Rumah Kita

Aquamarine
Honored Member
Aquamarine
Honored Member
Joined: June 23rd, 2009, 4:58 am

April 9th, 2012, 6:37 pm #1

(c) Aquamarine, Tranquil girl
April, 10, 2012

Jujur...

Apa yang bisa kau remat, kau cecap, kau pulihkan, kau lindungi, kau resapi...,

Daripada rumah usang yang terhinggapi oleh urat-urat debu; hisapan-hisapan serangga besar kelabu, yang menuntut tetes demi tetes semangat yang tersisa dari darahmu?

Kosong.
Tipu.
Sepercik helaan napas lagi.
Satu busur terbangnya pesawat berbahan kertas--yang mudah tersentuh air
Debu.
Sesak, perih.
Hujam demi hujam pada jantung yang ingin menolak mozaik demi mozaik penghancuran pada pandangan mata.

Kau ingin berlari, berlari dan berlari dengan lebih ringan daripada seekor anak rusa kecoklatan yang melewati belukar demi belukar tajam, bunga berduri.
Melompat lebih ringan daripada silinder belalang pada sepucuk daun yang memiliki lebar tiada akhir.
Terbang bagai kupu-kupu biru-kehitaman sendu yang tak peduli bahwa ia tertanggalkan daripada warna cerahnya, namun menggenggam puisi cinta melankolis yang nampak realistis di dalam dada.

Usang.
Detak.
Usang.
Aroma.
Usang
Detak.

Kalau memang ia usang, rumah kita ini memang benar-benar usang...
Mengapa kau mendengar semilir detaknya pada telingamu... pucuk demi pucuk aromanya pada hidungmu yang mau dan malu untuk menitik pada kata menganga.

Matamu yang teraliri lengket hangat beriringan dengan detak jantungmu, memanggilmu untuk mengalihkan pandanganmu.

Lihatlah rumahmu, rumah kita.
Yang katanya ialah lukisan jutaan cahaya pada masa lalu, namun telah teranggapkan usang.

Lihatlah rumahmu, rumah kita.
Yang katanya ialah perteduhan sejumlah hati yang mengasihi dan berbagi warna dan keajaiban
Kini ia telah usang.

Tempe, Bacem, Kurcaci, Udang!
Butuh kata yang lebih sarkastis lagi untuk menerjang kebodohanmu?

Tolong buka..., buka kelopak matamu sekali lagi.
Kumohon...
Aku ingin kau melihat apa yang kami lihat!

Rumah ini,
Belumlah mati.
Rumah ini,
Tidak akan pernah usang!

Cih, klise... klise
Rasionalismemu ingin menang
Hatimu ingin bebas merdeka tanpa terikat oleh hujaman palsu kata cinta.
Cinta adalah tempayan busuk.
Cinta adalah ketika satu demi satu seratmu mewarnai diriku, lalu kau patah dan remukkan semua itu bagai sayap-sayap busuk!

Tidak...,
Oh, Tidak!
Tengoklah!

Rumah kita,
Bangunan cinta kita,
Masih berdiri di sana.

Rumah di mana aku menganyam keteguhan dan setia yang tak terlukiskan pada atapnya lewat jemariku yang bergetar dalam keterbatasan manusia.
Rumah di mana mereka membangun temboknya lewat dentuman kepalan demi kepalan tangan yang hanya berisikan cinta dan cinta, aku dan kamu
Rumah di mana kau menari, meninggalkan tarian di dalamnya yang membuat kami hangat.
Dan sebaliknya, kami buatkan dirimu sayap mungil berwarna putih untuk terbangmu, terbang kita.

Semua itu belum berlalu.
Kita masih beristirahat di sana.
Walau kita adalah makhluk yang membayang.

Dengan sisa lengkung ujung jemarimu yang memilin-milin sisi karpetnya.
Matamu bagai safir merah yang menantikan sentuhan seperti dahulu, dahulu kala.
Cinta kami masih ada di sana.
Harap kami masih ada di sana!
Bagi kalian yang masih ingin menggenggam dayung
Bisikkan kami sang abu, yang hanya mampu menguarkan lagu cinta.

Tengoklah sekarang.
Bunga-bunga baru bermekaran...
Seakan mereka ingin menanam jutaan kebun bunga pada halaman kita dengan warna mereka
Dengan harapan yang sama
Menambah energi kita,
Cinta.

Tangan-tangan mungil mereka membawa jarum perajut
Persis untuk membuat kaus-kaus baru bagi mereka yang merasa dingin
Sepasang kasut dan minuman coklat hangat-hangat kuku bagi mereka, pendahulu yang bersedia untuk berbagi tarian.


Lihat senyum mereka
Sama seperti senyum kami terdahulu
Lihat denyut mereka
Mereka berdenyut, berdenyut sama untuk rumah kita


Namun, di antara sekian juta kata
Apalah yang bisa kulakukan dengan seuntai tulisan?

Selain kutegaskan
Bahwa cinta kami
Cinta kami para pendahulu
Temanmu bermain ketika kau remaja dan masih mengulum manisan kayu manis, terbelepoti oleh colek pasta gigi
Masih ada di belakang punggungmu yang mengilu dan merasa begitu tua
Merajut bata, dan wol hangat,
Pada udara sekelilingmu, dinding bangunan, taman rumah kita.

Denyut kami teristirahatkan di sana.

Maka, rawatlah rumah ini
Bagi yang masih ingin dan mampu mendayung
Harap teruskan cita-cita kami

Karena sebuah jiwa, cinta, warna yang menyatu dan tulus
Tak akan pernah mati

Rawatlah rumah ini
Milikilah rumah ini

Sama seperti sekumpulan kakek dan nenek,
Tante dan Om,
Pemuda dan pemudi.
Yang bermain seru pada permainan putarannya di halaman pada waktu lampau.

Bayang yang tak pernah sesungguhnya terbakar habis menjadi bayang. Abu yang bukanlah abu.

Perlihatkan kami kemilau dayungmu yang menyilaukan dan baru, maupun setengah baru.
Katakan, lantangkan pada kami bahwa kau adalah cucu-cucu kami yang menyayangi rumah ini
Cinta, aku dan kamu di dalamnya

Maka tebaskan dayung-dayungmu pada sudut-sudut yang memintal debu.
Bukalah pintu-pintu usang yang membutuhkan pencahayaan beserta jendela-jendelanya


Tanamlah beberapa bunga berwarna manis di halaman rumah ini untuk mengingat kita
Biarkan sinar matahari yang masih kuning tawar, dan pemalu karena baru terbit, untuk menyinari tempat di mana kami beristirahat terakhir kalinya.


Ruang keluarga dengan perapiannya yang meninggalkan hangat api, jangan mengubah gambaran ini, Detik, serta segelas wine pada sisi meja, yang telah kami reguk bersama-sama dan kami tawarkan padamu

Rasakan rumah ini.
Panas, merah,
Teduh, dan cahayanya.

Hangat dan airmatanya
Tawa dan hari lampau, esok dan esoknya

Rumah kami

Could find me on FFnet
Wordpress

Ev'rything comes and goes.
Beneath everything, Ai.

Quote
Like
Share

hansel.
Honored Member
hansel.
Honored Member
Joined: February 13th, 2009, 7:18 am

June 27th, 2013, 2:36 pm #2

nee. T____________T


















*komen macam apa ini*


IN ONE bang BLOOD RUSHED TO THE head
she'd rather fly through the sky than walk with the dead

Quote
Like
Share