Jerat Semu

Rinyuuaru
Honored Member
Rinyuuaru
Honored Member
Joined: January 14th, 2011, 9:25 am

May 8th, 2011, 2:39 am #1

Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rate: T for Teen
Genre: Drama

Chapter one::
Writer's point of view

*Sakura's*

"Aah... bosannya... " Gumam cewek manis berambut merah muda ini. Dia sedang berbaring di tempat tidurnya sambil asyik menjelajahi dunia maya dengan laptopnya. Di layarnya tertera tulisan Tweety- Godzilla Firefox*. Tangannya mengetik dengan sangat cepat, seolah-olah dikejar deadline yang tinggal beberapa jam lagi. Rupanya Sakura menulis balasan tweet untuk sahabatnya , Ino Yamanaka.

- Balas 'tweet' dariku dong -,- aku bete nih RT Inoymnk : Ada apa sih ? HarunoSakuChan RT Inoymnk : Woi, Ino! -

kemudian Sakura langsung menekan tanda tweet dibawah pesannya. Tak lama berselang, Sakura sudah mendapatkan mention dari Ino dan seorang lagi sahabatnya, yaitu Hinata.

Yang pertama dikirim oleh Hinata.

- Sakura-chan, buku catatan Kimia-ku ada di kamu ya?HarunoSakuChan-

Ups,aku lupa mengembalikan buku catatan Hinacchi yang kupinjam minggu kemarin! teriak Sakura dalam hatinya. Hinacchi merujuk pada sahabatnya Hinata. Tergesa-gesa,dia langsung turun dari tempat tidurnya menuju meja belajarnya. tangannya sibuk mengobrak-abrik semua yang terdapat di sana.

Mana sih buku Hinacchi? Jangan-jangan diambil sama bakanii lagi! Pikir Sakura.

Kenapa dia berfikir kalau buku Hinata ada di tangan kakaknya? Ehm. Jadi begini plot-nya, Tokoh utama kita Haruno Sakura , yang bersekolah di Konoha JHS bersama dengan kedua sahabatnya sedari kecil. Yaitu Inuzuka Hinata dan Yamanaka Ino. Dia mempunyai seorang kakak sepupu yang tinggal bersamanya, yaitu Uzumaki Naruto. Sakura ini diajak tinggal bersama oleh kedua orangtua Naruto, Jiraiya dan Tsunade. Karena, jarak rumah Naruto menuju sekolah lebih dekat daripada ditempuh dari rumah Sakura sendiri. Dan sebenarnya, Hinata adalah kekasih bagi Naruto sekaligus adik dari sahabat Naruto juga, Inuzuka kiba. begitulah sedikit penjelasan tentang hubungan ketiga cewek imut-imut ini.

._._._._._._._._._._._._._._._._._.

Back to the story~

" Ah! Ini dia buku Hinacchi! " Sahut Sakura yang gembira karena sudah menemukan apa yang dia cari. Aku harus cepat-cepat membalas 'tweet' Hinata nih, lanjut Sakura dalam hati. Dia meraih laptopnya dan menaruhnya di atas meja belajar. Kemudian dia duduk dan segera menulis,

Tapi rupanya,ketika dia sedang sibuk , sudah ada balasan dari Ino.

- Kukira ada apa. Eh, aku punya kabar bagus lho… FYI: i'm on Hinata's house right now~ ^-^ RT HarunoSakuChan : Balas 'tweet'-ku -

Bagus. Aku akan menyusul mereka. Ucap Sakura pada dirinya sendiri. Oke , balas tweet-nya sekalian untuk mereka berdua saja. Sakura meneruskan.

- Aku akan ke rumah Hinachii,kalian tunggu disana ya! IHinata Inoymnk –

Lalu,segera Sakura mengambil laptopnya serta memasukkannya kedalam tas bersama buku lupa dia meraih jam tangan Mongol* –putihnya ,diikatkan cepat di pergelangan tangan kirinya. Seketika,dia berhenti tepat di pintu kamar. Ah! Membawa beberapa snack mungkin ide bagus. Tambah Sakura. Diraupnya bungkus keripik cassava dan roll cake di lemari samping kamarnya. Karena kamar Sakura dan Naruto berada di lantai dua , Tsunade merasa khawatir jikalau saat malam-malam mereka ingin makan atau sekadar ngemil. Yang jelas, Sakura ngga keberatan kalau di dekatnya ada pasokan makanan. Dia bisa menjamu teman-temannya yang datang dengan cepat. Tapi melihat dia sudah menghabiskan waktu, akhirnya Sakura menuruni tangga dengan langkah terburu-buru. Sampai Tsunade dan Jiraiya yang berada di ruang keluarga di bawah terheran. Tampak di depan mereka kartu-kartu berbaris. Kebiasaan-nya tante Tsuna nih. Pikir Sakura.

"Nona muda, mau kemana kau? Dan turun tangga dengan hati-hati! Salah-salah kau bisa tersungkur di lantai." Ucap Tsunade yang masih serius berkutat dengan kartu-nya. Entah dia mengkhawatirkan Sakura atau kemenangannya (?) .

"Betul,lalu bagaimana kalau kau ikut bermain bersama kami, Saku-chan?" Lanjut Jiraiya. Tampaknya dia bosan bermain didampingi Tsunade. Pada akhirnya dia harus mengalah karena Tsunade tidak pandai bermain.

"Terima kasih, tapi lain kali saja om Jira, tante Tsuna. Aku izin pergi ke rumah Hinata,ya. Mau mengembalikan buku catatannya. Ino juga sudah ada disana. Kami sekalian mau mengerjakan tugas Fisika bersama-sama," pinta Sakura penuh kesopanan.

Tsunade-Jiraiya memandang satu sama lain, lalu mengangguk setuju pada Sakura. Tentu saja mereka mengizinkannya. Toh, rumah Hinata hanya berjarak 2 blok dari rumah mereka sendiri. Apalagi Ino. Cukup berjalan kaki lima menit. Bisa juga memakai sepeda, tiga menit. Atau berlari dua-empat menit. Atau berguling enam puluh detik (?) . Ups sayang , Sakura tidak akan mau berguling-guling demi pergi keluar rumah.

"Aku pulang~ Nek? Kek? Sakkun? Kalian ada di rumah tidak?" Tiba-tiba terdengar suara cowok melengking dari pintu depan.

"Selamat datang CUCU kami." Balas Tsunade-Jiraiya. Kadang mereka tak habis fikir saat Naruto memanggil mereka seperti itu.

"Selamat datang , (Baka)Nii-san." Sahut Sakura dengan malas. Dia sudah tahu kalau lelaki yang datang tidak lain ialah Naruto. Pasti dia mau ikut kalau tahu aku mau ke rumah Hinacchi. Gumam Sakura sedikit jengkel.

"Ada apa Sakkun? Muka-mu kayak guru sejarah (baca: Asuma sensei) lagi kebakaran jenggot saja . Apa karena sakit perut setelah memakan pudding stroberi-ku kemarin? Oh aku turut berduka cita." Balas Naruto . Mimik mukanya sengaja dibuat sedih.

Raut wajah Sakura seakan berkata, itu pudding-KU tahu! Yang tak dihiraukan oleh Naruto.

"Bukan itu kok. Sudahlah,aku mau pergi.-

-Om Jira, tante Tsuna, (baka)nii-san aku berangkat dulu~" Lambaian tangan Sakura mendampingi derap langkahnya menuju pagar.

._._._._._._._._._._._._._._._._._.

Naruto langsung mengernyitkan alis juga menyipitkan mata dark cyan blue*-nya. Tentu saja dia merasa aneh pada kelakuan Sakura padanya.

"Sakkun mau kemana? Kok ngga ngajak-ngajak aku sih?" Sungut Naruto memicingkan matanya. Dibiarkan saja oleh Tsunade dan Jiraiya. Tentu saja mereka mengerti kenapa Sakura tak mau mengajak abang-nya ini ikut serta. Bisa-bisa naruto malah mengganggu Hinata lagi. Pikir mereka.

"Ah! Jam berapa ini? Aku mau latihan futsal sama om iruka!" Naruto menjerit kaget.

" Jam 10 CU…" Balas Jiraiya sembari menutup telinganya. Sakit mendengar suara anak semata wayang dia itu.

"Kau ini barusan pulang,sudah mau pergi lagi? Setidaknya kau harus makan dulu!" Sanggah Tsunade. Beliau memang perempuan yang peduli pada sekitarnya. Terutama urusan makan. Tapi naruto tidak terlalu memedulikannya. Disambar beberapa pisang goreng dari meja makan. Kemudian dia pergi.

._._._._._._._._._._._._._._._._._.

*Hinata's*

Saat ini di rumahnya, terdapat seorang perempuan manis berambut lemon chiffon panjang dihadapannya. Mengutak-atik soal-soal yang terasa sulit. Terlihat dari mukanya yang masam dan tangannya mulai asyik memainkan rambutnya ketimbang pensil.

" Huh, aku bosan … Mana sih si ranger Pinky? Katanya mau kesini, kok belum datang juga…" Seru Ino. Hinata tersenyum sedikit mendengar ucapan Ino. Kata ranger pinky itu merupakan panggilan khusus Ino pada sahabat mereka, Sakura. Karena rambut sebahu-nya yang berwarna layaknya bunga Sakura, yakni merah muda. Oleh sebab itu, sahabatnya diberikan nama Sakura oleh kedua orang tua-nya. Akhirnya, mereka menyudahi sebentar acara belajar, dan alih-alih membuat makan siang di dapur rumah nona Inuzuka. Hinata ini memang hidup berkecukupan. Tapi soal memasak, koki rumah pun kalah dengan cewek cantik berambut Indigo itu.

._._._._._._._._._._._._._._._._._.

*Sakura's*

Tak lama kemudian, sang sahabat yang telah lama dinanti akhirnya datang. Sakura masuk dan diberitahu oleh seorang pelayan bahwa Hinata berada di kamarnya. Dia pergi ke tangga menuju kamar Hinata. Namun didapatinya kamar tersebut kosong, walaupun tas Ino beserta buku-buku Hinata tergeletak di atas meja mungil kamar tersebut. Langsung saja ia menghamburkan diri di sofa kamar Hinata. Dia tahu, kedua temannya mungkin sedang di dapur atau apalah. Lebih baik dia menunggu saja di kamar Hinata di lantai dua. Rumah Hinata sangatlah luas. Tentu saja , bahkan jika mau Hinata dapat menampung seluruh murid satu sekolahan. Mengerikan memang. Tapi begitulah adanya. Tanpa terasa, angin dingin dari AC membuatnya mengantuk dan tertidur.

"Saku! Hei bangun pinky! Enak saja kau malah tidur-tiduran." Sakura membuka mata medium aquamarine miliknya lambat-lambat. Goncangan keras dari Ino yang berada di depannya baru membuatnya bangun sepenuhnya.

"Maaf, aku mengantuk, di sini nyaman sih. Enak ya jadi Hinata." Ucap Sakura. Spontan Hinata tersenyum malu.

"Bisa-bisanya kau tidur Sakura. Nih, aku dan Hinata sudah membuat goreng nasi rajungan spesial buat kamu" Ino menyerahkan padanya sepiring nasi goreng yang kelihatan sangat lezat. Sakura langsung duduk dan menyantap hidangan sampai habis.

"Ngomong-ngomong, Inono, berita bagus apa yang kau tulis di tweety*? " Sahut Sakura setelah menyelesaikan makannya. Inono merupakan panggilan khusus untuk Ino dari Sakura. Dan sementara itu, sang empunya rumah; Hinata sedang ke bawah untuk mengambilkan minuman. (kenapa ngga nyuruh pelayannya aja ya? Hehe )

"Oh,itu. Masa kau belum tahu? Aku dan senior S jadian lho kemarin." Seringai Ino. Mukanya tampak sangat gembira dan merah. Sakura hanya menatap seakan tak percaya.

"Benarkah itu Inono? Selamat deh. Kau sudah cerita sama Hinacchi ya?" Potong Sakura."

"Tentu saja. Aku kan datang dari tadi,pinky" Jawab Ino dengan mulut manyun.

"Apa aku ketinggalan sesuatu yang menarik?" Suara manis datang dari arah pintu. Hinata yang membawa baki minuman dingin berdiri disana.

"Ngga kok, purpy… Ini soal aku dan senior S. Tadi aku cerita kan?" Ino memberikan penjelasan pada Hinata. Ino memanggilnya purpy. Sesuai warna rambut Hinata yang Indigo (ungu).

"Begitu,ya… Jadi sekarang Ino sudah bisa diantar jemput ke sekolah ya." Hinata tersenyum lembut. Begitu pula dengan Ino.

Tapi, tanpa disadari oleh kedua cewek imut itu, ada sosok yang merasa hampa. Cewek manis berambut merah muda dan memiliki sepasang mata dengan warna layaknya batu berharga. Sakura. Selama ini dia tak pernah mempunyai keinginan untuk lebih dekat pada lawan jenis. Sudah cukup baginya bila ia bersama sahabatnya. Tapi bagaimana saat ini? Dia tak mungkin mengganggu kebahagiaan baru yang dimiliki teman-temannya. Apa ini saatnya dia untuk mencari sosok itu? Orang yang mungkin bersama sepanjang hidup hayatnya? Meninjau dari kondisi persahabatannya kini, dirasanya itulah jawaban apa dari pertanyaan juga kegelisahan yang ada…

Chapter two::

Sakura's.

Haruno Sakura. 14 tahun, bersekolah di KJHS kelas 9-1. Hobi berangan-angan dan menjotos orang (yang mengesalkan). Rambut aslinya berwarna merah muda dengan potongan short layer belah gadis yang teliti, akurat, pantang menyerah sekaligus manis. Impiannya saat ini adalah menjadi ahli kesehatan masyarakat dan memiliki seorang kekasih.

Sakura's point of view.

" Sakura-chan!" Aku menoleh ke sumber suara. Rupanya Hinata toh. Rambut indigo panjangnya melambai-lambai karena langkahnya yang diburu waktu. Aku tersenyum dan mengangkat tangan, memintanya untuk cepat sampai. Hari ini adalah hari Senin, jadi tentu saja kami pergi ke sekolah sama seperti pelajar umumnya.

"Hai Hinacchi~ Sudah mengerjakan tugas Asuma-sensei?" Sapaku pada gadis pemilik iris Lavender itu.

"Ku..kudengar Asuma-sensei sedang menemani istrinya ke rumah sakit hari ini, jadi d..dia tidak mengajar kita, Sakura-chan.." Hinata tampak sedikit gugup seperti biasa.

"Oh, begitu ya… Hubungannya dengan Kurenai-sensei tampaknya lancar. Ngomong-ngomong, mana Inono?" Aku menyambung pembicaraan pada gadis berambut lemon chiffon panjang sebahu yang juga teman dekatku selain Hinata.

"Ino… Dia berangkat bersama Sai-senpai. Tadi dia tulis begitu di tweety."

"Heee… Asyik sekali dia. Meninggalkan teman-temannya dan kabur bersama Sai-senpai." Aku berpura-pura menggerutu sembari sedikit memonyongkan bibir. Padahal sebenarnya aku iri sekali dengan Ino! Enak sekali kalau punya kekasih… Dasar Inono, akan kuledek dia nanti. Hinata menatapku dengan pandangan bingung sekaligus menahan tawa. Aku menoleh padanya dan mencoba tersenyum biasa.

Writer's point of view.

Kedua gadis itu menyadari bahwa waktu mereka tinggal sedikit untuk sampai ke sekolah, dan memburu langkah pada kaki-kaki kecil mereka. Masing-masing mengejar satu sama lain sembari bercanda. Sedikit melupakan waktu yang-

Teng teng teng~

"Huwaaa, gawat! Sudah masuk. Ayo, Hinata!" Sakura menggenggam erat tangan Hinata, membawanya kabur dari tempat ia berdiri. Mereka berlari kencang sampai seperti angin. XP.

~~~;;OO;;~~~

Pagi-pagi di sekolah, Ino menunggu di pintu gerbang dengan kesal. Wajahnya ditekuk sedemikian rupa, supaya tidak terlihat jelek. Sesekali dia menyapa teman-temannya yang lewat.

"Menunggu siapa, Ino-chan?" Sapa kakak kelas Temari . Tepatnya mantan kakak kelas, karena saat ini dia bersekolah di Konoha High School kelas 10. Dia berjalan beriringan dengan kedua saudaranya, Kankurou –sudah SMA juga- dan Gaara kelas 9-1 KJHS.

"Oh, ini, Hinata dan Sakura, senpai." Jawab Ino sambil tersenyum. Dalam hati, dia merutuk keterlambatan kedua sahabatnya itu. Lupakah mereka hari ini dimulai dengan pelajaran Hidan-sensei? Bisa-bisa habis mereka berdua kalau sampai telat.

"Baiklah, kami duluan ke kelas ya. Dan, salam untuk Sai." Ino kaget luar biasa dengan kata-kata senpai-nya. Dia kan baru saja jadian, kok sudah-

Gaara tersenyum mengejek padanya lalu melenggang pergi.- Ino menyadari bahwa sahabat karib Sai termasuk Gaara. Ugh, pasti dia yang bawel. Pikir Ino. Untungnya mood jelek Ino tidak berlangsung lama karena Sakura dan Hinata sudah datang.

" Maafkan kami, Inono. Tadi kami keasyikan ngobrol!" Seru Sakura dari kejauhan.

"Sudahlah, ayo kita ke kelas. Bel sudah berbunyi tahu!" Balas Ino kencang. Alhasil mereka bertiga lari-lari menuju ruangan kelas Kimia, di dekat tangga. Mereka mengendap-endap karena takut ketahuan jika mereka terlambat. Dan benar saja, dari penglihatan mata Hinata yang top itu, muka jutek Hidan-sensei sudah terlihat duduk manis di kursi guru.

"Ah… Hidan-sensei sudah masuk. Bagaimana ini, Sakura-chan, Ino-chan?" Bisik Hinata.

"Tak ada jalan lain, Hinachii. Kita ke perpustakaan saja." Terang Sakura sekenanya. Padahal dalam hatinya dia menjerit-jerit bahagia bisa membolos pelajaran terkutuk yang membahas cara menghitung mol-mol senyawa itu. *promo XP.

"Ngga ke kantin saja nih? Aku lapar banget." Balas Ino dengan mulut manyun.

"Tapi tas kita…" Potong Hinata.

"Udah gapapa. Ayo kita ke kantin, Hina-chan." Jawab Ino riang. Sakura mengikuti sambil menggelengkan kepala pada dua orang sahabatnya.

~~~;;OO;;~~~

Sesampainya di kantin, ketiganya duduk di bangku kantin paling ujung, supaya ngga ketahuan lagi bolos. Para penjual di kantin sih biarin aja. Toh mereka ngga peduli selama kita beli makanannya. Begitu kata Ino. Setelah memesan makanan, Ino menghampiri teman-temannya dengan penuh keceriaan.

"Eh, eh, eh, tahu ngga?" Tanya Ino.

"Ngga tahu dan ngga mau tahu." Ledek Sakura cepat.

"Yeee, ngga nanya sama kamu tahu! Mau denger ngga Hina-chan?" Pinta Ino manis.

"Boleh… Mau cerita apa, Ino-chan? Soal kejadian tadi pagi ya?" Terkaan Hinata langsung memerahkan wajah Ino. Rupanya benar ya, pikir Sakura.

"Hehehe, iya nih Hina-chan. Kamu bisa aja deh. Sebenernya, aku ngga tahu kalau Sai-senpai menjemputku tadi pagi. Aduh, aku kaget banget waktu liat motor ninja hitamnya nangkring di depan rumahku!" Cerita Ino.

"Yeee, emang kutilang apa nangkring segala." Sahut Sakura usil. Yang langsung dibalas tatapan kesal dari Ino. Sakura hanya terkekeh pelan. Lalu Ino beralih lagi pada Hinata,

"Waktu itu, aku baru aja bangun dan nyiapin sarapan buat papa. Makanya aku buru-buru dan ngga sempet sarapan. Aku mau ke kantin sehabis sampe disini, tadinya mau bareng sama kalian, eh tahu-tahunya kalian jam karet!" Wajah Ino menjadi merengut. Lalu dia melanjutkan lagi.

"Katanya Sai-senpai sih, dia bakalan nganterin aku pulang juga hari ini. Jadi… Maaf ya kalau aku ngga bisa ikut kalian cari kado buat Naruto-senpai." Jelas Ino lagi, ditatapnya wajah Hinata yang berubah datar.

"Ti.. Tidak apa-apa kok. Kurasa Sakura-chan bisa menemaniku. Iya kan, Sakura-chan?" Hinata menoleh pada Sakura. Berharap bahwa perkataannya akan disetujui.

"Iya. Aku akan menemanimu." Jawab Sakura pelan. Dalam hatinya, dia ingin sekali mencubit pipi Ino. Hebat benar dia mau mangkir dari janji yang dibuatnya sendiri. Padahal waktu Ino membuat janji itu kan, Sakura sudah bilang kalau dia sendiri tak bisa ikut karena harus les. Sudahlah, kasihan Hinachii. Gumam Sakura.

"E.. E.. Kalian tahu Sasuke ngga?" Tiba-tiba Ino mengalihkan pembicaraan. Tak enak rasanya kalau sahabatmu sedih sementara kamu senang.

"Siapa itu?" Jawab Sakura dan Hinata berbarengan.

"Dia itu artis di dunia maya lho." Ino berusaha menjawab semenarik mungkin, supaya Hinata dan Sakura tertarik.

"Artis? Paling fake." Raut wajah Sakura sedikit berubah, apa karena tadi aku membicarakan Sai ya? Gumam Ino.

"Engga kok. Sok tahu kamu, Saku-chan! Jadi cowok ini terkenal dengan musik aransemennya di Utube. Aku melihatnya, dan dia betul-betul keren. Kalian harus melihatnya deh." Seru Ino.

"Dia itu musisi, Ino-chan?"

"Tumben kamu maenan Utube, Inono. Biasanya kalo ga tweety ya Vestbook."

"Iya dia musisi, Hina-chan. Yeee, gini-gini gaul kali, Saku-chan. Emang kamu~" Ino membalas perkataan dua sahabatnya itu bertubi-tubi.

"Dia seperti apa? Kamu mengenalnya Ino-chan?" Tanya Hinata.

"Engga. Dia mah cuma penggemar nista-nya aja, Hinachii." Sahut Sakura.

"Sebetulnya aku tahu soal itu dari tweety sih. Hahaha- ditimpuk Sakura- Di trendtop tweety ada nama dia, ya udah aku klik aja." Kata Ino.

"Dasar ratu gossip."

"Iya lah, kayak Insert gitu loh."

"Sudah, sudah, Ino-chan aku mau dengar kelanjutannya." Potong Hinata.

"He'eh. Habis itu akunnya langsung aku follow. Tanpa disangka-sangka nih, dia follback! Ya ampun. Hebat banget.-

"Ngga usah pake curhat deh." Kata Sakura.

-Ugh, iya iya, Terus ya aku ajak ngobrol lha sama yang namanya Sasuke itu. Ternyata dia masih SMA lho. Sayangnya dia belajar di IKHS." Lanjut Ino lesu.

"Dia kelas berapa, Inono?"

"Kelas 10."

"Terusin deh."

"Hmmm, dia bilang aku suruh promosiin dia ke temen-temen aku." Ucap Ino mengakhiri pembicaraannya.

"Wah, kamu cuma dimanfaatin tuh, Inono! Soalnya follower kamu bejibun sih hahaha."

"Makasih. Follower ku emang banyak. Ngantri malah yang mau jadi followerku."

"Hahahaha, kasihan cuma dimanfaatin." Sakura melanjutkan tertawa keras sampai terkekeh-kekeh. Sementara wajah Ino sudah memerah dan Hinata tersenyum geli.

~~~;;OO;;~~~

Malam hari di kediaman Sakura. Cewek itu baru saja pulang dari mengantar Hinata mencari kado untuk Bakanii-nya, Naruto.

Sakura menjatuhkan diri ke kasur. Memikirka obrolannya tadi bersama Ino juga Hinata. Walaupun tidak mengatakan pada dua sahabatnya, sebenarnya, Sakura merasa penasaran sekali dengan cowok yang dibicarakan Ino. Memang betul sih, Sakura itu memang agak kuno. Walaupun dia tahu fasilitas jejaring sosial seperti tweety, tetap saja dia hanya turut meramaikan sedikit-sedikit. Tidak berpartisipasi penuh seperti Ino.

Mungkin aku akan coba melihat yang namanya Sasuke itu. Gumam Sakura.

Coba aku lihat di daftar follower Ino, tambah Sakura. Dia langsung membuka situs tweety di smartphone belekberi gemini-nya. Inoymnk: follower: MKHS_Smashblast, Hah! Anak itu suka smash rupanya. Eh, lanjut. Sasuke… Sasuke… Mana nih Sasuke? Oh, ini dia. Username-nya bukan Sasuke, tapi Laststand_Uchiha . Oke, follow. Sebentar dulu ah, mau mandi.

Dan gadis itu pun meninggalkan hp-nya di kasur lalu pergi ke kamar mandi. Selesainya mandi, betapa kagetnya dia ketika melihat tanda bintang pada aplikasi tweetynya. Apakah itu…

New DM! From: Laststand_Uchiha: Thanks udah nge-follow! Ini temannya Inoymnk ya? Salam kenal. Lihat lagu-lagu gue ya di blablablablabla.

What the! Si Sasuke ini malah ngirim dia DM! Wah, cepet banget ini orang tahunya.

Ah, ada satu pemberitahuan lagi rupanya. Lanjut Sakura. Dia mendapat balasan tweet dari Inono, Hinachii, Naruto dan Sasuke itu lagi!

Laststand_Uchiha: Hey, thank you very much to following. I just follback k? HarunoSakuChan.

Sepertinya Sakura akan menyukai kejutan tak terduga ini.

Chapter three::


HarunoSakuChan : Welcome~ the pleasure is all mine RT Laststand_Uchiha : Hey thank you very much .co/x/123.

Sakura tersenyum senang sesudah mengetik tweet baru di hp-nya. Tak disangkanya bahwa orang yang disebut-sebut Ino sebagai artis dunia maya itu, yang katanya ganteng itu, mau follback dan berbicara dengannya!

?]|_{;;00;;}_|[?

Pagi itu dihabiskan Sakura dengan penuh senyum. Bahkan godaan Naruto pun dibiarkan berlalu olehnya.

"Sakkun~ Kok kamu garing sih, hari ini? Ngga marah-marah aku godain." Tanya Naruto.

"Terserah (baka)nii-san mau ngomong apa. Tante Tsuna, Om Jira, aku pergi dulu ya." Sakura tersenyum melambai ke arah om-tantenya.

"Hati-hati di jalan, ya Sakura. Naruto, bekalmu harus dihabiskan! Jangan jajan ramen terus!" Jawab Tsunade. Naruto hanya bisa meringis mendengar perkataan ibunya, memang dia lebih suka makan ramen daripada makan bekal.

Hari itu Sakura berangkat bersama dengan Naruto. Sebetulnya itu memang sudah biasa. Hanya saja kemarin Naruto harus latihan pagi, jadi dia berangkat lebih dulu. Lebih dari itu, hari ini adalah hari spesial, yaitu hari ulang tahun Naruto. Hinata sudah menyiapkan hadiah, jadi Sakura harus menggiringnya (emang bola?) ke tempat yang tepat. Sakura meminta Naruto memberhentikan motor bajaj futsal birunya tak jauh dari kompleks sekolah mereka.

"Nii-san! Berhenti disini. Aku mau turun." Ucap Sakura.

Ckiittt…

"Ada apa Sakkun?" Sahut Naruto, membuka helmnya sedikit, menoleh ke belakang.

"Pokoknya aku mau turun. Tunggu sebentar." Ucap Sakura. Cewek itu mencari keberadaan Hinata yang rupanya bersembunyi di balik tembok. Sakura segera menghampirinya.

"Pa.. Pagi, Sakura-chan." Kata Hinata. Sakura meringis melihat wajah sahabatnya itu. Merraaah sekali. Pasti saat ini dia sedang grogi menghadapi sang pacar, Naruto.

"Ayo. Aku sudah membuat kesempatan ini. Kau hanya tinggal menyerahkan hadiahmu saja. Ayo, Hinacchi! Jangan takut…"Bisik Sakura untuk membuat Hinata tenang. Padahal isi hati Sakura sebenarnya…

"Semangat Hinacchi! Lemparkan saja kado itu ke muka bakanii! Ayo dilempar! ob" Dan penggambaran dimana Hinata memakai baju baseball sebagai ... Sakura berdiri di depannya sebagai pitcher yang memegang kado alih-alih bola baseball. *lho.

"Ano… Sakura-chan?" Ucapan Hinata menghapuskan isi hati Sakura, mengembalikannya pada kenyataan.

"Na,nani? Eh Hinacchi kau membuatku kaget… Nah, ayo tunggu apa lagi." Sakura mencoba untuk membuat Hinata tenang. Tapi ternyata keadaannya malah semakin buruk. Akhirnya Sakura mendekatkan dirinya ke telinga Hinata, membisikkan sesuatu yang membuat pemilik mata lavender itu terkejut. Diam sebentar tetapi langsung melangkahkan kakinya ke arah Naruto.

Dimana Naruto sendiri mulai bosan dan hampir turun untuk mencari Sakura, namun terkejut menatap kekasihnya yang menclok entah darimana. XD.

"Hina-hina! Kamu datang darimana? Kok tiba-tiba ada di sana kayak kunti sih? Hehehe…" Gombal Naruto.

"Ano.. Naruto-senpai, otanjoubi omedetou …" Ucap Hinata akhirnya. Naruto sedikit kaget namun langsung tersenyum dan memeluk Hinata. Hinata gelagapan, tak tahu akan diperlakukan begitu. Naruto hanya terkekeh ria. Di sisi lain, Sakura memperhatikan semua kejadian yang ada. Akhirnyaaa… Dukung Sakura dari balik tembok. Dia sedikit kesal melihat sahabat juga kakak sepupunya yang kelihatan mesra itu.

"Haaa… Kapan aku bisa begitu." Lirih Sakura. Kemudian dia menatap hp-nya. Teringat dengan tweet dari Sasuke yang dibicarakan Ino kemarin. Raut wajahnya langsung berubah dan tersenyum. Ditinggalkannya Hinata dan Naruto yang asyik berbincang ria.

?]|_{;;00;;}_|[?

Sakura memasuki ruangan kelasnya santai. Sosok Ino ditemukannya di sudut kelas bersama pacarnya tersayang, Sai-senpai. Padahal cowok itu kan sekolah di tempat yang sama dengan kakak sepupunya, KHS. Tapi kok sempat-sempatnya datang ke sini. Pikir Sakura sebal. Ino dan Sai-senpai memperlihatkan kebahagiaan tingkat dewa. Sai malah enak-enak mengumbar kemesraan di hadapan adik-adik kelasnya. Mood bahagia Sakura langsung terlonjak ke dalam inti bumi. Padahal sebelumnya dia berniat menceritakan Sasuke kepada Ino. Sekarang Ino sudah tak punya waktu lagi untuknya. Sakura mendesah berat. Walaupun dia senang sahabatnya mempunyai kekasih, bukan berarti dia senang karena waktu mereka bersamanya berkurang. Sama sekali tidak senang. Melepas Hinata sewaktu kakak sepupunya menyukainya saja sudah cukup berat. Apalagi fakta Ino menyusulnya. Sakura berdiri hampa di depan pintu kelasnya.

"Hai, Sakura~" Seorang cowok berambut ala mangkok berdiri dengan kondisi kurang dari sejengkal dengan muka Sakura. Sakura langsung mendaratkan bogem mentah pada cowok di hadapannya.

"Aww… Sakura, kok gue dipukul sih?" Ucap cowok itu. Sakura hanya bergidik dibuatnya. Cowok itu adalah Lee. Namanya sih merujuk ke ras Cina. Cina benteng bawah tanah kali ya. Sebenarnya Lee sangat baik, Sakura tahu benar akan hal itu. Tapi yah, cowok itu ngebet sekali pada Sakura. Membuatnya tidak nyaman. Karena itu Sakura baru bisa menganggap Lee teman biasa.

"Ma, maaf. Habis elo dateng tiba-tiba sih." Sakura membiasakan dirinya berbicara dengan bahasa gaul. Itu kan karena Lee bukan apa-apanya.

"Masa sih?"

"Kishimoto?"

"Yee, bukan itu maksudnya… Emang iya gue dateng tiba-tiba? Elonya aja yang bengong terus, Sakura.. Elo ngga nyadar kalau tadi lagi ngelamun kan? Jelas Lee. Tangannya mengusap-usap pipinya yang memerah nan nyut-nyutan terkena pukulan Sakura.

"Gue bengong? Oh, iya kali…" Sakura merasa orang terbodoh saat ini. Sudah bengong, sedih, yang bisa buat pelampiasan (curhat) kayak begini –Lee maksudnya-, dunia ngga adil! XP.

"Elo lagi ada masalah? Cerita aja. Pasti gue bantu." Tambah Lee. Tuh, benar kan? Lee itu terlalu baik. Gumam Sakura dalam hati.

"Cuma kesepian aja, gara-gara Hinata sama Ino udah punya gandengan." Terang Sakura.

Lee menatap penuh harapan, "Gandengan sama gue, mau?"

Sakura berekspresi seolah langit rubuh, "Ngga, makasih." Dia menutupinya dengan tawa. Bercanda, supaya Lee tidak merasa terluka. Lee memperhatikan muka Sakura. Senyum gadis itu tidak tulus. Ruoanya memang sedih. Hanya tidak diperlihatkannya saja.

"Bolos kelas yuk."

"Haaah?" Sakura terkejut mendapati lengannya sudah diapit oleh Lee. Menyeretnya menjauh dari kelasnya sendiri. Dengan itu berarti dia sudah membolos dua kali. Keren betul Sakura ini. Lee mengajaknya ke perpustakaan. Beruntunglah karena Sakura dan Lee ikut membawa tas mereka. Kalau tidak, keberadaan mereka akan dicari oleh sensei. Sakura memutuskan untuk pasrah saja, karena sebenarnya dia pun tak mau mendapati Ino curhat padanya tentang Sai.

"Padahal kita mau menghadapi kelulusan, kok bisa-bisanya bolos seperti ini ya. Hahaha" Canda Lee. Sakura tersenyum miris.

"Sebenarnya kemarin gue juga bolos lho." Ucap Sakura ringan. Mood-nya sedikit membaik karena ada Lee. Enaknya kalau ada teman bicara bebas seperti ini. Bukan tentang cinta yang tak disukainya itu.

Lee terkejut tapi tampak tertarik. "Sakura? Ternyata elo…-

"Apa?" Tantang Sakura.

"Lebih bandel daripada yang gue bayangkan." Lee tersenyum nakal. Sakura membalasnya dengan pura-pura sok,

"Begitulah… Sakura ini memang biasa mangkir… Hidan? Oro? Bukan tandinganku…" Lee tergelak mendengar Sakura menyebut beberapa nama guru killer mereka. Terkenal akan kedisiplinan dan keanehan masing-masing. Keduanya asyik mengobrol tentang guru-guru mereka. Dan bel pun berbunyi, tanda jam pelajaran pertama sudah berakhir. Sakura dan Lee bergegas merapihkan barang-barang. Mereka memang tidak niat membolos satu hari penuh. Lee akan ke kelas seni, sementara Sakura ke kelas PKK.

"Lee." Panggil Sakura.

"Iya?"

"Terimakasih." Ucap Sakura tulus.

"Untuk apa?" Tanya Lee.

"Karena sudah mengajariku bolos yang benar. Hehehe. Aku duluan ya." Jawab Sakura pada akhirnya. Dia meninggalkan Lee yang menatapnya penuh kasih.

?]|_{;;00;;}_|[?

Sakura masuk ke ruang PKK yang masih kosong. Anak-anak yang memakai kelas itu sebelumnya memang sudah keluar, tapi anak-anak dari kelas Sakura sendiri belum ada yang datang. Jadilah dia membuka hp-nya lagi karena tak ada kerjaan.

New DM!

Wah, ada DM baru di tweety. Dari siapa ya? Sakura segera menekan pada simbol surat di layarnya.

RL_33 : to HarunoSakuChan : Lain kali, makan bareng gue sebagai tanda terimakasih tadi pagi ya!

RL_33 adalah username-nya Lee. Rupanya dia minta balasan nih. Sakura bukan orang yang suka mangkir dari membalas budi, dia langsung mengetikkan balasan pada Lee.

HarunoSakuChan: to RL_33 : Boleh. Enaknya makan apa ya?

Kirim. Sakura melihat balasan-balasan tweet yang dikirim untuknya. Kebanyakan dari Ino juga Hinata.

Inoymnk : Kamu ada dimana, pinky? HarunoSakuChan.

IHinata: Sakura-chan? Kamu lagi ada dimana? Kelas sudah masuk. HarunoSakuChan.

Inoymnk: pinky~ Aku ada di kelas sama Sai-senpai nih! Cepetan dateng dong, mau cerita…HarunoSakuChan

IHinata: Sakura-chan, kok kamu ninggalin aku sih? HarunoSakuChan.

Blablablablablabla.

Sakura merasa bersalah ketika melihat kedua sahabatnya yang khawatir. Sama seperti mereka, Sakura sendiri pasti merisaukannya jika itu terjadi pada sahabatnya. Betapa egoisnya dia. Saat ini yang penting adalah persahabatan! Masa bodoh dengan pacaran! Pikir Sakura.

Ino dan Hinata nampak di kejauhan lorong kelas. Sakura langsung keluar dan menghambur ke arah kedua sahabatnya itu. Yang jelas sekali kaget.

"Ehhh, ini dia anaknya. Pinky, kamu kemana aja sih?" Bentak Ino.

"Syukurlah Sakura baik-baik saja…" Ucap Hinata.

Sakura tidak peduli. Dia sangat senang dengan perhatian teman-temannya. Tak ada yang membuatnya gundah. Kecuali…

"Sakura-chan, kamu dapat kelas tambahan lho… Hari ini." Jelas Hinata.

"Pelajarannya Oro-sensei tercinta lhooo, pelajaran bahasa Inggris~" Tambah Ino.

Sakura pundung di pojokan.

Chapter four::

Seorang cewek bermata medium aquamarine memain-mainkan pensilnya malas. Tapi sosok guru di hadapannya membuatnya kembali bersikap rajin. Dilihatnya segan soal-soal bahasa planet (menurut Sakura) di hadapannya.

Look at the dialogue and choose the correct answer from the question below!

I.U: Hey, brother. Would you give me birthday present?

S.U: Sure, what do you want? Lotion anti aging? *semoga kalian mengerti XP. *

What does the sentences express of?

Apaan nih? Perasaan ngga ada yang kayak gini. Memang ada pengungkapan ajakan, tapi ini lebih mirip… permintaan. Lagipula kenapa soalnya aneh begitu? Pikir Sakura. Pandangannya turun ke soal berikutnya. Sikapnya lebih luwes melihat guru rambut hitam panjang-nya keluar dari kelas.

Read this paragraph then answer the question!

K.H walks through the window slowly. He might wake up people if he's too much make noise .Then, after he find anything fine, he open the book. That orange book. He looks so serious but that's not true. Actually he's full of 'naughty' dream about that book. *semoga kalian tahu yang kumaksud XD.*

What is the paragraph discussed about?

Sakura mengernyitkan alisnya. Sebenarnya pertanyaannya normal. Tipikal soal inggris untuk anak kelas 9. Tapi kok wacananya semuanya aneh sih? Sakura merutuk pada sang pembuat soal, maharaja Oro-sensei. Sakura melengos. Padahal dia anak pintar. Bukannya sombong, tapi dia memang suka belajar. Tapi khusus untuk pelajaran bahasa seperti ini dia akan menyerahkan seluruh pekerjaan itu pada Ino. Dia lebih jago. Sakura sendiri lebih suka biologi. Berhubung itu sangat selaras dengan keinginan masa depannya kelak. Ya,ya,ya. Mungkin kalian sudah tahu kalau Sakura ingin menjadi ahli kesehatan masyarakat. Bukan dokter, tapi lebih kepada sukarelawan bencana/ daerah terpencil. Sakura asyik melamun sampai kaget tak karuan ketika seseorang menggebrak meja-nya.

BRAK!

"Hoiii, pinky~ Bagaimana kesan 'kencan' sepulang sekolah-nya? Hihihihi." Rupanya itu Ino, bersama Hinata. Datang-datang ngagetin dan ngejek orang. Betul-betul sahabat yang aneh. Cakep-cakep kok begitu. Pikir Sakura.

"Apa sih, bukannya kau ada kencan dengan Sai-senpai?" Ucap Sakura tajam. Padahal sebetulnya dia senang kedua sahabatnya datang, menyelamatkan dari bencana yang menggulungnya bagai tsunami 10 meter. Di hatinya dia sudah sujud-sujud di depan sang penyelamat, berterimakasih karena membawanya pergi ke nirwana. XP.

"Ma.. Maaf Sakura-chan. Tadi kami ditugaskan sebentar oleh KillerBee-sensei.- Hinata berusaha menjelaskan. Alis Sakura terangkat naik. Tak menyangka mereka diberi tugas oleh sang guru olahraga sekaligus wali kelas mereka yang super nyentrik dan berkulit coklat itu.

-Kami diminta membeli bola voli. Katanya yang lama sudah rusak…" Lanjut Hinata. Tangannya bermain gelisah. Pasti Hinacchi takut aku marah. Pikir Sakura.

"Benarkah? Kalau begitu ngga sabar untuk main voli di pelajaran olahraga besok ya!" Sahut Sakura dengan kegembiraan yang berusaha dibuatnya. Dia tak mungkin membiarkan sahabatnya sedih. Meski yah, memang dia kesal saat mereka meninggalkannya sih. Ino menangkap maksud Sakura dan menepuk pundak Hinata pelan. Tanpa diduga, sang pemilik rambut Indigo malah terlonjak keras sampai mengucapkan kalimat patah-patah,

"Ru, rubah, eh, ru-bah!"

Sontak Sakura dan Ino tertawa karenanya. Mereka terus tertawa meski Hinata sudah menunduk sambil menggoyang-goyang lengan Ino karena malu dan kesal. Dia memang tipe melamun.

Keadaan menjadi seperti biasa. Sakura sudah melupakan peristiwa sahabat dengan kekasih mereka. Yang ada hanya derai tawa serta canda melingkupi ketiganya. Ino membantu tugas Sakura, ikut mengernyitkan muka ketika membaca soal. Hinata pun begitu. Tapi tak usah dirisaukan. Mereka terlarut dalam kegembiraan persahabatan itu.

Di luar kelas, sosok remaja laki-laki berambut mangkuk menghela nafas. Baru saja dia ingin masuk ke kelas, menyapa gadis-nya. Tapi rupanya sang gadis sudah ditemani orang lain. Melihat raut mukanya yang gembira, dia bersyukur. Rupanya kesedihan itu terangkat sudah. Kini dia akan pergi, kehadirannya cukup sampai di situ. Untuk hari ini.

_-``,,'';;00;;'','``-_

"Sakura-chan, tadi kamu bolos kemana? Untung si onnaotoko* itu ngga bilang-bilang lho ke killerbee. Kalau ngga, habis kamu kalau dilaporin ke tante Tsunade!" Kata Ino tanpa henti. Sakura memandangi teman berambut Lemon chiffon yang tengah duduk di kamarnya. Sore hari ini, mereka hendak belajar bersama. Maklum, mereka kan satu kelas.

"Tadi aku sama Lee." Jawab Sakura singkat. Matanya terpaku pada soal-soal tambahan dari oro-sensei. Entah guru itu curiga atau apa setelah melihat lembar jawaban siang tadi sampai memberinya tugas lagi. Yah, aku minta bantuan Inono sih, hehehe. Pikir Sakura.

"Haaaa? Cieeee, Hina, kamu denger ngga? Sakura sama, euph! Hahula! Hamu Ngaphahin?" Ino setengah berteriak dan Sakura terpaksa membungkamnya dengan menyumpalkan donat ke dalam mulut cewek itu. Jelas saja, dia berteriak pada Hinata yang saat ini tengah mengobrol dengan Naruto di kamar sebelah. Kalau bukan sahabatku, kamu aku pukul sampe ke Arab nih! Sakura merutuk kesal.

"Kecilkan suaramu sedikit, aho! Kami hanya mengobrol biasa. Bukan seperti yang kau pikirkan!" Sakura jadi hampir berteriak.

"Amm, amm, harusnya kau jelaskan tadi, pinky. Aku kan jadi salah paham. Amm, amm. Donat ini enak juga. Rendah lemak ngga nih?" XP.

Sakura menenangkan aliran nafasnya. "Dia… Maksudku Lee banyak bercanda. Dia baik sekali mau menghiburku." Kata Sakura pelan.

"Menghibur? Memangnya ada apa denganmu, Saku-chan?" Tanya Ino khawatir. Sakura menyadari salah katanya. Dia langsung mengalihkan perhatian namun Ino mendesak.

"Hah? Itu lho, si Hidan. Dia nyuruh aku bawa peralatan lab sendirian. Parah kan? Padahal aku cewek, hehehe…"

"Sakura?" Alis Ino mengkerut, tanda bahwa dia belum percaya perkataan sahabatnya.

Duh, gawat dia serius. Ngga bisa diboongin. Mana mungkin aku bilang aku iri dengan kemesraan Inono juga Hinacchi. Sakura berpikir panik, apa yang harus dia katakan? Sementara Ino terus menatapnya dengan pandangan ' cepat katakan kalau kau tidak mau kukelitik' XP. Sakura mencari topik yang ada di kepalanya dengan cepat. Apa ya, apa ya, oh iya itu saja!

"Inono, si Sasuke follback aku lho." Ucap Sakura akhirnya. Pernyataan tanpa basa-basi itu sukses membuat Ino terdiam. Dia sedang mencari sebuah kata bernama Sasuke di kepalanya.

"Sasuke maksudmu Sasuke yang kuceritakan kemarin?" Tanya Ino masih bingung.

"I, iya! Yang akun tweety-nya (at)Laststand_Uchiha. Dia follback aku juga lho!" Jawab Sakura.

"Hah, bohong. Katanya kamu ngga tertarik… Eh, tahu-tahunya malah nyari dia di tweety. Hahaha dasar ngibul." Ucap Ino beserta nada mengejek. Sakura mencoba memanyunkan bibirnya supaya terlihat kesal. Padahal dia senang bisa mengalihkan perhatian Ino. Anak perempuan itu memang ngga bisa dilepaskan dari gossip cowok ganteng. XD.

"Ya, aku kan penasaran… emangnya ngga boleh? Tapi dia emang ngga basa-basi ya. Habis itu, dia mention aku lho, Inono!" Terang Sakura. Dia mulai mengimbangi dengan kenyataan sebenarnya. Ino terkejut dan mendekat pada Sakura.

"Beneran? Hebat banget. Padahal yang follow dia kan banyak lho, pinky. Sehari bisa nambah 50-100 orang. Kamu ngga bercanda di mention sama dia? Bukan kamu yang mention duluan? Aku aja kayak gitu." Ino masih kurang yakin pada Sakura, mengambil belekberi milik Sakura yang asyik tidur-tidur di atas meja belajar. Dia segera membuka aplikasi tweety lalu melihat daftar mention. Sakura menggeleng, dia ngga bohong kok. Lihat saja di hp-nya. Ino berbalik, menatap Sakura hp sang gadis berambut pink tersebut.

"Sasuke ngebalas." Dua kata simpel. Sakura bergegas mengambil hp-nya dari tangan Ino.

(at)Laststand_Uchiha: Allright~ So, how bout gathering? Reply me in DM k? RT (at)HarunoSakuChan : Welcome~ the pleasure is all mine.

Apaaa? Sasuke mengajaknya kopi darat? OMG OMG beneran nih? Pikir Sakura. Belum lagi rasa kagetnya selesai, dia melihat sebuah DM baru dari Sasuke lagi. Isinya nomor telepon Sasuke! Sakura menggelinjang senang walau bingung. Kenapa orang ini sangat perhatian padanya? Padahal mereka baru saja berkenalan…

"Hoi… Pemberhentian selanjutnya, dunia nyata~ Terimakasih sudah membiarkan kami cengo sementara anda asyik main tweety~" Sakura menoleh. Ino memasang tampang cemberut di hadapannya. Sakura meringis. Memang tadi dia terlarut dengan hp-nya, membiarkan Ino menunggu.

"Hehehe, Sasuke ngajakin aku gath…"

"Apaaaa?" Ino berteriak. Sakura menutup kupingnya. Dan pintu kamar terbuka.

"A, ada apa Ino-chan, Sakura-chan?"

"Sakkun! Kau baik-baik saja?"

Sakura menatap aniki dan sahabatnya. Pastilah suara Ino membuat mereka datang. Dia menjelaskan pelan apa yang terjadi supaya mereka tenang. Tetapi Hinata jadi ingin bersama Sakura serta Ino. Wajah kecewa Nampak di muka Naruto. Karena mereka sedang menikmati kebersamaan di hari ulang tahunnya itu, Hinata ingin meninggalkannya. Maafkan aku nii-san. Pikir Sakura.

"Na, nanti akan ada makan malam spesial untuk Nii-san. Hinacchi dan Inono ikut ya?" Ucap Sakura menenangkan suasana antara kaget, cemas, juga kecewa di kamarnya. Hinata dan Ino mengangguk. Naruto keluar kamar dengan perasaan sedikit senang. Sakura sontak mengikuti sepupunya itu keluar kamar sebentar.

"Nii-san, maaf jadi begini." Ucap Sakura penuh penyesalan. Begitu-begitu dia tetap sayang sepupu aneh-nya ini.

"Tak apa-apa Sakkun. Lain kali jangan tinggalkan Hina-hina sendirian ya. Dia kan tidak mau kuantar sampai depan sekolah." Ucap Naruto sembari mengusap kepala Sakura. Sakura teringat kejadian saat Hinata menyerahkan hadiah untuk Naruto dan tertawa malu. Dia meninggalkan aniki-nya begitu cowok itu turun ke bawah. Sakura masuk melihat Ino serius berbicara sementara Hinata mengangguk-angguk mendengar penjelasan Ino. Sakura menatap heran. Sedang apa mereka?

"Sakura." Panggil Ino.

"I, Iyaa?" Ucapan Sakura jadi terbatah-batah layaknya Hinata.

"Kami sudah memutuskan.- Sakura mendengarkan dengan cermat.

-Kalau kami tidak akan membiarkanmu dekat dengan Sasuke ini." Akhiri Ino. Kini Sakura yang bengong. Tak mengerti dengan kedua sahabatnya. Memangnya kenapa kalau dia dekat dengan cowok? Padahal dua sahabatnya memiliki pacar. Apa maksudnya?


Bersambung....

Maaf alur super lambat. Jujur-jujura nih, saya mau membuat akhirnya.... aneh. Tolong review dan flamenya!




Quote
Like
Share