Rosas [1/?]

Lenka
Intermediate Member
Lenka
Intermediate Member
Joined: October 7th, 2009, 5:41 am

November 10th, 2010, 8:50 pm #1

*)di post di LJ, tapi kemudian di-edit dan ditambahkan


Title: Rosas [1/?]
Characters: Romano, Spain, Belgium
Rating: T/PG (YES FREAKING PG LIKE WHOA JUST BECAUSE ROMA'S MOUTH)
Warnings: None for now
Summary: Are you okay, Spain? Why do you make them again?

Disclaimer: Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya. If it belongs to me, your world map will never be the same again.

===

Angin bertiup sepoi-sepoi di belahan bumi bernama Spanyol. Tiupan angin tersebut cukup untuk menggoyangkan dedaunan di kebun tomat milik para penduduk, menimbulkan gemerisik perlahan dan menenangkan bagi mereka yang memutuskan untuk beristirahat sekejap di seling pekerjaan ataupun siesta1, istirahat siang yang sepertinya mendarah daging disini. Seseorang yang sudah sering mengunjungi Spanyol tentunya siap untuk mengantisipasi tutupnya toko dan restoran di jam-jam tertentu, sebuah kebiasaan bangsa mantan penjelajah ini yang cukup membuat turis baru kebingungan. Seperti sekarang, jam 2.30 siang dan orang–orang di kebun terlihat sangat nyaman, berselonjor begitu saja di antara tanaman yang mereka tangani dengan karung atau sejenisnya menahan kepala mereka dari kerasnya tanah. Sebagian berada di tempat yang mungkin lebih pantas untuk tidur, di depan bedeng dimana atapnya menampik sinar mentari yang menyinari “Negara Dimana Matahari Tidak Pernah Tenggelam”.

Romano melewati orang-orang tersebut begitu saja. Ia sudah terbiasa menemukan penduduk Spanyol tergeletak di tempat-tempat tak biasa untuk melakukan istirahat siang mereka. Entah mereka terlalu malas (terlihat dari personifikasinya, geez!) untuk mengangkat tubuh sialan mereka ke atas tempat tidur atau mereka begitu tidak pedulinya dengan sopan santun. Huh, bukan urusan Romano apa yang orang-orang si Spanyol sialan lakukan tapi entitas yang dimaksud lebih baik berada di alam sadar dan tidak meninggalkan Romano seorang diri untuk mengejar tomat merah nan indah dalam mimpi. Ia tidak datang jauh-jauh dari Roma hanya untuk menemukan seorang Spaniard mendengkur di rumahnya yang, meskipun kuno untuk jaman sekarang, tenang dan penuh angin segar. Ia tak bisa menjelaskan bagaimana rumah Spanyol begitu menenangkan, karena dia toh sudah tinggal disana jauh ketika ia masih kecil dan tak bisa melakukan apapun dengan benar. Namun jika ia harus menyebut “rumah Spanyol” maka kata yang mengikuti setelahnya adalah “rumah kedua bagi Romano”. Betapa ia juga suka tidur siang dengan jendela terbuka sementara terlindung dari panasnya udara negara Hasrat itu. Tapi ia takkan suka jika ia harus duduk diam dalam keheningan karena Spanyol tidur dan ia tidak.

Untunglah, ketika ia membuka pintu depan (yang anehnya seperti tidak pernah dikunci, dasar teledor, Spanyol, ck), bukan keheningan hampa yang menyambutnya, melainkan gadis berambut pirang terang, pendek dan agak bergelombang, dihiasi semacam scarf hijau tosca di kepalanya, warna yang sama dengan gaun ringan yang ia kenakan, tengah berlari sambil membawa kardus bertuliskan Rosas. Mawar. Gadis itu berlari ke arah barat rumah Spanyol. Mimiknya terlihat tergesa-gesa. Romano mengerutkan alis, bingung oleh beberapa hal yang ia saksikan, tapi tak harapkan ia temui ketika membuka pintu depan beberapa detik yang lalu.

“Belgia?” tanyanya dalam nada tak yakin (meskipun ia tentu tahu kalau gadis itu benar-benar Belgia). “Sedang apa kamu disini?” Ia tidak berkomentar atau bahkan mengambil gerakan apapun saat memperhatikan kepala gadis pirang tersebut menoleh ke arahnya dan tersenyum lebar, seperti yang juga biasa dilakukan Spanyol ketika melihat siapa yang datang. “Oh, Romano~! Waktu yang tepat! Ayo ikut aku, ini sangat penting! Cepat, cepat!” tidak menunggu lebih lama, Belgia berlari seakan yakin kalau Romano akan mengikuti dibelakangnya. Yah, gadis itu benar. Romano memang mengikuti dibelakangnya, meskipun anak muda itu berdalih dalam hati kalau ia hanya penasaran apa yang dimaksud oleh gadis itu dengan ‘penting’. Lagipula, kenapa ada kotak bertuliskan mawar dalam pelukannya? Rasa penasaran itu menjadi-jadi hingga ia tidak berpikir ketika kakinya mulai melangkah dalam ritme yang semakin cepat di setiap langkah.

Kini mereka berjalan, setengah berlari, berdampingan. Tampaknya Romano memperlambat jalannya agar langkah-langkah Belgia yang lebih pendek darinya mampu menyamai. Belgia memutuskan momen hening dengan memulai percakapan ringan (karena rumah Spanyol, berapapun umur Romano ketika menghuninya, tetap besar dan membutuhkan waktu untuk sampai ke sisi yang berlainan). “Apa kabarmu, Romano? Ada urusan dengan Spanyol sampai kamu datang kesini?” tanya sang gadis sekedar mencari topik dalam kesibukannya. “Bukan urusanmu,” dengan ck kentara, ia menjawab. Ekspresi terganggu tampak di wajahnya. Memang bukan urusan Belgia kok ia mau datang kesini kek, ke mana kek, apakah ia ada perlu dengan Spanyol kek, dengan si alis tebal sialan itu kek, dengan si brengsek kentang yang selalu menempel pada adiknya- Ia berhenti. Pemikiran itu membuatnya menggertakkan gigi kesal. Belgia mencuri pandang ekspresi Romano barusan dan gadis itu hanya menghela nafas sambil tersenyum simpul. Ia tahu betapa cepatnya kemarahan Romano menjalar dan mencuri sisi manis anak muda itu. Belgia tidak bermaksud menyiram minyak ke atas api.

“Yah...yang pasti, kalau kamu ada urusan sama Spanyol, aku takut dia takkan bisa menambah satu urusan lagi dalam daftarnya sekarang,” nada ceria yang ringan ketika gadis pirang itu memberitahu Romano. Anak muda itu bahkan tidak sempat berkata ‘eh’ ketika kepalanya otomatis menoleh ke arah Belgia, yang mendobrak masuk pintu di depan mereka. “Bos~ Ini aku bawakan kertasnya~”

Romano berhenti di depan pintu, tidak mengikuti Belgia yang mendekati orang yang ia panggil barusan. Ia berhenti karena Spanyol tengah melakukan apa yang ia pikir tidak perlu dilakukan lagi. Sekerjap heran, kemudian perasaan tersebut berganti dengan cepatnya. Entah kenapa, ia malah khawatir. Spanyol tengah memutar-mutarkan tangannya membentuk setangkai bunga mawar merah dari kertas. Kertas yang nantinya akan bersumber dari kotak yang dibawakan Belgia. Romano khawatir, karena dalam ingatannya Spanyol hanya membuat mawar-mawar kertas itu ketika ia jatuh miskin. Ia bahkan tak bisa menolong Romano ketika Inggris menangkapnya karena harus membuat mawar sialan itu (dan nampaknya terlalu miskin untuk membantu Romano. Pertempuran tentunya butuh dana yang tak sedikit). Apakah ia terlalu berkutat dengan mafia dalam wilayahnya dan tidak mendengar gunjingan akan keadaan ekonomi Spanyol? Tapi tubuh lelaki itu terlihat sehat di mata Romano. Dan senyuman di wajah sang mantan penjelajah begitu lebar untuk dikatakan ‘menderita karena jatuh miskin’ ketika ia menoleh dan menemukan kehadiran anak buah favoritnya di ambang pintu kamarnya.

“Romano~! Kamu datang karena kangen bosmu ya? Ven aqui2, Romano, bos mau peluk kamu!” gestur memanggil dilakukan tangan kiri sang Spaniard. Ia kelihatannya tak bisa bergerak dari duduknya karena sebuah kardus, kali ini penuh berisi mawar kertas yang sudah jadi, menumpuk di pangkuannya dan ia terperangkap di tengah-tengah kumpulan kardus lain berisikan serupa. Belgia menaruh kardus yang ia bawa dan Spanyol tersenyum tidak kalah cerianya pada sang gadis. “Muchas gracias, mi querido3~” ucapnya, menghasilkan senyum yang sama bermaniskan setitik warna merah di pipi sang gadis. Anehnya, merah yang sama juga menjalari wajah Romano, bahkan lebih kentara daripada di wajah sang gadis, namun ekspresi sebal menimpa di atas warna merah tersebut. Merda4, ia tidak butuh melihat Spanyol merayu Belgia di depan hidungnya! Lihat saja, ia bahkan bisa mencium Belgia atau gadis manapun di depan Spanyol jika ia mau! Tidak ada gadis yang tidak takluk oleh rayuan L'italia di gentiluomo5 seperti Romano! Lagipula, siapa sih yang ada di peringkat pertama sebagai Kekasih Terbaik di Dunia, hah?

...Tunggu, itu Spanyol6. Porca troia7.

Ia menyilangkan kedua lengan di dada, tanda bahwa ia mulai tidak nyaman, namun masih penasaran kenapa Spanyol membuat mawar kertas. “H-hei, bastardo, che cazzo fai8? Kenapa dengan mawar-mawar kertas itu? Jangan bilang kalau kebodohanmu membuatmu jatuh miskin lagi seperti dulu dan harus membuat bunga kertas untuk memberi makan pendudukmu,” ucapnya. Meskipun ia menggunakan nada merendahkan seperti biasa, ada secuil kekhawatiran yang terdengar dan tak bisa ditutupi sedikitpun oleh negara yang lebih muda itu. Spanyol mendengarnya sejelas bunyi lonceng dari La Sagrada Familia9. Spanyol tersenyum. Ia tahu, seberapapun kasarnya mulut Romano, anak buahnya itu sebenarnya peduli terhadap banyak hal. Terkadang pada Veneciano, terkadang pada Belgia, terkadang pada dirinya sendiri, Spanyol...

...Tentu saja yang paling membahagiakan Spanyol adalah hal yang terakhir. “Ah, tenang saja, Romanito10~ Ini bukan seperti yang kamu duga kok,” diikuti tawa renyah sementara tangan dengan ahli (tentunya, duh) membuat lebih banyak mawar. “Amerika menelponku dan minta dibuatkan mawar dari kertas. Katanya dia akan membuat festival mawar atau sejenisnya11

Romano mengerutkan dahi. “Festival mawar? Bukannya festival sejenis itu pakai bunga asli, ya?”

Spanyol mengangkat bahu dengan santai. “Entah ya. Yang pasti dia sudah memberiku dana pembuatannya, bahkan mengirim kertas sebagai bahan dasarnya. Aku harus membuat 1500 tangkai mawar dalam 3 hari. Aku tahu aku takkan bisa selesai jika sendirian, makanya aku menelpon Belgia untuk membantuku,” ia mengedikkan kepala ke arah gadis yang dimaksud, yang kini tengah membuat mawar juga namun tidak selihai Spanyol. “Lalu, kamu kesini ada perlu apa?”

Pertanyaan itu, entah bagaimana, membuat kemarahan yang tidak seberapa di dalam diri Romano naik drastis mencapai ubun-ubunnya dalam waktu yang super singkat. Pertama, ia tidak suka dan cukup terganggu melihat adegan rayuan Spanyol pada Belgia (biarpun ia tahu Spanyol mungkin memanggil semua benda, bahkan churros12-nya, dengan ‘sayang’). Kedua, ia kesal karena Spanyol seolah tidak butuh pertolongannya dan bukan Romano yang ia panggil, melainkan Belgia. Terakhir, Romano merasa seperti diusir oleh pertanyaan barusan. Ia sendiri sebenarnya merasa aneh kenapa pikiran-pikiran tersebut memenuhi benaknya. Ini kan cuma Spanyol. Si bodoh Spanyol yang pastinya tidak berpikir apa-apa ketika mengatakannya.

“Nggak ada apa-apa!” bentaknya. Ia tidak merasa perlu menyembunyikan kekesalannya pada Spanyol. Tidak ada gunanya. “Aku kesini mau melihat kamu kerepotan buat mawar-mawar bodoh itu, bikin ketawa saja!” dan Romano pun tertawa, meskipun jika seseorang mendengarkan baik-baik, akan ketahuan kalau ia cuma pura-pura tertawa. Sayang, waktu tidak mengijinkan untuk menelaah detail-detail kecil. “Huh, aku lapar. Dapurmu akan kurusak, Spanyol, asal kamu tahu saja. Dan aku juga tidak akan buat untukmu. Makan saja mawar-mawar itu. Stronzo13!” Dengan geraman, ia berbalik dan menghilang ke arah dapur sang Spaniard.

Spanyol mengedipkan kedua mata. Heran kenapa mendadak saja anak buahnya itu marah. Memang sih tidak sampai membuat Romano pergi, namun jelas itu adalah kemarahan. Ia pun menoleh pada Belgia, “Eh, aku tadi memangnya ngomong apa?” Belgia hanya menghela nafas dan mengangkat bahu tanda maklum. “Biar saja, nanti juga balik normal dengan sendirinya~” Masih tidak mengerti, namun memutuskan untuk menelan ucapan Belgia, Spanyol kembali menekuni pekerjaannya. Besok adalah hari terakhir dan mawar-mawar kertas itu sudah harus dikirim sebelum jam 12 malam. Dalam diam dan mungkin beberapa nada bersenandung, tanpa lirik, menggantung di udara. Membuat Belgia sedikit mengantuk. Membuat Spanyol menerawang ringan.

Stronzo....?


-END CHAPTER 1-

===
1)Kebiasaan istirahat siang orang-orang Spanyol. Berkisar antara jam 2 - 5 PM untuk toko dan kantor, sedangkan untuk restoran antara 4 - 8/9 PM. Source: About.com
2)Come here/Kesini
3)Thank you very much, my dear/Terima kasih banyak, sayang
4)Sh*t/Sialan
5)Italian gentleman/Pria terhormat dari Italia
6)Menurut survey yang dilakukan The Telegraph (UK) akan The World's Best Lover, yang berada di peringkat pertama adalah Spanyol, diikuti dengan Brazil di peringkat kedua dan Italia di peringkat ketiga. Sementara kebalikannya, The World's Worst Lover, peringkat pertama dipegang Jerman, peringkat kedua Inggris dan Swedia di peringkat ketiga. Source: The Telegraph
7)D*mn it atau f*cking hell/Sialan
8)Bastard, what the f*ck are you doing?/Brengsek, ngapain kamu?
9)Gereja Katolik yang terkenal di dunia, terletak di Barcelona, Catalonia. Source: Wikipedia
10)Little Roma, setara dengan Roma-chan jika di bahasa Jepang. Kalo nggak salah inget sih.
11)Portland Rose Festival, bertempat di Portland, Oregon, US. Memang aslinya pake bunga asli kok, ini sih for the sake of the story aja lol /plak. Source: Wikipedia
12)Jajanan khas Spanyol, terbuat dari tepung terigu dan dimakan dengan celupan coklat. Source: Wikipedia
13)You piece of sh*t, secara literal. Selain itu juga sebutan untuk orang yang kejam, pembohong, dan selingkuh. Fusososo.
Quote
Like
Share

Sunny-chan
Honored Member
Sunny-chan
Honored Member
Joined: June 8th, 2011, 12:46 am

June 12th, 2011, 10:19 am #2

Fanficnya bagus! Bikin lagi dong!
ada typo kayagnya,
tapi bagus kok!


Facebook | Twitter (TBA)
Quote
Like
Share