Nyanyian Piania

Khi-Khi Kiara
Premium Member
Khi-Khi Kiara
Premium Member
Joined: December 15th, 2016, 5:59 pm

January 2nd, 2017, 12:22 am #1

Judul : Nyanyian Piania

Genre : Light-Fantasy, Romance, Angst, Song-fic

Rate : T/PG

Panjang tulisan : 2000+ kata


Sebenernya ini cerpen buat dikirim ke majalah dulu (tapi nggak dimuat haha--). Ditulis waktu masih kelas 1 SMA--jadi harap maklum kalau bahasanya masih alay sangat. Selamat membaca dan semoga memuaskan... :nods:

Debu. Gelap. Senyap. Hanya itu yang dapat kurasakan kini. Tak ada satu teman pun. Beginilah aku, terkurung dan terdiam di dalam sebuah gudang kecil yang terasing. Kegiatanku pun tidak banyak. Melamun, termenung, menyaksikan bintang saat malam tiba atau memandangi laba-laba yang sering melewati tubuhku. Bergerak? Tidak. Aku bukan manusia yang serba bebas. Lagipula tubuhku terlalu besar untuk digerakkan.

Ya. Aku bukan apa-apa. Hanya sebuah piano tua yang terabaikan.

Mungkin aku sudah terbiasa dengan kesendirian ini. Aku bernaung di sini selama kurang lebih 5 tahun. Tidak ada seseorang pun yang menghampiriku. Rasanya aku sudah terlalu lama terkurung dalam selubung sunyi, bahkan aku lupa seperti apa melodi yang bergetar dari tubuhku. Sehingga aku harus berterima kasih pada tikus-tikus yang kerap berlarian menginjak tuts-tutsku. Itu membuatku sedikit terhibur, meski biar bagaimana pun aku akan tetap sendiri.

Sementara di luar sana, di sebuah gedung musikal, mengalun dengan riuhnya musik klasik yang dimainkan oleh pasukan instrumen musik. Ingin rasanya aku bergabung kembali dengan mereka, mengisi hati manusia dengan not-notku. Tapi aku hanya mampu melihat kenyataan. Tak ada lagi yang menginginkanku.Tak ada lagi jemari pianis yang ingin bernyanyi bersamaku. Aku memang hanya sebuah piano, tapi perasaanku yang terdalam berkata aku tidak mau terus di tempat ini. Jika mereka tidak ingin mengambilku lagi, kenapa mereka tidak hancurkan saja tubuhku? Kenapa manusia begitu egois? Namun apalah daya, toh hari-hariku tetap hitam hampa seperti biasa.

Setiap terdengar lantunan melodi dari piano lain, aku selalu teringat pada masa lalu. Masa saat aku dekat dengan seorang pianis muda. Kami selalu bersama. Dengan senang hati aku mengiringi semua lagu yang dimainkan jari-jarinya yang gemulai. Suaranya pun sering pula memujiku, hatinya cerah setiap menikmati musikku. Tentu saja, aku tak pernah lupa dengan namanya. Doni Prakoso.


Entah kenapa aku semakin merindukan Doni. Rindu ini tak terhapus sejak perpisahan kami. Saat itu Doni berumur 18 tahun, keluarganya memutuskan untuk pindah dari rumah ini, juga meninggalkan beberapa furnitur besar seperti jam besar itu dan aku. Masih terasa olehku, matanya yang sayu karena melepas 5 tahun perjalanan kebersamaan kita. Ketika sesak perpisahan belum hilang, para penghuni baru itu membuatku kacau. Salah satu dari mereka mematahkan satu kakiku. Itulah yang membawaku ke gudang ini, tempat peristirahatan terakhir yang tak pernah aku idamkan.


Sayup-sayup suara musik tak terdengar lagi dari luar. Kini aku berandai-andai cukup jauh. Berandai aku bebas dari penjara kotor ini. Juga berandai, Doni kembali memelukku. Tapi sudahlah, itu hanya andai-andai. Sekali lagi, aku hanya sebuah piano. Aku bukan manusia yang bisa melakukan apa saja.

Apa mungkin Doni masih mengingatku? Apa dia masih ingin mencariku?

Ah, Doni. Ingin aku melihat matamu lagi. Ingin aku menghiasi senyum lembutmu. Ingin aku bertemu denganmu meski untuk terakhir kali.

Sementara aku terlelap dalam seribu asa, malam kian gelap. Lampu-lampu terpejam. Warna rembulan memburam dan akhirnya hilang. Nyaris tak ada bayangan. Di tengah semua itu, tak lama segumpal bisikan menggema di dekatku.

“Terbuka sudah satu kesempatanmu. Namun bersama air mata, hanya akan mekar sekali lalu gugur selama-lamanya.”

Tak tahu darimana asalnya dan apa artinya. Sejenak kucoba abaikan suara misterius itu. Mungkin suara orang luar. Tapi aku tahu suara itu berbicara padaku.

Maka kulanjutkan ‘tidurku’. Malam ini gelap dan damai. Terlalu damai hingga aku hampir tak bisa merasakan tubuhku. Karena angin malam berhembus kencang, mungkin, aku merasakan tubuh kayuku terbawa melayang, lebih ringan.

Seraya menunggu fajar, kusadari ada yang salah dalam diriku. Angin itu semakin membuatku risih, gelisah. Beberapa helai bulu cokelat hinggap di depanku. Aku tersentak, dan tak sengaja tanganku menepis bulu-bulu itu.

Apa? Tangan? Aku punya tangan? Tangan dengan lima jari. Tangan manusia! Lalu bulu coklat panjang itu berasal dari kepalaku. Rambutku? Ya Ampun...

***

Dini hari ini aku terkesiap. Sesuatu yang luar biasa aneh sedang terjadi. Tubuhku benar-benar menciut! Panik bercampur penasaran, aku berlari ke arah cermin tua. Kusapu debu dan kotoran di depannya dan melihat dengan hati-hati. Perasaanku melonjak, melihat wajah yang termangu di hadapanku. Aku berubah menjadi manusia. Seorang gadis.

Heran, juga girang. Akhirnya aku bisa bebas! Yang terpusat dalam pikiranku adalah keluar dari tempat ini. Pintu gudang terkunci. Maka kupilih jendela gudang sebagai jalan keluar. Ah, bergerak tak pernah terasa begitu mudah sebelumnya. Muncul senyum puas di bibirku. Impianku telah jadi kenyataan!

Aku berdiri di tengah kabut malam, menjauh dari rumah besar itu. Masih asing dengan diriku yang baru, aku berdiam sebentar di sebuah taman. Tidak ada orang. Maka di sini aku mencoba mengikuti segala perilaku manusia. Kucoba berjalan bolak-balik, agar dua kakiku terbiasa. Aku juga mencoba bicara dan menggerakan tangan, lalu tertawa geli sendiri. Nada suaraku tidak berat dan tidak terlalu tinggi. Tidak jauh beda dengan suara tuts-tutsku. Konyol memang, tapi aku terlalu senang dengan keajaiban ini.

Sebelum latihanku berlanjut, sekali lagi aku bercermin di sebuah kolam ikan. Mata hitam, rambut ikal kecoklatan, hidung mancung, dan gaun coklat berlengan panjang. Tak disangka, raga ini adalah jelmaan dari sebuah piano!

Sampai sang surya nampak wajahnya, aku tetap berjalan-jalan sendiri di taman yang rindang, menikmati kehidupan baruku. Lalu menaiki jembatan kayu menuju sisi jalan raya, sambil menghirup oksigen segar. Aku juga sempat menyapa orang-orang yang melihatku dengan ekspresi aneh. Riang rasanya. Ingin aku teriakkan ‘Apa kabar, Dunia?’ lalu menari.

Tapi aku hampir melupakan sesuatu yang juga dimiliki manusia. Nama. Lantas siapa namaku? Aku bingung.

Sambil terus melangkah dari satu jalan ke jalan lain, aku mencari nama. Sesaat aku teringat lagi pada Doni. Aku ingat saat kami pertama berjumpa. Dia memanggilku Piania.

“Piania”, ya?

Doni. Memori tentangnya membuat rinduku kembali membakar. Langkah kaki mulai tak terasa, tak tentu tujuan. Doni tengah menguasai pikiranku. Akhirnya selagi mampu, kutautkan satu target : mencari Doni.

Rasaku untuk bertemu Doni kian menggebu-gebu. Terus kucari, kutelusuri satu per satu wajah yang kutemui dengan penuh harap. Aku tetap melaju. Irama darah mengalir deras dibalik kulit dan daging. Aku berlari kecil, mencari di sebuah kerumunan. Tidak ada Doni.

Tanpa sadar jarak yang kutempuh terlampau jauh. Aku lelah. Lalu aku duduk di trotoar dan menengadah. Jam kota yang tegap itu menunjukkan pukul 09:00. Di saat itulah baru kurasakan yang biasa manusia sebut dengan ‘rasa lapar’, di mana perut terasa nyeri karena kosong. Setahuku manusia mengisi perutnya dengan membeli makanan lalu memakannya. Itulah yang kukeluhkan. Aku tidak punya uang sekeping pun.

“Hai, Nona! Sedang apa di sini?” tiba-tiba suara seorang lelaki membuyarkan lamunanku. Aku menoleh, dan...DEG!

Wajah lelaki yang memanggilku. Mata elang itu. Mataku tak berkedip, bersinar. Itu, wajah dari masa laluku. Doni!

“Anda kenapa? Anda terlihat lesu...” suara itu menyahutku lagi. Aku belum menjawab, tatapanku masih terpaku padanya. Aku mencoba mengendalikan guncangan hatiku. Benarkah dia Doni? Penampilannya banyak berubah, terutama rambutnya. Namun sesuatu yang abstrak dalam jiwaku menegaskan, itu memang Doni-ku!

“Nampaknya Anda sakit. Maukah Anda ikut saya ke restoran?” wajah itu memandang iba padaku, lalu tangan kanannya diulurkan. Tanpa berpikir lagi aku meraihnya. Selama itu kakiku mengambang dengan kebahagiaan, berjalan dengan Doni di sisiku. Pipiku bersemu merah. Kugenggam erat tangan hangat Doni, tak peduli kemana dia akan membawaku. Yang jelas, sekali lagi permintaanku terkabulkan.

Sesaat Doni melirik geli padaku. “Boleh kutahu siapa namamu?” tanyanya ramah.

“Eh? A-aku Pi...Eh, namaku...N-Nia!” bibirku bergetar, aku salah tingkah. Doni hanya tertawa kecil. “Namaku Doni Prakoso. Salam kenal!” jawabnya.

Selama perjalanan, kuterus menaruh kagum pada Doni. Paras tampannya menyatu dengan jas hitam yang menawan. Dia juga banyak menanyakan identitasku, dan dia membalas semua jawaban pendekku dengan senyum ramah.

Satu tanyaku. Haruskah aku beritahu padanya bahwa aku adalah piano kenangannya?

Sampailah aku di sebuah restoran elit. Aku duduk satu bangku dengan Doni. Kami memesan makanan yang mereka sebut Steak. Aku makan lembaran daging gosong itu dengan lahap. Rasanya aneh, tapi lidahku menerima makanan itu dengan baik dan... mungkin ini yang mereka sebut ‘lezat’!

Suasana gemerlap. Lilin gelas menyala di tiap meja. Tirai merah yang anggun berkilauan dengan lampu-lampu kecil. Di satu sisi, kulihat sebuah piano putih berdiri dengan gagah, salah satu temanku. Dari dialah mengalun musik roman yang, secara kebetulan, mewakili warna hatiku.

“Kau tidak mau bermain piano di sana, Don?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirku. Doni menghela napas.

“Entahlah, Nia. Sebenarnya sekarang aku sedang menunggu seseorang. Tapi jika itu pintamu, baiklah.” Doni beranjak dari kursinya, menghampiri piano itu dan duduk di depannya.

Senyuman tak pudar sedikitpun dari bibirku saat menyaksikan permainan piano Doni. Tangannya begitu lincah melompat dari satu tuts ke tuts lain, memainkan sebuah simfoni yang memukau hati. Kepiawaiannya tak banyak berubah. Doni nampak hanyut di dalamnya, terkadang dia melirik padaku dan tersenyum.

Sejuk hatiku melihat kembali memori itu kini. Bahagia rasanya, jika aku dan Doni bisa terus bersama sampai mati—

Akh! Apa yang kupikirkan? Tujuanku adalah bertemu Doni. Kenapa hatiku menginginkan ‘lebih’?

Seusai bermain piano, raut muka Doni terlihat cerah. Mungkin karena menerima banyak tepuk tangan dari para pengunjung. Lalu dia berlari cepat ke arahku.

Tapi bukan aku yang dia tuju.

“Lusi! Akhirnya kau datang!” kata Doni lega menyambut seorang gadis berambut lurus yang belum berhenti bertepuk tangan.

“Tentu, Sayang! Maaf sudah membuatmu lama menunggu,” jawab gadis itu genit.

‘Sayang’? Gadis itu... pacar Doni?

Sesak dadaku. Darah di bawah kuku dan telapak kaki seperti membeku. Kulitku memucat. Bola mataku memanas melihat mereka berdua hingga duduk di satu meja lain. Aku belum bergerak—terlalu sulit untuk bergerak, sampai setitik bulir hangat mengalir di pipi.

Mengapa sesakit ini rasanya?

Aku kembali ke kursi dengan lunglai. Dalam waktu yang cukup lama aku masih bisa memaksakan diri untuk melihat kegembiraan Doni dan kekasihnya. Aku melihatnya, sementara Doni tidak sekalipun menoleh padaku, asyik bercengkerama dengan wanita jelita itu, sembari disisipi tawa renyah sesekali. Hatiku kian bergejolak.

Melodi piano yang bersenandung tiba-tiba membuncah pikiranku.

Aku ingin Doni mengingatku. Aku, piano pendamping hidupnya.

Maka dengan getir aku maju ke depan, hendak mempersembahkan sebuah lagu sendu.

Musik dimulai, kukerahkan suaraku. Aku terlahir untuk musik. Bagaimanapun aku akan tetap menyanyi, walau suara dan sekujur tubuhku bergetar tak tentu irama. Kuharap, lagu ini bisa membuka kalbu Doni untukku.

Di sela akhir lagu, kupandangi wajah Doni. Tak kusadari air mata kembali menitik.

“Telah kunyanyikan alunan-alunan senduku,
Telah kubisikkan cerita-cerita gelapku,
Telah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku,
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu” (Simfoni Hitam – Sherina Munaf)


Aku tak sanggup berdiri lebih lama lagi. Tanpa menghiraukan lagi sorak sorai penonton atau pun Doni, aku berlari ke luar dari restoran sambil mengusap air mata yang semakin deras bermuara. Aku bersandar di tepi sebuah jembatan. Lemas.

Ya, Tuhan! Seperti inikah hati manusia? Hanya dengan melihat Doni dan gadis itu, mampu membuat batinku gelap dan runtuh. Tubuhku meringkuk dingin. Kenapa aku? Kenapa kini bahagiaku sirna, padahal aku berhasil bertemu Doni.

Apa ini yang mereka sebut ‘cinta’?

Apa ini berarti, aku jatuh cinta pada Doni, sehingga aku hancur tanpanya?

Doni? Kau dengar aku? Aku ingin tetap menjadi pianomu, menyanyi bersamamu untuk selamanya.

Langit ditutupi awan hitam dan gemuruh. Rerintik kecil air melesat di pipi. Aku hendak mencari tempat berteduh, tapi tubuhku mati rasa. Napasku melemah, mataku nanar. Saat tangisku belum usai, kesakitan yang lain terasa di sekujur badan. Rasa sakit ini terus mencengkeramku, hingga aku tak merasakan apapun lagi.

Hujan pun turun.

***

“Apa benar di sini?” suara Doni, bertanya pada seorang pria tua.

“Ya. Inilah makam gadis yang ditemukan tewas di sisi jembatan kemarin.” jelas pria itu.

Aku duduk di sini tanpa tubuh, di samping batu nisanku. Sedih memang, berpisah dengan dunia. Walau begitu aku masih bisa merasa bungah melihat Doni.

“Nia, maafkan aku sudah meninggalkanmu saat di restoran.” Doni mengusap batu itu. “Tapi aku sangat berterima kasih padamu atas nyanyian itu. Jujur, lagu itu mengingatkanku pada masa laluku. Ketika aku bersama Piania, piano kesayanganku. Aku sering memainkan lagi itu bersamanya, terlebih saat aku gundah. Aku hampir menangis mendengar lagu itu darimu. Aku jadi ingin bertemu dengan Piania lagi di rumah itu. Aku sangat merindukannya.”

Tidak, Doni. Tidak perlu berterima kasih. Dengan kau ingat padaku pun aku sudah senang.

“Dan lagi, kau gadis yang baik. Aku suka tawa manis itu, dan sikapmu yang bersahabat. Selain itu aku selalu mengagumi perempuan dengan bakat musikal, sepertimu. Sungguh, suaramu yang ringan dan merdu saat menyanyikan lagu itu belum bisa kulupakan. Andai aku bisa mendengarnya lagi.” Doni tersenyum tipis. “Awalnya aku ingin kita mengenal lebih dekat satu sama lain, tapi... senang bertemu denganmu.”

Doni perlahan menaburkan kelopak-kelopak bunga di atas tanah makamku. “Beristirahatlah dengan tenang, Nia.” ucapnya lembut.

Kau tahu, Doni? Ada dua yang terindah dalam hidupku : Musik dan Kau. Aku bersyukur menjadi piano untuk musik pengisi harimu. Aku pun bersyukur, menjadi seorang gadis yang mencintaimu.

***

Art and Music are my daily drugs
Visit my art gallery : deviantART
Visit my fanfiction library : AO3

[...now, let us go, Friend. Decapitation was the ruling.]
Quote
Like
Share