Lovely Blossom

Joined: July 5th, 2014, 1:28 pm

July 7th, 2014, 2:08 pm #1

Summary : Hubungan teman masa kecil berubah menjadi kisah cinta yang manis

Cast :
Lee Dong-hae
Kim Yoon-rae
Kang Ji-yeon as Yoon-rae’s BFF
Park So-ra as Classmate

Fandom : ELF
Genre : Romance
Rating : T
Disclaimer: This story is based on Full Blossom Love Comic by Hisa Kyomachi
Blog: http://xiiufang.blogspot.com or http://thefanficlover.blogspot.com

Silahkan di comment yah Happy Reading
---------------------------------------------------------------------------------------

Suatu sore…







“Yoon-rae-ah! Ada gadis yang kusukai jadi kau harus membantuku!” seru Dong-hae saat masuk ke kamarku. Aku yang sedang membaca majalah di kamar terkejut saat dia masuk secara tiba-tiba.

“Tidak mau” kataku menolak.



Ia melihat padaku dengan muka memelasnya namun tetap memaksakan sambil berkata, “Aku hanya bisa minta tolong kepadamu. Tolonglah”.

“Jangan karena aku teman masa kecilmu kau bisa minta hal seperti itu. Kau kan sudah dewasa, berusahalah sedikit. Dan juga kalau kau mau masuk kamarku gunakan pintu. Jangan selalu menyebrang dari balkon.” Kataku menolak lagi.

Dia selalu menggunakan akses balkon kamarnya untuk ke balkon kamarku hanya karena kamar kami bersebrangan dan berdekatan.

Ia terlihat kesal dan pergi, “Yasudah kalau kau tak mau membantuku. Aku pergi saja” ujarnya sambil menyebrang ke kamarnya.

Aku langsung merebahkan diri di kasur, ‘Huaahhh kenapa dia tidak mau mengerti sih? Dasar bodoh! Apa kau tidak memahami perasaanku?’ kesalku.

---------------------------------------------------------------------------------------

Keesokan harinya….

“Kau lama sekali sih” gerutunya sambil menungguku keluar dari rumah. “Sedang apa kau?” tanyaku.

Ia berdiri dan tersenyum, “Kita kan selalu berangkat kuliah bersama.” Senyum itu, aku tercekat diam dan begitu aku kembali sadar, aku melangkah duluan dengan kesal. “Kalau kau sudah pacaran dengan gadis yang kau sukai, ia pasti tidak akan suka melihatmu berangkat kuliah denganku setiap pagi seperti ini.”

Ia mengejar langkahku yang cepat sambil berkata, “Itu kan hal yang berbeda.”

‘Kenapa kau tidak mengerti!’ batinku.

“Walaupun beda, dia mungkin bisa menganggap kita punya hubungan yang lebih daripada teman masa kecil” kataku.

“Kau berkata begitu karena kau sudah punya orang yang kau sukai kan?” katanya.

‘Kenapa kau tidak peka sih?!” batinku lagi.

Aku kesal dan membalasnya, “Kalau iya memangnya kenapa?” dia hanya menjawab, “Ah, begitu. Seperti apa orangnya?”

‘Dasar bodoh’ kesalku.

---------------------------------------------------------------------------------------


University of Seoul

Aku sedang menunggu kelas berikutnya bersama Ji-yeon. Karena masih dimulai 1 jam lagi, kami pergi ke kantin dan aku membeli jus strawberry kesukaanku. Sambil mengobrol dengannya, aku menceritakan kekesalanku kemarin.

“Hahh mungkin aku harus berubah lebih feminim dan manis.” Kataku.

“Buat apa? Kau sudah feminim sejak liburan musim panas kemarin kok. Bahkan ada gossip kalau kau sering diperhatikan para senior loh.” Katanya.

“Eh lihat! Ada senior Kim yang katanya suka padamu. Itu dia duduk di arah jam 8 di belakangmu!” kata Ji-yeon lagi.

Aku hanya diam dan tidak berani menoleh ke belakang. “Ah gawat” pikirku, kenapa aku jadi gugup begini?

Tiba-tiba sebuah tangan mengambil minuman dari tanganku, “Aku minta yah.” Kata Dong-hae. Ia langsung meminum jusku sampai habis.



“Ah, maaf jadi habis hehe. Sebagai gantinya aku beri roti coklat kesukaanmu yah.” Katanya lalu pergi.

Ji-yeon tercengang melihat itu, “Yah. Kau lihat itu? Dia seperti ingin memonopolimu, seakan mengatakan kalau ‘Yoon-rae itu milikku’. Bukankah tadi bisa dibilang ciuman tak langsung?” kata Ji-yeon antusias.

“Tidak mungkin. Itu hanya karena ia mengganggapku teman masa kecil jadi dia bisa seenaknya padaku. Lagipula kan sudah ada gadis yang dia sukai” Ujarku.

Yah mungkin dia menganggapku seperti saudara karena aku hanya teman masa kecilnya jadi hal seperti tadi hanya hal yang biasa.


Tapi tunggu…....

Dia kan tidak suka minum jus strawberry….

---------------------------------------------------------------------------------------


“Yoon-rae-ah, mana model rambut yang kau suka dari dua gambar ini.” Katanya sambil menunjukkan gambar model dari majalah. Aku melengos pergi, “Mana pun bagus.”

“Yah aku butuh pendapatmu. Mungkin kau bisa membantu.” Katanya.

“Buat apa butuh pendapatku? Kau mengubah model rambut untuk gadis yang kau sukai. Mungkin dia punya kriteria sendiri jadi aku tidak mungkin tahu mana yang dia sukai” kataku kesal

“Yah kau galak sekali. Kenapa kau tidak lembut sedikit? Aku lebih suka gadis yang lembut dan feminim” katanya

Aku tambah kesal mendengar perkataannya, “Memang dia orang yang akan terkesan dengan model rambut?! Bagaimana pun kau tetap Lee Dong-hae, jadi model rambut apapun tidak akan merubah apa-apa.”

“Dia memang bukan orang seperti itu. Tapi aku ingin terlihat keren di depannya. Kau mengerti kan?” katanya kepadaku

“Terserah padamu!” kataku kesal sambil pergi meninggalkannya


Aku benci kau Lee Dong-hae!
Tapi… aku lebih benci pada diriku.

---------------------------------------------------------------------------------------


Keesokan paginya…

Hari ini aku sengaja berangkat lebih awal. Aku menghindari Dong-hae yang mungkin akan menungguku di depan rumah lagi. Aku tidak ingin menerima kenyataan kalau dia menyukai gadis lain dan bukan diriku.

“Yah Dong-hae! Ada apa dengan model rambutmu?” Tanya Ji-yeon sambil bingung. Dong-hae mengubah gaya poninya dan datang ke kampus dengan santainya. Rambutnya juga di cat menjadi kecoklatan.

“Kau kenapa?” tanyaku saat menghampirinya.

Ia menatapku dengan sinis, “Kau yang bilang terserah kan?” tatapannya berbeda. Tatapannya terlihat kesal kepadaku. Aku tidak pernah melihatnya seperti ini kepadaku.

Aku pikir kau tidak akan melakukannya. Tolong jangan menatapku seperti itu…

“Wah! Ternyata kau suka menata rambutmu yah” kata So-ra menghampiri Dong-hae. So-ra merupakan salah satu gadis yang bisa dibilang agak popular di angkatanku. Gosipnya, ia merupakan anak seorang pejabat.

“Yah begitulah.” Kata Dong-hae tersenyum.

“Ternyata model rambut apapun cocok denganmu yah” kata So-ra semangat.

Dong-hae kembali tersenyum, “Memangnya kau stylist? Menilai orang seperti itu”

“Aku memang calon stylist tahu! Mau kubantu untuk menata rambutmu?” jawab So-ra

“Hmm bolehlah jika itu membuatku semakin keren.” Jawab Dong-hae dengan senyumannya.


Hatiku terasa sesak melihat mereka. Dong-hae memamerkan senyum yang ia biasa tunjukkan padaku.

Apa jangan-jangan Dong-hae...???

Ah! Tiba-tiba aku merasa seperti akan menjauh dari Dong-hae...


Aku pun pamit pada Ji-yeon, “Aku mau ke klinik dulu. Aku merasa kurang sehat.” kataku berlari pergi.

---------------------------------------------------------------------------------------


Aku hanya terdiam di bangku taman tempat sering bermain dulu. Ah rasanya Dong-hae semakin menjauh dariku. Air mataku serasa menetes dan benar saja aku menangis. Kenapa kau bodoh Lee Dong-hae! Kenapa kau tidak memahami perasaanku?

Aku berusaha meniru tipe gadis yang disukainya. Aku berubah feminim. Aku bahkan ikut kursus makeup dan nail art demi terlihat feminim. Aku mengubah gaya rambutku dan memanjangkannya agar terlihat cantik di depannya. Semua yang kulakukan seperti orang bodoh… Seharusnya aku sadar saat dia mengatakan ada gadis yang disukainya, aku telah ditolak…


Trrr~ trrr~ trrr~ handphoneku berbunyi dan begitu aku melihat nomornya. Dong-hae. Aku sengaja tidak mengangkatnya.

“Yoon-rae! Kau dimana?! Kenapa kau tidak berada di klinik? Kau pergi kemana?” Dong-hae terdengar panik di telepon saat aku mendengar pesan suaranya. Aku mengecek ada 12 misscall darinya.

Aku tidak bisa.. kalau setiap hari harus bertemu denganmu yang semakin menjauh dariku…
Apa aku harus pergi?

---------------------------------------------------------------------------------------


“Ternyata kau disini?” Dong-hae berdiri di belakangku. Nafasnya terengah-engah. Ia sepertinya berlari mencariku.

“Aku mencarimu kemana-kemana. Aku sudah meneleponmu berulang kali tetap tidak diangkat. Sudah kuduga kau akan disini” katanya.

“Kau memang tidak berubah. Ada masalah apa? Kau selalu kesini kalau ada masalah. Ceritakan saja padaku” katanya lagi.

Aku menatapnya. Bagaimana mungkin aku bisa menceritakan padamu kalau itu mengenai dirimu? Aku merasa air mataku akan menetes lagi. Aku berbalik dan pergi berlari.

Tiba-tiba…


“Aduhh sakit!” teriaknya. Aku langsung mendekatinya dan panik, “Kau tidak apa-apa?!”

Tiba-tiba ia memegang lenganku, “Tertangkap juga” katanya tersenyum sambil menatapku.

“Kenapa kau berbohong?! Kau… menyebalkan” ujarku.

“Padahal kau sendiri khawatir padaku kan tadi?” jawabnya

“Kau.. kenapa dari dulu kau selalu memohon bantuanku? Setiap ada masalah, kau selalu meminta tolong padaku…” kataku kesal

“Memang kenapa? Kalau kau tidak suka padaku, pergi saja!” balasnya dengan keras

Aku diam. Ia masih memegang lenganku. Aku menunduk dan rasanya air mata ini semakin ingin menetes,

“Aku ingin pergi… tapi tidak bisa. Padahal aku sudah berusaha agar terlihat feminim. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya agar disukai.. Walaupun aku suka padamu, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan agar kau menyukaiku.”

“Aku merasa hanya aku yang tersiksa. Bagimu itu hanya hal biasa, tapi aku berdebar-debar karenamu… aku….”

Ia lalu memelukku walaupun aku belum selesai berbicara. “Kau manis sekali.” Katanya sambil tetap memelukku. “Aku suka padamu” lanjutnya

“Aku tidak mengerti” kataku.

“Aku tiba-tiba tidak percaya diri melihatmu secantik ini. Bahkan ada beberapa senior yang sepertinya menyukaimu. Itu membuatku semakin tidak percaya diri, jadi aku meminta tolong supaya dapat menjadi tipe pria yang kau sukai” katanya tersenyum

Aku menatapnya dan akhirnya mengerti maksudnya. “Kau menyukaiku?”

“Apa lagi yang harus kulakukan agar kau mengerti kalau aku suka padamu? Ah bukan suka.. aku cinta padamu sejak dulu.” Katanya. Ia menatapku dengan senyum yang ia selalu tunjukkan padaku. Ah jadi selama ini dia….

“Kau… menyebalkan.. Kenapa tidak bilang dari awal? Kau membuatku putus harapan tahu!” kataku

Ia mendekatkan wajahnya padaku dan menciumku. “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan?”

Aku terdiam..

“Memang kau masih kurang kalau kucium?” katanya, “Atau mau kucium lagi?” godanya

“Ah kau menyebalkan! Jangan menggodaku seperti itu” kataku sambil berdiri dan pergi meninggalkannya



Ia langsung tersenyum dan mengejarku.sepertinya ia tahu kalau pipiku sangat merah setelah ia goda. Ia memegang tanganku, “Jangan marah, sayang...” Godanya.

Kau yang selalu kusukai.. mulai sekarang dan seterusnya aku akan terus menyukaimu Lee Dong-hae…


FIN…





by: xiiufang

Huah akhirnya! hahaha~ FF pertama setelah vakum hampir 4 tahun! *berasa tua*
Nah silahkan di komen yah Setiap komen berarti banget buat ke depannya

Thank you~
Quote
Like
Share