Saya Cermin

Lenka
Intermediate Member
Lenka
Intermediate Member
Joined: October 7th, 2009, 5:41 am

June 18th, 2012, 6:05 am #1

Hanya sebuah fanfiction dari karakter original (OC) saya di forum RP AniHogwarts.

Title: Saya Cermin
Characters: Renato Garcia Abbot, Aleta Abbot, Cermin, Wastafel, Keran
Rating: T/PG
Warnings: Absurdity
Summary: Hello, my name is mirror and this is my story

Disclaimer: Renato's visualization is Spain from Hetalia. Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya.

===


Selamat pagi.

Saya hanyalah cermin yang terletak di dalam kamar mandi para manusia, tepatnya tergantung di dinding di atas wastafelnya. Ya, saya sendiri heran kenapa para manusia senang menggantung saya di atas wastafel, padahal wastafel suka bertindak asusila dengan merayu saya melalui lubangnya. Belum lagi omongan pedas dan tak senonoh dari keran. Benar-benar deh, bukan mau saya lahir dengan muka datar seperti ini, kenapa harus menjadi urusan keran, coba?

Aduh, maaf, saya jadi curcol. Mari kita kembali ke cerita.

Seperti biasa, pagi di rumah Abbot itu berisik sekali. Semenjak saya dibeli 15 tahun yang lalu dan ditaruh di sini, ada saja yang mereka teriakkan sedari pagi. Contohnya, tidak usah jauh-jauh, di hadapan saya si gadis sulung sedang menaburkan bubuk bedak untuk menutupi lebam yang ada di lehernya. Padahal kemarin pagi belum ada lho, sumpah. Lalu gedoran kencang di pintu pun terdengar, membuat si gadis sulung berteriak marah dan malah memancing teriakan marah lainnya sebagai balasan. Teriakan itu sepertinya datang dari anak lelaki sulung—

—ah, saya benar.

Begitu gadis sulung membuka pintu sambil mendumal, si anak lelaki sulung langsung menarik lengan kakaknya keluar, secara harfiah mengusir gadis sulung dari kamar mandi. Gantian, katanya. Dan setelah sedikit tontonan ala kadarnya di pagi hari, kini si anak lelaki sulung yang menatap saya lekat-lekat. Sumpah serapah dalam bahasa yang tidak saya ketahui (saya dengan bangga menyatakan saya asli dari London) muncul dari mulutnya sembari si anak lelaki menekan tube odol di atas sikat gigi warna hijau. Tapi anak itu tidak langsung menyikat gigi, melainkan, seperti biasa, menaruh sikat gigi berlapis odol tersebut di pinggir wastafel (take that, wastafel, ha!) kemudian tangan-tangan menjamah pipinya sendiri.

Anak itu mencubit pipinya sehingga melebar ke samping, membuka mulut, tersenyum.

Anak itu setiap pagi selalu begini. Seperti berlatih tersenyum. Lucu sih, setahu saya untuk apa melatih senyuman, bukannya emosi manusia itu sifatnya spontan? Anak lelaki itu melakukannya hampir tiap hari, seperti ayahnya yang tiap pagi mencukur jambang, bagai sebuah kebiasaan. Makanya saya menyimpulkan anak itu latihan tersenyum. Karena meskipun tersenyum, sorot mata anak itu berbicara sebaliknya.

“Hh—“ sebuah helaan nafas, setelah rentetan senyuman yang berbeda-beda anak itu pamerkan pada saya. Perlahan, disandarkannya kening dan kedua telapak tangan ke muka saya. Si anak memejamkan mata. Dalam jarak sedekat ini, tentu saya mampu menangkap bagaimana kerutan yang dalam tercipta di jembatan alisnya. Bagaimana mulutnya yang tadi tersenyum mengerut, menekuk turun sementara geliginya menekan gusi bawah kuat-kuat. Ah, sampai berdarah, seperti biasa. Saya bahkan pernah kena, tapi lebih sering si wastafel. Biarkan saja sih, wastafel suka kok.

Duk.

Mulai.

Duk.

Benar-benar deh, manusia…

Duk.

…kalian pikir saya tidak kesakitan kalau dijeduki seperti ini?

Duk!

...Tunggu.

Duk!

Hei, tunggu! Jangan kencang-kencang!

Duk!

Saya tidak mau pecah, hei! HEI!

DUK!




...

…Fyuh. Untunglah sudah berhenti.

Ah gila anak itu, bikin saya ketakutan tiap kali ia mulai bertingkah begini. Memang tidak sesering itu dan memang bukan urusan saya anak itu mau berlaku apa, tapi tetap saja, kalau anak itu mati, saya juga pecah. Mau mati jangan mengajak-ajak saya, seenaknya saja.

Yah, nyatanya darah yang keluar hanya dari belahan bibirnya. Saya juga tidak sampai retak, untungnya. Yang menyebalkan, saya pun tak tahu anak itu kenapa (minimal kalau saya harus pecah, saya ingin tahu alasannya). Tapi anak itu tidak pernah cerita apa-apa. Ia hanya diam untuk beberapa saat, menunduk lebih dalam sehingga saya tersenderi rimbun coklat berantakannya dan tak bisa melihat wajahnya, kemudian—

—anak itu angkat kepala, menjauh.

Tersenyum ceria.

Seakan kejadian barusan tidak pernah ada.

Jadi, saya harus bilang apa pada para pembaca ketika anak itu mengambil sikat giginya, mulai membersihkan diri, memandang saya lekat-lekat dengan mata hijau itu, dan melewati pagi hari seperti biasa di rumah keluarga Abbot?

Saya hanya cermin. Saksi bisu.


-END-
Quote
Like
Share

Joined: July 25th, 2012, 8:55 pm

September 1st, 2012, 8:07 am #2

Senpai, salam kenal.

Setelah nuntasin baca orific ini, hal yang terlintas pertama kali di pikiran saya, adalah : ni cermin kok cerewet banget, oke ini gak penting.. Jadi, saya berpikir, mungkin sifat si cermin yang cerewet adalah pengaruh lingkungan tempat dimana dia digantung (?). My, saya masih bingung ngebayangin bagaimana wastafel bisa merayu plus bertindak asusila, dan keran punya omongan pedas dan sikap nggak senonoh sama cermin (saya melototi wastafel dan keran di kost saya, tapi tetep nggak nemuin jawaban. *sigh*)

Ne, saya jatuh cinta sama diksi dan pemikiran yang anda salurkan di orific ini. Terutama bagian...
wrote: Yah, nyatanya darah yang keluar hanya dari belahan bibirnya. Saya juga tidak sampai retak, untungnya. Yang menyebalkan, saya pun tak tahu anak itu kenapa (minimal kalau saya harus pecah, saya ingin tahu alasannya). Tapi anak itu tidak pernah cerita apa-apa. Ia hanya diam untuk beberapa saat, menunduk lebih dalam sehingga saya tersenderi rimbun coklat berantakannya dan tak bisa melihat wajahnya, kemudian...

...anak itu angkat kepala, menjauh.

Tersenyum ceria.

Seakan kejadian barusan tidak pernah ada.
Manusia memang pintar berakting dengan perasaannya. Keep writing!
Who am I?
Me? I am Conundrum
Who are you?
You? You are Conundrum
Wanna visit Me?
Quote
Like
Share

revabhipraya
Honored Member
revabhipraya
Honored Member
Joined: August 16th, 2015, 11:22 pm

February 29th, 2016, 4:43 am #3

Saya gak pernah kebayang bikin cerita dari sudut pandang cermin xD kalo boneka sih pernah...

Ini keren! Apalagi deskripsi perubahan emosi pada diri si anak cowok. Dan deskripsinya iu loooh, nggak fully baku tapi ngena xD sasuga Author

Dan saya ngakak (jangan artikan secara harafiah) pas bagian "... lebih sering si wastafel. Biarkan saja, dia suka kok".

I was thinking like... "wastafel, kamu maso?"

Overall, rey suka cerita ini. Keep writing, Author-san!
revabhipraya
FFn | AO3 | dA | wp | WP
Quote
Like
Share