Lifetime - Episode 1

Deleted User
Deleted User

October 31st, 2010, 4:51 pm #1

Title
A Game
Author: The Dreamer

Disclaimer: Lee Namyoung adalah saya, Kim Min Seung adalah "Oppa" saya, Upin Onnie, dan kami adalah diri kami sendiri. Lee Taemin dan Sulli (Choi Jin Ri) bukanlah ciptaan saya. Mereka adalah diri mereka sendiri. Ide cerita dan plot terinspirasi dari kisah nyata.

Fandom/Rating/Genre: Shawol, Aff(x)tion/General/AU, Fluff, Crack, Family, Friendship

Ringkasan: Lee Namyoung dan Kim Min Seung adalah sahabat dekat. Tetapi, ketika Namyoung punya rahasia, bagaimana dengan persahabatan mereka?

Chara: Lee Namyoung (The Dreamer), Kim Min Seung (Upin Onnie) , Lee Taemin (SHINee) as Lee Namyoung's Oppa, and Sulli (Choi Jin Ri - f(x)) as Lee Namyoung and Kim Min Seung's friend.

Dedicated for my beloved "Brother", Upin Onnie!

Aku sangat senang ketika melihat komentar baru untuk fanfiction buatanku. Saking senangnya, bahkan aku sampai tersenyum-senyum sendiri. Oppa-ku, Lee Taemin, menarik kursi dan duduk di sebelahku, ikut melihat ke layar laptop-ku.

"Wae geuraeyo?" tanyanya. "kau tersenyum sendiri, seperti orang gila!"

Kujawab pertanyaan Taemin Oppa dengan senyuman yang semakin lebar. Dengan bangga aku berkata, "Aku sudah membuat fanfiction baru, Oppa! Coba lihat, ada yang mengomentari!"

Taemin Oppa menghela nafas sambil tersenyum. "Fanfiction lagi, ya? Kali ini apa judulnya?"

"Coba saja Oppa lihat," kataku, bangkit dari kursiku dan membiarkan Taemin Oppa mendudukinya. Sejenak kemudian, dia sudah larut dalam ceritaku. Sesekali dia tersenyum sendiri, dan tidak lama, dia mengetik sesuatu.

"Oppa mengirimkan komentar?" tanyaku. Kali ini aku duduk di kursi yang dia bawa sebelumnya.

Segera Taemin Oppa menutup layar laptop-ku. "Bukan kejutan kalau kau sudah melihatnya," katanya dengan senyum jahil.

"Joha, joha," aku bangkit dan menjauh. Sambil tertawa kecil dan puas, Taemin Oppa membuka kembali layar laptop-ku.

---

Beberapa hari sebelum liburan berakhir.

Siang itu, aku dan sahabatku, Kim Min Seung, sedang mengobrol lewat SMS. Kami memang sering melakukannya, membicarakan apapun atau siapapun. Terkadang kami membicarakan hal yang penting, tetapi lebih sering lagi kami mendiskusikan hal-hal yang jauh dari penting.

Saat itu, aku terpikir untuk mengajak Min Seung membaca fanfiction blog yang kususun. Jadi, aku mencoba membelokkan topik ke arah sana.
wrote:Catatan:

N: Namyoung

M: Min Seung
N: Min Seung, aku membuat fanfiction, lho! Tokohnya (Sensor), yang kau sukai itu!

M: Jeongmal? Di mana kau membuatnya?

N: Di blog. Kategorinya "Tragedy", sih, tetapi kurasa lumayan bagus!

M: Wah, apa alamatnya? Aku ingin membukanya.

N: Kau yakin bisa membukanya sekarang? Bukankah kau sedang berada di luar kota?

M: Geuleomyo! Aku bawa ponsel, kok! Apa alamatnya?

N: Tapi, aku memasukkan gambar yang lumayan besar. Apa tidak apa-apa?

M: Tenang saja, bukan masalah. Aku akan mencoba membukanya!

Akhirnya, aku mengirimkan alamatnya pada Min Seung. Setelah itu, selama beberapa saat, dia tidak mengatakan apa-apa. Mungkin, dia sudah larut dalam ceritaku, sama seperti Taemin Oppa! Ahaha...

---

Senin berikutnya.

"Eh, Namyoung, ceritanya bagus sekali!" komentar Min Seung saat kami mengobrol.

Aku tersipu di tempatku, sekalipun kurasa Min Seung tidak menyadarinya. Tidak biasanya Min Seung mengatakan semuanya dengan sejujur itu! "Ne, gomaweo," jawabku. "aku juga tidak percaya gambarnya bisa jadi sebagus itu!"

"Eh, aku belum melihat gambar keseluruhannya! Neomu keun!" kata Min Seung.

Aku tertawa. Aku juga baru ingat kalau itu menjadi salah satu kendala. "Oh, ne, majayo! Kkamppag!"

Min Seung mendesah. "Tapi, hebat sekali, ya, orang yang bisa membuat fanfiction blog itu!"

Lho!?

Senyumku mendatar. Kenapa Min Seung berkata begitu? Bukankah aku sudah mengatakan padanya kalau aku yang membuat fanfiction blog itu?

Hahaha, aneh sekali! Batinku jahil. Oke, Namyoung, biarkan Min Seung mengetahuinya sendiri! Ini akan menjadi permainan yang seru!

---

Di rumah, pulang sekolah.

Begitu sampai di rumah, aku langsung mencari Taemin Oppa. Kutemukan dia sedang menonton televisi sambil mengemil kacang.

"Oppa!" teriakku, langsung mendaratkan diri di sebelahnya. "aku punya cerita seru!"

"Mwoyo? Fanfiction lagi?" tanya Taemin Oppa. Aku tahu dia mendengarkanku, sekalipun perhatiannya lebih terfokus pada televisi. Kebetulan, acaranya adalah kartun favorit Taemin Oppa, Mickey Mouse.

Aku tertawa. "Bukan, Oppa. Bahkan, ini lebih seru daripada fanfiction, karena ini adalah kisah nyata!"

"Memangnya ada apa?" tanya Taemin Oppa. Kali ini dia memandangku.

Kemudian, kuceritakan semuanya pada Taemin Oppa. "Padahal, sudah jelas aku mengatakan itu ceritaku! Ternyata, dia tetap tidak tahu! Ya sudah, kubiarkan saja!"

Taemin Oppa tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lalu, mengapa kau tidak mengatakan semuanya padanya?"

Dengan raut wajah jahil terbaikku, aku menjawab, "Biarkan saja! Aku ingin dia tahu dengan sendirinya! Aku tidak sabar melihat wajahnya nanti!"

"Ck, ck, ck," Taemin Oppa mengacak-acak rambutku. "jahat sekali! Apa salahnya mengatakannya sekarang?"

Aku menggeleng jahil. "Andwae, jangan sekarang. Suatu hari nanti, dia pasti akan tahu sendiri! Ini akan menjadi sebuah permainan yang sangat seru!"

---

Selama beberapa minggu, Min Seung masih juga belum mengetahui siapakah pembuat fanfiction blog itu. Beberapa kali dia memuji karya-karya di blog-ku, dan itu benar-benar membuatku malu sendiri. Tapi, dia tetap saja tidak tahu siapakah yang membuat semua fanfiction itu. Hari-hariku menjadi sangat kocak, karena aku dipuji oleh sahabatku sendiri, yang tidak tahu kalau dia telah memujiku. Semakin lama, permainan ini semakin seru saja!

Minggu pagi yang cerah, aku dan Min Seung berjanji untuk bertemu di rumahku. Kami akan mengadakan belajar kelompok. Hari itu, aku pikir Min Seung pasti sudah tahu siapa penulis fanfiction yang dia puji-puji selama ini, karena sudah lama dia tidak membicarakannya. Ternyata, aku terlalu yakin dengan pikiranku sendiri, dan memang aku salah.

Aku menyiapkan sebuah fanfiction dengan tokoh kesukaan Min Seung, karena tempo hari dia bilang dia belum selesai membaca cerita itu. Aku sama sekali tidak berniat mengujinya, hanya ingin dia membaca cerita itu.

"Ini," kataku pada Min Seung sambil menyerahkan cerita itu.

"Ah, aku sudah selesai membaca ini!" jawab Min Seung bersemangat. "bagus sekali, sekalipun dia harus mati, sih!"

Aku tersenyum—ikhlas, bukan jahil—padanya. Kemudian, karena kupikir dia benar-benar sudah tahu, aku mulai bercerita banyak tentang gambar poster yang kubuat untuk fanfiction itu. "Tadinya, aku tidak percaya bisa membuat bayangannya terlihat asli," jelasku sambil menunjuk gambar posterku. "kata Taemin Oppa, gambarnya sudah bagus! Kuharap semakin hari akan semakin bagus!"

Min Seung memperhatikan gambar posterku selama beberapa saat. "Dia terlihat sangat tampan di sini. Gambarnya keren, kurasa pembuatnya hebat dalam photo editing!"

Eh?


Tiba-tiba, aku benar-benar ingin menahan tawaku agar tidak meledak. Gomaweo, Min Seung! Teriakku dalam hati. Taemin Oppa, tunggu ceritaku!

---

Karena aku ingin Min Seung mengetahui kedokku dengan caranya sendiri, setiap fanfiction yang kususun hanya akan kuberitahukan pada Sulli, seorang temanku yang sejalan denganku. Dulu kami pernah memiliki masalah yang sama, dan kami mengambil kebijakan yang sama pula. Akhirnya, kami jadi sedekat ini.

"Jebal, jangan katakan pada siapapun, ya?" pintaku pada Sulli suatu hari.

"Waeyo? Ceritamu sangat menarik, Namyoung," jawab Sulli.

Aku tersenyum canggung sambil melirik Min Seung yang duduk tidak jauh dari kami. "Aku hanya—" aku mencoba mencari-cari alasan. "—malu."

"Malu? Konyol sekali," ujar Sulli sambil tertawa. "malu pada siapa, Namyoung?"

Sejujurnya aku tidak malu juga, sih! Tapi, bisa juga disebut begitu. Sejak Min Seung terus-menerus memujiku—sekalipun dia tidak tahu siapa yang dia puji, aku jadi canggung. Lagipula, kalau Sulli mengatakan semuanya pada Min Seung, permainan ini akan berakhir dengan tidak seru.

"Sulli, Namyoung," sebelum aku menjawab pertanyaan Sulli, Min Seung memanggil kami. "kalian mau ke kantin?"

"Oh, joha," jawab Sulli seraya bangkit. "eoseo, Namyoung!"

Aku mengangguk. "Ingat, Sulli, jebal, jangan ceritakan pada siapapun. Nanti saja kalau sudah waktunya, ya?" bisikku.

Sulli mengangguk sambil tersenyum. Ketika melihat Min Seung, rasanya aku ingin tertawa, walaupun ada perasaan kasihan juga, sih! Tapi, permainan ini berjalan semakin seru!

---

"Ck, ck, ck, kau masih merahasiakannya?" tanya Taemin Oppa, tidak percaya.

Aku mengangguk bangga. "Lumayan juga, apalagi karena Min Seung terus-menerus memujiku! Hahaha…"

Taemin Oppa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dari mana kau belajar menjadi jahil seperti ini?"

"Tidak mungkin kalau bukan dari Oppa, kan?" jawabku, tersenyum jahil. "apalagi, hari ini, aku berani mengambil resiko!"

"Resiko apa?"

Kuceritakan kejadian hari itu pada Taemin Oppa. "Jadi, sewaktu kami akan memilih gambar untuk tugas kelompok kami, Min Seung melihat-lihat gambar di laptop-ku. Aku baru ingat kalau semua gambar poster kusimpan di sana! Saat itu, aku sudah putus asa, jadi kubiarkan saja dia tahu semuanya!"

"Apakah dia curiga?"

"Andwae!" jawabku cepat sambil tertawa puas. Kejadian itu kembali terulang dalam benakku. "Molla, aku tidak habis pikir! Bahkan, sampai buktinya sudah sekuat itu, Min Seung tetap tidak menampakkan kecurigaan apapun!"

Tangan Taemin Oppa mendarat di kepalaku. Dia mengacak-acak rambutku. "Ah, jahil sekali! Sampai kapan kau akan merahasiakannya? Memangnya kau tidak merasa bersalah?"

Tawaku semakin keras. Aku berusaha menepis tangan Taemin Oppa. "Molla, kurasa sampai dia curiga!"

Akhirnya, Taemin Oppa melepaskan tangannya dari rambutku. "Apakah kau tidak merasa bersalah?" dia mengulangi pertanyaannya.

"Yah," iya juga, sih! Lanjutku dalam hati. "habisnya, Min Seung sendiri juga tidak segera sadar, sih!"

Sejak saat itu, mulai timbul perasaan bersalah pada Min Seung di hatiku.

---

Terkadang, ketika aku bercerita pada Sulli, tanpa sadar aku menggunakan suara keras. Kalau sudah begitu, aku akan langsung memperhatikan Min Seung, kalau-kalau dia mendengarkan semuanya. Tapi, entah karena keadaan kelas yang selalu gaduh, atau karena Min Seung yang terlalu berkonsentrasi, dia tidak pernah tampak mendengarkan atau curiga sedikitpun.

"Jadi," aku memelankan suaraku, dari keras menjadi biasa saja. "dia menyadari kesalahannya setelah kejadian itu."

Sulli mengangguk-angguk. Beruntung, dia lebih fokus pada ceritaku daripada perubahan suaraku. Aku sangat senang bersahabat dengan Sulli, karena dia anak yang sangat polos dan lucu. Dia selalu bersedia mendengarkan ceritaku, sekalipun aku sering bercerita dengan tempo cepat dan suara yang tidak jelas.

"Eoseo, menulislah," pinta Sulli. Permintaan yang aneh, tetapi aku menyukainya. Aku selalu heran mengapa Sulli sangat senang melihatku menulis.

Sembari menulis, sesekali aku memandang Min Seung. Saat itulah perasaan bersalahku kembali timbul. Apakah dia akan marah padaku kalau dia tahu nanti? Haruskah aku memberitahunya sekarang? Tapi, permainan ini tidak akan seru! Lagipula, aku sudah memberinya—secara tidak sengaja—petunjuk kuat yang seharunya bisa memancingnya, tetapi toh dia tidak terpancing juga!

Akhirnya, kuurungkan niatku untuk memberitahu Min Seung. Sekalipun perasaan bersalahku mulai tumbuh semakin besar, tetapi perasaan jahilku jauh lebih besar lagi. Dia akan tahu dengan sendirinya. Tiba-tiba, muncul sebuah kalimat dari film India keluaran tahun 1996, "3 Idiots". "Aal iz well, aal iz well..."

Ne, Namyoung, aal iz well...

---

Di rumah, malam hari.

Selain membuat fanfiction, aku juga suka membaca karya orang lain. Banyak orang yang membuat jauh lebih baik dariku, dan ada pula yang tidak hanya memasukkan fanfiction ke dalam blog-nya, tetapi juga catatan harian. Malam itu, aku membaca sebuah curahan hati seorang author.

"Aku akan segera pergi dari dunia fanfiction," tulis orang itu.

Tapi, aku selalu ingin menulis fanfiction. Aku ingat, ketika aku mengenal dunia yang penuh impian ini untuk pertama kali. Banyak sekali orang kreatif yang menyalurkan impian mereka dalam bentuk tulisan. Karena merasa itu hebat, aku mencoba memasuki dunia ini, perlahan tapi pasti. Hingga sekarang, aku bisa menjadi seorang author aktif.

Di lain pihak, aku juga memiliki banyak pendukung. Terutama temanku, (Sensor), yang selalu menilai dan memperbaiki kesalahanku dalam menulis. Sekarang, dia juga menjadi seorang author. Betapa senangnya, karena kami bisa saling berbagi. Sekalipun kami selalu merahasiakan tulisan kami, tetapi ketika kami mendapat pengetahuan baru seputar fanfiction, kami akan memberitahu satu sama lain.

Fanfiction adalah dunia kita semua, tetapi aku harus pergi dari sini. Jeongmal gomaweo untuk semua dukungannya, teman-teman author dan para readers semuanya! Annyeong hi kyeseyo!

Special thanks to: (SENSOR)

Karena dirimu, aku bisa membuat fanfiction yang berkualitas! Semoga kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti, setelah kita mencapai impian masing-masing! Gomaweoyo~


Hatiku tersentuh membaca tulisan itu. Aku ingin menangis, tetapi air mataku hanya berhenti di ujung-ujung saja, tidak mau keluar. Kemudian, muncul sebuah pikiran di kepalaku. Pasti sangat menyenangkan kalau ada teman yang menemaniku menjadi seorang author. Kami bisa saling berkomentar, berbagi ilmu, dan selalu memiliki topik pembicaraan yang seru!

Min Seung.

Nama itu muncul di kepalaku bak percikan api. Dia sangat mengerti tentang idola-idola masa kini. Dia akan sangat hebat dalam membuat fanfiction!

Akhirnya kuputuskan, aku akan membuka kedokku!

---

Ternyata sulit juga mencari waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya pada Min Seung. Sekalipun kami memiliki banyak waktu untuk keluar kelas—karena kami diberi tugas khusus, tapi aku malu terhadap teman-teman di sekitar kami. Aku pun sudah menyiapkan dua lembar kertas untuk surat-menyurat dengan Min Seung, tapi bahkan itu tidak bisa kulakukan.

Akhirnya, ketika kami berdua diminta melakukan sesuatu—hanya berdua saja, aku mengatakan semuanya.

"Kim Min Seung," panggilku. "bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu?"

Aku menunjukkan senyumanku—yang berakhir dengan tawa, dan Min Seung menunjukkan perhatian dan wajahnya yang bingung. "Ne, wae geuraeyo?"

"Kau," aku tidak bisa berkata-kata dengan benar. Hanya tawa yang keluar dari mulutku. Entah mengapa, aku sangat malu dan merasa ini sangat lucu. Mungkin, karena game over yang tidak terduga ini.

"Waeyo?" Min Seung menghentikan pekerjaanya. Tawaku belum berhenti.

"Pernahkah kau berpikir, siapa pembuat fanfiction blog yang kuceritakan itu?" tanyaku. Aku masih tetap tertawa.

Kupikir Min Seung akan langsung tahu maksudku. Ternyata, dia justru menampakkan wajah bingung. Ia menggeleng perlahan. "Anio. Memangnya… siapa?"

Aku tidak menghentikan tawaku. Bisa kurasakan wajahku memerah. Melihat sikapku yang aneh itu, Min Seung akhirnya menyadari arah pembicaraanku. "Eh, Namyoung?" serunya kaget. "jangan katakan kau yang membuatnya!"

Aku mengangguk. Tetap tertawa.

"Lee Namyoung? Jeongmal!?" Min Seung memastikan. "jangan bohong!"

Aku menggeleng, masih tertawa. Bahkan saking malunya, aku menunduk, tidak berani menatap Min Seung.

"Ne, Min Seung," jawabku akhirnya, ketika tawaku berhasil kukendalikan. "aku tidak perlu bersumpah, tetapi itu benar! Semua cerita itu buatanku! Aku sudah pernah mengatakannya padamu, Min Seung!"

"Eh, eonje?" Min Seung mengerutkan keningnya.

Akhirnya, sambil tertawa-tawa, aku mengungkapkan semuanya pada Min Seung. Bagaimana dia menjadi aneh di mataku karena tidak tahu siapa yang dia puji selama ini, padahal aku sudah mengatakannya. Bagaimana aku malu dan tersipu setiap kali mendengar pujian darinya. "Dan bahkan, aku menceritakan ini pada Taemin Oppa," tambahku.

Min Seung tampak sangat terkejut. "Mwoyo!? Namyoung, aku malu sekali!"

"Mian, jinjeonghaeyo," kataku, menepuk pundah Min Seung sambil tertawa. "aku benar-benar tidak punya maksud untuk mempermalukanmu, tetapi nafsu jahilku menang kali ini, Min Seung! Mianhaeyo!"

Wajah Min Seung berubah, bibirnya sedikit mengerucut. Aku tertawa, tetapi dalam hati aku semakin merasa bersalah. "Mianhaeyo, Min Seung, tetapi pembicaraan kita belum selesai sampai di sini."

"Joha, akan kudengarkan," jawab Min Seung. Dia tersenyum, sekalipun aku tidak yakin seikhlas apakah senyumannya itu. Tapi, begitulah sahabatku!

"Begini," aku memulai. "kau tahu mengapa kuputuskan untuk membuka kedokku sekarang? Sebenarnya, aku ingin kau tahu dengan caramu sendiri, tetapi aku sadar, aku—" kucoba mencari kata yang cocok. Aku memang tidak pandai mengungkapkan perasaanku. "—aku mau kau juga menulis."

Kuceritakan padanya tentang curahan hati yang kubaca. Kukatakan padanya—dengan bahasa yang sama sekali tidak romantis—bahwa aku membutuhkannya di dunia fanfiction sebagai partner menulis. "Aku tidak punya teman," kataku. "semuanya adalah orang-orang yang belum pernah kutemui. Kau juga bisa menulis, Min Seung. Kalau kau dan aku sama-sama menjadi author, pasti akan sangat seru!"

Saat itu, Min Seung sudah kembali menekuni pekerjaanya. Tapi, kemudian dia menghentikannya, dan dengan senyum yang lebar serta mata yang penuh harap, Min Seung berkata, "Joha, aku juga akan menulis!"

Hatiku bersorak saat itu. "Ne, aku akan membantumu! Fighting!"

Sejak saat itu, aku dan Min Seung menjadi author. Aku terus membantunya menjelaskan tentang istilah di dunia fanfiction dan sebagainya. Aku tidak menyangka, game over dari permainan yang kubuat akan menjadi seperti ini. Satu hal yang kudapat, memiliki sahabat itu sangat penting. Di manapun, kapanpun, dia bisa menopang tubuh kita, membuat kita kuat, dan pada akhirnya, kita bisa berdiri di atas kaki kita sendiri. Min Seung, gomaweo! Fighting!

---

Selesai.

"Sahabat itu penting. Berbagi dengannya akan sangat menyenangkan!"

~The Dreamer
Quote
Share