu pagi ke sekolah. Setelah berhasil memisahkan tas dari tubuhku, aku duduk santai di kursi sambil menunggu kedatangan Andri. Aku punya cerita baru hari ini dan ingin kubagi dengannya. Eh, sebenarnya kebiasaan berbagi cerita ini sudah dimulai sejak pertama kali dia memintanya. Sejak saat itu, rasanya aneh kalau tidak bercerita padanya. Tampaknya, kegiatan yang satu itu sudah menjadi rutinitasku.

Benar saja. Lima menit kemudian, Andri muncul dengan wajah berseri-seri. Dia duduk di sampingku lalu menyapaku, "Hai, Rik."

Aku tersenyum. "Hai, Dri."

"Ada cerita baru?"

Aku mengangguk semangat. "Aku baru mau cerita soal Nenek."

"Nenekmu?" tanyanya dan aku mengangguk. "Cerita apa?"

"Peristiwa dapur."

Maka akupun mulai bercerita. Seperti biasa, Andri selalu sibuk mengetik di ponselnya. Aku tidak tahu apa yang dia ketik dan apa maknanya, yang jelas, dia selalu melakukannya sambil menyimak dengan setia. Kenapa aku tahu? Karena setiap aku bertanya ceritaku sebelumnya, dia selalu menjawab dengan tepat.

"Kamu ngetik apa, sih?" tanyaku penasaran setelah lima menit bercerita.

"Mm? Gak penting," jawabnya santai. Dia menaruh ponselnya di saku. "Makasih ya, buat ceritanya pagi ini."

"Sama-sama," jawabku sambil mengangguk. "Ngomong-ngomong, ceritaku biasanya kamu apain?"

Dia menatapku heran. "Maksudnya?"

"Yah, apa ceritaku cuma kamu dengar atau kamu pakai untuk sesuatu?"

Dia diam tidak menjawab. Wajahnya mendadak berubah, dari senang jadi agak panik. Kenapa, ya? Memangnya pertanyaanku segitu menakutkannya?

"Andri?"

"Ah, yah, selama ini cuma kudenger aja."

Aku manggut-manggut. Entah kecewa, entah senang.

*

Siang sepulang sekolah, aku menemukan seseorang bermotor di depan rumahku. Aku menghampiri orang itu lalu bertanya, "Mas, cari siapa, ya?"

"Saya cari Candrika, Dik," jawabnya. "Ada kiriman paket."

"Saya Candrika," ujarku. "Paket apa?"

"Gak tau, Dik. Saya cuma kurir," jawab orang tadi. "Ini barangnya."

"Makasih, Pak."

"Sama-sama."

Masih sambil membawa paket tadi, aku memasuki rumah dan buru-buru mengunci diri di kamar. Aku membuka paket itu dan menemukan dua buah buku, selembar sertifikat, dan amplop kecil. Aku membuka amplop tersebut dan mendapati uang sejumlah lima juta rupiah. Aku mengambil sertifikat yang juga ada di dalam paket tersebut. Tulisan yang tertera di atasnya adalah "Candrika Nadja, Peserta Terpilih Lomba Cerpen 2013".

Aku mengambil salah satu buku yang ada dalam paket itu. Aku meneliti sampulnya; seorang gadis kecil dengan tudung yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Mulutnya tersenyum sedih. Di bagian atas sampul tersebut ada tulisan "Gadis Kecil Penjual Benang". Di bawahnya, tertera nama pengarang, yakni "Candrika Nadja dkk".

Ini berarti satu.

Cerpen Rika menang lomba.

Dia benar-benar menang!

Aku menyimpan uang lima juta rupiah itu dengan hati-hati di dalam brankasku. Uang ini akan kusimpan dulu. Aku tahu ini uang Rika, aku tahu. Hanya saja, ini belum saatnya memberikan uang ini padanya. Aku tidak akan menggunakannya, tentu saja. Uang ini sepenuhnya hak Rika. Dia yang mengarang cerita itu.

Aku berniat memberi tahu Rika, tapi...

Akhirnya aku memutuskan untuk menyimpannya sendiri.

*

Akhir-akhir ini, Andri kelihatannya aneh. Dia kelihatan sibuk sekali. Dia selalu pulang sekolah buru-buru dan tiba di sekolah tepat saat bel berbunyi. Di kelas, dia sering mengutak-atik ponselnya. Tapi, dia tetap memintaku bercerita pada jam istirahat. Kegiatan satu itu tetap saja kami lakukan.

Tak terasa sudah satu tahun kami bersama. Tak terasa pula sudah satu tahun aku berbagi cerita-ceritaku dengannya. Tak terasa pula, ceritaku sudah habis. Sekarang, di kelas dua belas ini, aku nyaris tidak punya cerita untuk dibagi. Rasanya, otakku sudah tidak bisa berkhayal. Kini, otakku sesak dengan aturan-aturan struktur kalimat, majas, tanda baca, huruf kapital, paragraf, karangan, dan lain-lain. Rasanya, otakku berhenti memikirkan hal yang tidak realistis.

"Kok, kamu udah lama gak ngedongeng, Rik?" tanya Andri heran.

Ya, memang sudah lama aku tidak menghasilkan pemikiran kreatif dari otak yang sudah diracuni aturan berbahasa yang baik dan benar. Jujur, kadang aku benci ini.

Aku menghela napas. "Aku udah lama gak berpikir."

"Tapi nilai-nilaimu masih bagus."

"Itu beda soal..."

"Jadi?"

Aku menatapnya bingung. "Aku gak dapet ide lagi... aku buntu..."

Andri diam tidak menanggapiku. "Rik, siang ini ke rumahku, ya?"

"Buat apa?" tanyaku heran.

"Ada yang mau kutunjukkin," jawab Andri dengan wajah serius. "Dan ini penting, Rik."

Aku terdiam sejenak. "Gimana aku bisa ke sana?"

"Aku bawa mobil," jawabnya lagi. "Aku udah punya SIM, kok."

Aku tersenyum. Andri tahu aku paling tidak suka melanggar aturan, mengingkari janji, dan terlambat menghadiri sesuatu. Syukurlah dia bisa mengerti.

"Oke."

*

Kami tiba di rumahku yang halamannya dipenuhi mawar. Ibuku memang cinta bunga yang satu itu. Aku tak pernah tahu kalau Rika juga menyukainya.

"Mawarnya banyak, ya," komentarnya pelan. "Cantik."

Aku tersenyum, memetik satu tangkai mawar putih, lalu memberikan mawar itu padanya. "Buatmu. Disimpan, ya."

Dia menatapku heran. "Suatu hari akan layu, Dri."

Aku mengangguk. "Kayak kamu yang mendadak buntu ide," ucapku. "Bunga itu memang gak akan mekar lagi, tapi kamu bisa menanam yang baru dan membuatnya mekar lebih indah, kan?"

Dia tersenyum. "Jadi ini yang mau kamu kasih lihat?"

Aku menggeleng. "Ini di luar skenario."

Dia tertawa kecil. "Jadi, apa yang mau kamu kasih lihat?"

"Ada di dalam," jawabku. "Ayo, masuk. Tenang, di rumah cuma ada Bunda."

Dia mengangguk.

Di dalam, aku membawanya ke ruangan khusus tempatku menyimpan semua sertifikat dan hasil karyanya. Aku mengeluarkan uang dari brankasku dan memperlihatkan itu padanya. "Ini uangmu."

"Uangku?"

"Dan semua ini penghargaan buatmu."

"Buatku?"

"Ya, semua punyamu."

"Gi-gimana bisa?"

"Ini semua ceritamu, aku kirim ke lomba-lomba," jelasku. "Semua menang. Ini hadiahnya, buatmu, kecuali uangnya."

"Kenapa?"

"Aku udah pakai uangnya untuk beli tangan bionik."

"Ta-tangan bionik?"

"Buatmu."

Dia menangis. "Makasih, Dri... aku gak tau harus bilang apa lagi..."

Aku tersenyum. "Aku ikhlas."

"Makasih... makasih..."

Aku terdiam sejenak. "Rika, aku sayang kamu," ujarku. "Kamu mau jadi pacarku?"

FIN

Silakan jawabannya kalian bayangkan sendiri XD

Semoga cerita ini cukup untuk menghibur hari kalian XD selamat bermalam Minggu~
revabhipraya
FFn | AO3 | dA | wp | WP
Quote
Like
Share

Phia
Premium Member
Phia
Premium Member
Joined: January 12th, 2014, 4:17 pm

September 28th, 2016, 3:32 pm #2

hueee mengharukan ya ceritanya.
semoga jadi soulmate deh candrika x andri.
atau rey-chan dan ....?
btw, baru tahu soal tangan bionik. itu terbuat dari apa ya? bukan automail kek di FMA kan?

Wanna have a cup of tea with me? let me tell you my story: fanfiction
or my fragment
Quote
Like
Share

revabhipraya
Honored Member
revabhipraya
Honored Member
Joined: August 16th, 2015, 11:22 pm

December 29th, 2016, 3:54 pm #3

Doa pertama aku aminin, tapi doa keduanya itu... kenapa ya... xDD
Kalo bahannya sendiri aku kurang tau terbuat dari apa, tapi jadinya itu mirip tangan aslii...
revabhipraya
FFn | AO3 | dA | wp | WP
Quote
Like
Share

Phia
Premium Member
Phia
Premium Member
Joined: January 12th, 2014, 4:17 pm

December 31st, 2016, 3:31 pm #4

hahaha ... nggak kenapa-kenapa kok cmiiw :""]
udah gugling. ternyata memang mirip tangan manusia ya penampakannya. teknologinya pasti canggih ... dan mahal.

Itu *baru nyadar* ceritanya rada gantung nih. Meskipun tertebak.
Ayo bikin lagi Reycchan~

Wanna have a cup of tea with me? let me tell you my story: fanfiction
or my fragment
Quote
Like
Share

revabhipraya
Honored Member
revabhipraya
Honored Member
Joined: August 16th, 2015, 11:22 pm

January 4th, 2017, 11:54 am #5

Ahaha, doakan aja ya, Phia-san XD sebenernya gara-gara baca cerita ini, aku jadi pingin collab sama Roy lagi (...) /JANGANBAPER
Yap, mahal. Jadi pas aku udah buat cerita ini, aku mikir seberapa banyak lomba yang dimenangin Rika sampai hadiahnya bejibun gitu XDD
Phia-san jugaa, ditunggu yaa cerita-ceritanya XD

PS.
Kalo emang mau baca cerita Rey, mampir aja ke FFn atau AO3-nya Rey xD /MALAHPROMOSI/
revabhipraya
FFn | AO3 | dA | wp | WP
Quote
Like
Share

Phia
Premium Member
Phia
Premium Member
Joined: January 12th, 2014, 4:17 pm

January 7th, 2017, 3:31 pm #6

woa ... boleh tuh. nanti kalau udah di-post di sini lagi ya~
haha, pasti event-nya gede gede ya biar bisa dapet uang banyak.

yups, Phi udah baca beberapa dan suka fanfic Rey-chan yg drabble AliMor hehe

Wanna have a cup of tea with me? let me tell you my story: fanfiction
or my fragment
Quote
Like
Share

revabhipraya
Honored Member
revabhipraya
Honored Member
Joined: August 16th, 2015, 11:22 pm

January 9th, 2017, 2:48 am #7

yup, kuusahakan XD udah lama sih gak collab bareng dia, soalnya emang pada dasarnya dia nggak gila nulis kayak aku XD
wkwk antara event-nya gede, yang ngadainnya bejibun duit, atau event yang diikutin banyak banget sampai duitnya numpuk XD
aah, aku jadi malu /// makasih Phia~~ hehehe X'D
revabhipraya
FFn | AO3 | dA | wp | WP
Quote
Like
Share