I Haven't Met You Yet

Deleted User
Deleted User

December 23rd, 2011, 5:33 am #1

I Haven't Met You Yet
Author: Sky's Inquisitors
Fandom: Hetalia Axis Powers
Character: America dan England
Genre: Humor/Drama
Disclaimer: Hetalia Axis Powers (c) Himaruya Hidekaz FF 13 (c) Square Enix
Rated: T
Summary: 'Bila bersedia, tolong kembalilah ke toko kami. Saya yakin anak itu
juga menunggu anda.' dan meninggalkan sang American ditengah-tengah alunan
musik Jazz. USUK/Brotherly!KikuAsa/AU/Explicit Languages
Status: On going
Di kota ini, tak mungkin tak ada yang tak kenal dengan Alfred F. Jones.

Si playboy super kaya, dengan segala pesona dan semua yang sangat diidamkan semua orang di kota metropolitan super sibuk. Sepertinya diantara sekumpulan orang-orang yang berdomisili di kota tersibuk di dunia ini, Alfred F. Jones mungkin adalah satu dari sekian banyak orang yang tinggal di New York, yang mampu bangun lewat dari jam sembilan pagi dan menjalani hari-hari dengan mengencani gadis-gadis modis yang lewat di sepanjang jalannya.

Ah, betapa bahagianya hidup seperti ini.

Seperti biasanya, di pagi hari, Alfred F. Jones, seorang American sejati ini, akan pergi keluar dari penthouse mewah miliknya, lalu berjalan menuju kedai fast-food di depan rumahnya untuk membeli sarapan, dan kembali lagi ke kamarnya untuk memainkan Final Fantasy XIII yang belum ia tamatkan sejak tiga minggu yang lalu.

Dan setelah dirinya merasa bosan, ia akan beranjak keluar dari penthouse lagi, dan mencari sasaran kencan berikutnya. Baik perempuan-atau lelaki-akan langsung ia comot, bawa ke tempat tidur, dan pada esok harinya ia akan berkata "Sampai jumpa" dan tak akan bertemu lagi dengan siapa yang ia tiduri semalam.

Dan setiap hari seperti ini, lagi dan lagi. Rutinitas yang tetap sama, dengan kejadian yang sama. Seks bebas, cinta satu malam, fast food, dan Final Fantasy, sudah menjadi bagian dari keseharian Alfred F. Jones yang seakan tak pernah berhenti. Sebuah kondisi ideal yang sangat menjadi impian sejuta umat di dunia ini... ah, mungkin semilyar umat.

Masalah uang? Ah siapa peduli?

Setiap bulannya ia akan mendapat uang yang cukup banyak. Belum lagi 'uang saku' yang akan ditransfer oleh orang tuanya per bulan dengan jumlah yang… oke, katakan saja, tiga kali lipat dari gaji bulanannya.

Pada intinya dia tak harus bekerja lagi kan?

Namun dirinya yang terlalu naïf, yang selalu meng-klaim bahwa ialah sang hero incarnation dari sebuah komik produksi Marvel, sehingga ketika dulu sekali, ia pun memutuskan untuk mengambil jurusan Aeronautics and Astronautics di MIT dengan ambisi menjadi salah satu astronot tersohor NASA.

Dan kini, ia hanya duduk di rumahnya, sembari memainkan Final Fantasy XIII miliknya dengan santai, selagi menunggu misi baru. Dan di saat yang sama, ia tetap menerima gaji serta uang jajannya. Sebuah hidup yang sangat nikmat, makmur, damai, dengan junk food dan video games.

Benar-benar mimpi semilyar umat.

I Haven't Met You Yet

First chapter: Hidup seperti ini, sungguh, terlalu indah

Hetalia : Axis Powers © Hidekazu Himaruya

WARNING:AU, bahasa-bahasa eksplisit, sexual references... yeah, it's France, anyways.

Now Playing – Empire State of Mind by Jay-Z ft. Alicia Keys


Hidup seperti ini, sungguh, terlalu indah.

Hanya dengan menekan remote TV, lalu menonton berita membosankan ala kadarnya. Setelah itu, mengganti mode TV menjadi mode AV, dan menyalakan PS3, setelah sebelumnya memasukkan CD Final Fantasy XIII untuk dilanjutkan ke stage berikutnya. Mungkin ketika lapar, tinggal keluar kamar penthouse saja dan pergi membeli sebungkus atau dua bungkus junk food di toko depan sana.

Dan seperti itulah hari-hari seharusnya berlalu.

Namun pada pagi kali ini, Alfred F. Jones akan melakukan sebuah perubahan dari rutinitas idaman semilyar umat di dunia ini, dengan mengunjungi seorang temannya. Ia baru saja menerima telepon dari seorang Frenchman mengenai kehebohan sosok pemuda-yang memang kenyataannya-pervert supaya sang American yang dimaksud bisa sesegera mungkin ke rumahnya.

Sang American menjepit telepon genggamnya diantara telinga dan bahu kanannya, sembari memakai jaket musim gugur miliknya, "Ah, Francis. Kau benar-benar harus membayar waktu kehilanganku bermain Final Fantasy XIII hari ini dengan sesuatu yang benar-benar berguna! Bukan semacam sex video seperti yang kau tunjukkan kemarin atau..."

"Non, non!" dari balik telepon tersebut, terdengar suara seseorang berbicara dengan aksen Perancis-nya yang kental, "Kupastikan bahwa yang kali ini tidak akan seperti itu! Kali ini sesuatu yang berbeda, mon ami!"

"Sampai hal-hal yang tak ada intinya lagi, aku benar-benar tak akan berhubungan denganmu lagi, Bonnefoy."

"Percayalah cherié, kali ini tak ada hubungannya dengan hal-hal intim yang menjadi stimulus-ku setiap hari itu~ malah aku ingin menunjukkan padamu temuan terbaruku."

Oke, ini cukup aneh.

Calon astronot-seperti dirinya-yang berasal dari Perancis bernama Francis Bonnefoy, yang terkenal dengan hal-hal 'intim' yang bisa ia paparkan pada siapa tanpa merasa malu karena mengaku sebagai salah satu wujud "Afeksi untuk menyebarkan cinta pada seluruh dunia" yang satu ini, berkata bahwa ia tak akan membahas sesuatu yang berhubungan dengan seks dan sebagainya? Jangankan Alfred, bahkan mungkin semua orang yang mengenal Francis juga pasti akan mengerti mengapa hal ini mampu membuat orang semacam tetangga Francis yang bermuka horor dari Swedia itu mengerutkan alisnya karena keheranan.

"Sehubungan dengan tesis? Pekerjaan? Atau bagaimana?"

"Tak akan jauh-jauh dari hal pekerjaan." Suara Francis terdengar meyakinkan, "Bahkan, kurasa kau akan sangat menyenangi yang satu ini. Salah satu bidang favorit dan kegilaanmu, mon cher."

Yang menarik bagi Alfred F. Jones... hmm...

Mungkin tak jauh-jauh dari soal video games, seks, cinta satu malam, junk food, sindrom playboy, majalah playboy, dan sebagainya. Dan yang diketahui oleh sang American ini mengenai sosok Frenchman yang meneleponnya juga tak jauh-jauh dari hal-hal yang sudah disebutkannya tadi. Apalagi kalau sudah membicarakan tentang wine dan wanita-wanita serta pria-pria manis, Francis Bonnefoy akan segera semangat 100%.

Masih menjepit telepon genggamnya diantara telinga dan bahunya, Alfred mengunci pintu penthouse-nya, lalu pergi ke arah lift pribadi yang dikhususkan hanya untuk lantai milik Alfred, kemudian menekan tombol menuju lantai satu, sementara semenjak tadi ia hanya bisa menjawab dengan gumaman selagi Francis -mendadak sedikit out of topic mengenai pembicaraan awal mereka- membahas tentang perempuan cantik berdada besar yang mereka temui beberapa hari lalu, "Baik, baik. Francis, kau mulai meleset dari topik perbincangan kita. Lalu katakan sekarang, apa penemuanmu kali ini?"

"Sesuatu yang akan membuatmu senang, tentunya!" Francis tertawa girang dari balik telepon, "Kalau kau kemari, nanti kau akan segera melihatnya, dan selanjutnya, kau pasti akan berkata padaku bahwa aku ini orang Perancis terhebat yang pernah kau jumpai!"

Oke, kali ini Alfred benar-benar sudah tak tahan dengan rasa penasarannya, "Haa, terserah kau saja lah! Aku sudah tak tahan, dan sekarang aku ingin menyetir, jadi aku permisi dulu," dan tanpa menunggu jawaban lebih lanjut dari sosok Frenchman yang berada di seberang sana, Alfred telah menutup teleponnya. Ia men-starter Ferrari hitam miliknya, dan deru mesin yang terkesan berat mulai terdengar, lalu membawa mobilnya keluar dari gedung parkir penthouse tersebut.

Alfred F. Jones memacu gas mobilnya. Kecepatan dalam speedometer telah tertulis sebesar 70 km/h. Dalam hal-hal seperti ini, ia harus berterima kasih karena pada hari itu, jalan raya tergolong agak sepi, dan sepertinya polisi atau kamera-kamera pengawas di jalan raya tak begitu memperhatikan Ferrari yang tengah berpacu di jalan raya ini. Francis memintanya untuk segera datang, dan sang American tahu, bahwa laki-laki mesum satu itu tak senang menunggu terlalu lama, atau jika tidak, Alfred benar-benar bisa melewatkan bagian yang menyenangkan, jika hal yang ditunjukkan Francis benar-benar hal yang... "menyenangkan" dirinya.

Pemuda berusia 26 tahun ini masih bertanya-tanya sepanjang perjalanannya, apa gerangan yang hendak dipertunjukkan oleh Francis? Hari ini hari Rabu, dan pemuda penggila wine satu itu tak biasanya memanggil di hari-hari seperti ini. Sebab Francis berbeda dengan Alfred. Walau pun mereka berasal dari lulusan yang sama ketika kuliah dan hingga sekarang pun bekerja di satu tempat yang sama, Francis masih sering masuk ke kantor karena ia bisa menggoda beberapa wanita-wanita cantik di kantor cabang NASA, walau sepertinya khusus untuk hari ini, Francis memilih untuk tinggal di rumah.

Yang sebenarnya bagi Alfred, tak ada yang menarik perhatiannya. Baik para wanita, apalagi Francis sendiri.

Beberapa saat kemudian, Alfred telah memarkir Ferrari hitam kesayangannya di dekat kompleks apartemen Francis. Francis tinggal di sebuah penthouse yang mewah, walau tak semewah Alfred, namun berlokasi lebih dekat menuju kantor cabang tempat Francis dan Alfred-sebenarnya-harus melapor setiap sebulan sekali. Alfred mengunci mobilnya, lalu dengan bergegas, ia berlari masuk ke dalam apartemen tersebut. Masih terus berlari, ia memasuki lift di apartemen itu.

'Lantai paling atas, kamar Francis di lantai 38...' ia menatap pada deretan tombol-tombol yang berada di lift. Betapa terkejutnya Alfred ketika ia melihat pada deretan angka lantai pada lift, tak ada nomor 38. Yang tertinggi hanyalah sebatas nomor 35. Kesal, Alfred memukul deretan lift tersebut dan segera keluar dari lift. Matanya tertuju pada sebuah pintu dengan lambang orang berlari dari tangga.

Sebuah tangga darurat.

Alfred menelan ludah, lalu membuka dengan kasar pintu tangga darurat tersebut.
"Haah... haah..."

Desah nafas yang familiar terdengar dari sang American yang 5 menit kemudia berhasil mencapai lantai 37. "Masih... satu lantai... lagi..." dengan ling-lung, ia menaiki satu demi satu tangga yang ada. Tangga yang akan membawanya hingga ke lantai 38, kamar Francis Bonnefoy sialan satu itu, yang tak memiliki akses lift ke penthouse-nya sendiri. Alfred bersumpah dalam hatinya, setelah rasa penasarannya terselesaikan, ia pasti akan melabrak Francis mengenai ketidakhadiran lift menuju lantai 38.

Sebuah pintu kayu yang besar telah menghiasi pintu masuk menuju kamar Francis Bonnefoy. Alfred mendesah, sebab akhirnya, perjuangannya untuk mencapai lantai 38 berhasil ia tuntaskan. Ia menggedor pintu kamar Francis, dan beberapa saat kemudian, menemui Francis dengan tampang yang sedikit kebingungan, lalu segera memasuki penthouse Francis setelah ia dipersilakan masuk.

"Hei, Alfred!" Francis menyapa dengan girang kepada Alfred, "Tak kusangka kau datang lebih cepat dari perkiraanku! Sudah tak sabar kah dengan temuanku yang terbaru?"

"Ya sudah, ayo cepat beritahu penemuan terbarumu!"

Francis Bonnefoy. Sosok mistis sepantaran Alfred yang entah mengapa bisa sedemikian mesumnya, tertarik pada hal-hal berbau ilmu pengetahuan dan gemar meneliti. Alfred hanya bisa menanti sabar akan apa yang hendak dipertunjukkan oleh Francis pada kali ini. Dengan perasaan berdebar-debar, Alfred melihat gerakan Francis yang tengah mengorek sesuatu dari kantongnya.

Sebuah... kotak.

"Apa itu?"

"Ini?" Francis mengocok kotak tersebut, "Ini adalah kondom termutakhir buatanku! Sudah dijamin akan keamanannya, dan yang pasti, tidak akan jebol!"

"...lalu mana temuannya?"

"Ya ini temuanku."

Krik krik krik...

"Eh, Al," Francis tersadar akan sesuatu, menghancurkan lamunan Alfred, "Kau habis berlari?"

"Egh... begitulah..." Alfred mengusap keningnya yang bercucuran keringat,

"Dan kenapa kau masuk lewat tangga darurat..."

"Oh iya! Aku harus memprotes mengenai apartemen sialan-mu yang satu ini! Melelahkan sekali ke apartemen-mu! Mana tak ada lift untuk ke kamarmu ini pula! Bagaimana sih..."

"Emm..."

"Kau tahu? Apartemen-mu ini payah sekali! Aku jadi prihatin padamu, bagaimana kau bisa memiliki kamar semewah ini tapi tak ada lift satu pun untuk menuju kamarmu? Kau tahu kan kau tinggal di lantai paling atas, dan..."

"Al..."

"...kenapa kau tak melapor pada pemilik apartemen ini? Heh, aku jadi lebih prihatin lagi pada orang-orang yang mengangkut barang-barangmu hingga lantai ini! Dan kau tahu, kau cukup bodoh juga karena memilih apartemen yang tak memiliki akses lift ke lantai paling atas! Masih juga memaksa untuk tinggal di penthouse yang sama sekali tak berkelas seperti ini... parah, parah sekali kau..."

"Alfred F. Jones."

"Apa!"

"Lift untuk ke lantai 38 ini khusus, dan hanya bisa dioperasikan olehku, kau lupa ya?"

Krik krik krik...
Hidup seperti ini, sungguh, terlalu indah.

Andaikan jika kau bisa menggampar seseorang saat ini. Rasanya Alfred sudah tak puas hanya menampar-oke, dia tahu bahwa itu terlalu girly-pipi Francis, dan setelahnya dirinya ditendang keluar dari penthouse milik Francis.

"Aww..."

Lelaki dengan ahoge khasnya menggeram kesakitan. Ditendang keluar dari penthouse itu sangat tak elit. Apalagi dirinya, Alfred F. Jones, ditendang keluar. Sangat tak mencerminkan sifat kepahlawanan, sama sekali.

Ia memungut Texas-kacamata miliknya yang ia beri nama demikian-yang jatuh tak jauh darinya. Membetulkan letaknya sembari berjalan menuju ke arah rumahnya dengan bersungut-sungut, "Francis sialan. Teganya melemparku dari apartemennya. Mana apresiasinya pada hero yang hebat semacam ini!" lalu mendecak, dan memasukkan kedua tangannya pada dua kantong yang berada di jaket bomber kesayangan miliknya. Tak sengaja, tangannya merogoh pada semacam kotak di dalam kantongnya.

Rupanya kotak kondom ciptaan Francis.

'Kenapa benda terkutuk ini ada padaku...' tapi pada akhirnya, kotak itu tetap dipegang olehnya, disimpan kembali dalam kantong jaketnya, sembari terpikirkan akan sesuatu yang... yang tak pernah terpikirkan di kepalanya selama ini.

Ia terus berjalan menuju penthouse tercintanya, bersiul-siul dan mencoba menenangkan dirinya bahwa ditendang keluar dari apartemen Francis itu bukanlah satu permasalahan besar. Toh ia yakin, esok lagi, Francis akan kembali menelepon dirinya untuk hal lain, dan melupakan kejadian hari ini dimana Alfred telah mengejek Francis bersama dengan apartemennya.

Dan harum aroma kopi mendadak tercium melalui hidungnya. Arabica, rupanya.

Refleks, Alfred F. Jones segera melirik kesana-kemari, mencoba mencari asal aroma kopi yang wangi tersebut. Ya, dia memang sangat menyukai kopi, dan harum aroma kopi yang cukup berbeda dari biasanya ini, membuatnya semakin terpikat dan segera, ia sudah melupakan suasana hatinya yang buruk setelah pengalaman ditendang oleh Francis beberapa saat yang lalu. Setelah beberapa saat mencari-cari sedapatnya, ia menemui sebuah toko kecil dengan signboard bertuliskan "Sin Nombre Café" dengan semacam sub-heading-mungkin translasinya dalam bahasa Inggris-yang terbaca sebagai "Nameless Café"

Penasaran dengan nama tokonya-dan terpikat dengan aromanya yang terlalu menggoda-akhirnya pemuda American ini memutuskan untuk memasuki café yang bergaya antik, perpaduan arsitektur Spanyol dan Italia yang sangat memikat. Style ruangan antik yang didominasi dengan permainan kayu untuk model keseluruhan ruangannya. Sebuah counter-top yang memakai model wild west yang entah mengapa bisa berpadu dengan arsitektur bergaya klasik, membuat toko kecil ini berkesan antik dan elegan, namun liar dan menantang di saat yang bersamaan.

"Hola! Buenas tardes!"

Dari belakang counter-top yang dimaksud, seorang dengan rambut yang sedikit acak-acakan dengan kulit kecoklatan terlihat menyambut sang American tanggung tersebut. Sepertinya ia pemilik toko ini, dan melihat dari bentuk arsitektur toko, bahasa yang digunakannya

"Maaf?" Alfred hanya bisa menatap kebingungan akan kata-kata sang Spaniard barusan, "Bisa tolong diulang lagi? Aku tak mengerti bahasa Spanyol..."

"Halo! Selamat siang!" bagaikan recorder, ia mengulang kembali reaksi yang sama, dengan terjemahan kalimatnya dalam bahasa Inggris, "Tapi kau bodoh juga, aku disuruh mengulang lagi kata-kataku tadi. Mungkin maksudmu, men-translasi kata-kataku lebih tepat? Fusosososo..."

Alfred hanya bisa menatap dengan pandangan ini-orang-kenapa-eksentrik-banget-sih kepada sang Spaniard yang tertawa dengan gayanya yang sangat aneh. Seumur-umur, ia belum pernah menjumpai seorang pun yang tertawa lebih aneh daripada lelaki yang sepertinya tidak begitu berbeda jauh secara umurnya. Seketika juga, entah mengapa, ia mendengar suara hatinya berkata bahwa ‘Orang ini kadangkala sepertinya cukup menyebalkan,’

"A... Aku tak mengerti maksudmu?"

"Fusosososo~" Lelaki dengan aksen Spanish-English yang cukup mencolok tersebut kembali berkata, "Katamu tadi untuk mengulang kata-kataku tadi, sementara tadi aku berbicara dengan bahasa Spanyol. Berarti kau memintaku untuk mengulang dalam bahasa Spanyol yang sama sekali tak kau mengerti, apa gunanya kan~?" lalu menyerahkan sebuah menu kepada Alfred, yang mulai mengerti apa maksud kata-kata ambigu sang Spaniard yang-terlihat seperti-merupakan pemilik café bernuansa antik tersebut.

Setelah dipikir-pikir lagi, memang ada benar-nya juga ya...

"Nah, kalau begitu, apa yang akan kau pesan, señor?"

"Espresso affogato, single shot." Dan Alfred segera mengembalikan menu yang ia baca sekilas kepada lelaki bercelemek hijau tua dengan name-tag bertuliskan 'A. F. Carriedo'

"Hei Lovino, satu espresso affogato, single shot!"

"Jangan mengulang lagi, bastardo!" dari belakang, terdengar suara seseorang yang dipanggil Lovino, merutuk dalam bahasa Italia.

"Maaf~" pemuda dengan iris emerald yang cerah dan senyuman yang seolah tak pernah lepas dari wajahnya tersebut mengibas-ngibaskan tangannya, seolah hendak menyampaikan gestur ini-hal-yang-sudah-kelewat-biasa, "Dia memang suka begitu~ tapi maklumlah, hari ini dia sedang sedikit bad mood, jadi mohon maklumi."

"Oh, tak apa-apa... Carriedo?"

"Ah tidak, tidak~! Jangan panggil aku Carriedo, kesannya formal sekali," ia kembali melantunkan tawa anehnya tersebut, "Panggil saja Antonio, dan siapa namamu, pemuda tanggung?"

"Jones. Alfred F. Jones," Alfred mendecak pelan, "Dan aku bukan pemuda tanggung, Carriedo." Lalu memberikan penekanan tersendiri pada nama akhir dari Antonio, pemuda asal Spanyol di depannya ini.

Suasana café kembali terjebak dalam kesunyian untuk beberapa saat. Sang pemuda Spanyol yang tengah bersiul-siul memainkan sebuah lagu yang tak diketahui Alfred merupakan satu-satunya pemecah kesunyian, sementara Alfred sendiri, kini terjebak kembali dalam pemikiran yang sempat bersarang di kepalanya tadi. Ia terdiam, sesekali menatap pada langit-langit lalu berpindah-pindah sasaran pandangan ke arah jendela dan dinding yang dicat berwarna beige. Tanda-tanda orang sedang gelisah, dan gelagat yang cukup mencolok di mata Antonio Fernandez Carriedo yang kini menghampiri Alfred F. Jones sembari membawa segelas kecil espresso affogato pesanan Alfred.

"Hei, señor~ kau sepertinya sedang lemah lesu~ apakah ada permasalahan?"

Alfred tak bisa menahan senyum pasrahnya, "Emm... begitulah? Sedikit masalah pribadi dan..."
Selama ini, setiap malam, aku akan keluar dari rumah dan segera mengencani seseorang. Setelah itu akan kubawa orang itu ke tempat tidur dan kita akan bersenang-senang hingga pagi, lalu esok akan kulupakan lagi orang itu.

Aku tak pernah memikirkannya selama ini, tapi sebenarnya apa maksudku melakukan semua ini? Yah, aku tak bisa memungkiri diriku sendiri saat ini sudah mulai mengidap sex-addict yang sepertinya tergolong cukup parah, tapi toh, selama ini aku tak terkena penyakit apa pun yang sehubungan dengan... yah, kau tahulah, HIV/AIDS, dan sebagainya. Lagipula, hal semacam ini menyenangkan karena aku tak harus berkomitmen pada suatu hubungan dan itu menyebalkan.

Kau tahu? Aku bahagia dengan hidupku saat ini. Tak perlu kerja keras, lalu ketika bangun pagi, kau bisa disambut dengan Final Fantasy XIII lalu bermain sepuasmu, semaumu, bahkan jika matamu hampir buta, silakan! Tak ada yang melarangmu hidup semacam diriku saat ini, dan aku bebas melakukan apa saja yang kumau, selagi untuk beberapa bulan ini, aku tengah menunggu aplikasiku untuk melamar, menjadi salah satu kru di International Space Station milik NASA, diterima. Selagi waktu itu berlalu, aku masih bisa menikmati sedikit gaji sampingan yang kudapat setiap aku menuliskan semacam tesis sederhana-dalam pandanganku-mengenai teori-teori yang berhubungan dengan astronomi, dan sesungguhnya, itu sama sekali tidaklah sulit.

Hidupku sudah lebih dari damai, setidaknya sebelum hari ini, aku terpikirkan akan hal ini.

Apakah hidupku berlalu sia-sia dengan begini?

Entah sejak kapan-mungkin sejak kondom Francis berada di kantongku secara misterius-aku mulai terpikirkan hal ini.

Sebenarnya apa maksudku hidup seperti ini terus-menerus?

Semenjak itu, sudah menjadi kebiasaan bagi seorang Alfred F. Jones, American sejati, untuk pergi mengunjungi Sin Nombre Café-dalam bahasa Spanyol berarti café tak bernama-dan bertemu dengan kedua orang penghuni disana. Si pemilik Antonio Fernandez Carriedo, dan rekannya Lovino Vargas. Hingga kini Alfred tidak mengetahui apa hubungan keduanya, karena yang pasti Lovino tampak tidak menyukai Antonio sedangkan Antonio beranggapan sebaliknya. Yah, itu bukannya ia peduli, Alfred tidak tertarik dengan kehidupan pribadi seseorang.

Selain sebagai Coffee shop langganan, Alfred pun terkadang akan datang dan membawa teman kencannya kesana. Bukan untuk menghabiskan waktu sebagaimana pasangan yang seharusnya lakukan, namun sebagai alasan baginya untuk meminum kopi di sana. Lagipula, suasana café yang berkesan klasik sepertinya cukup menarik perhatian para gadis, dan mereka menganggap tempat tersebut romantis. Entah mengapa ia tidak bisa melihatnya kecuali sebagai sebuah café yang menyediakan kopi yang lezat.

Dan tidak ada hal lain yang lebih menyegarkan sesudah a few round of great sex dibandingkan segelas espresso affogato.

Alfred mendesah, dan ia pun berpikir, 'Hidup seperti ini, sungguh, terlalu indah.'

Andaikan coffee shop langganan Alfred F. Jones tidak berganti alih menjadi toko teh, hidup ini pasti akan jauh lebih indah.

"Ke... Kenapa?"

Dan kini, Alfred F. Jones tengah meratap di depan etalase toko teh, yang sebelumnya merupakan toko kopi favorit sang American yang notabene Hamburger-freak ini.

Baiklah, dilempar dari penthouse Francis, dia masih bisa tahan. Tidak bisa memainkan Final Fantasy XIII juga ia masih bisa hidup. Tetapi ini, tindakan mengerikan yang telah terjadi dengan Coffee shop favoritnya tak boleh dan tak bisa dimaafkan!

Dengan ketetapan hati bagaikan baja, Alfred F. Jones pun menerjang masuk ke dalam Tea Shop yang bernuansa Asia ini. Ia melihat ke sekeliling, menyadari bahwa toko itu kosong oleh pengunjung, tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia sedikit pun. Tentu saja tidak ada, bukankah tanda close di depan pintu kaca sudah cukup meyakinkan? Sayangnya, ia adalah seorang Alfred, dan seorang Alfred tidak mempedulikan hal tersebut. Baiklah, keadaan ada atau tidak adanya pengunjung sebaiknya dikesampingkan terlebih dahulu. Ia memiliki urusan yang lebih penting, yaitu berbicara dengan sang owner dan mencari tahu penyebab hilangnya Coffee Shop tercintanya itu.

Matanya menerawang, tajam bagaikan elang. Meski pun ia mengenakan kacamata hal itu bukanlah berarti penglihatannya buruk. Sebetulnya ia hanya mengenakan benda itu supaya terlihat keren, karena wajahnya terlihat cukup membosankan dan biasa saja tanpanya. Dan seorang hero dambaan setiap wanita-atau dalam kasus ini, lelaki-tentu saja tidak boleh berpenampilan membosankan bukan?

Aha! Dia menemukan sasarannya, dan dalam sekejap saja telah terkunci. Sasarannya adalah seorang lelaki, yang tampaknya mengenakan sebuah dress shirt putih dan celemek hitam yang melilit di pinggangnya. Ia sedang membersihkan meja, sehingga ia memunggungi Alfred, dan tidak menyadari keberadaan pria tersebut. Alfred yang sudah tidak sabar, akhirnya memutuskan untuk memanggil lelaki itu. Oh tidak menggunakan nama, karena Alfred sangat, sangat marah-dan itu adalah hal yang sangat jarang terjadi-sehingga ia segera meletakkan tangannya di atas pundak lelaki tersebut dan ia tertegun ketika bertemu dengan sepasang mata berwarna hijau emerald yang merupakan salah satu warna terindah yang pernah ia lihat.

Tetapi, sebelum ia bahkan sempat berkedip, Alfred merasa bahwa tubuhnya melayang, seakan-akan ia sedang berada di ruangan hampa udara, lelaki itu pun menghilang dari pandangannya, dan sekarang tergantikan oleh perasaan sakit yang menjalar dari kepala hingga sekujur tubuhnya. Hanya satu kata yang bisa ia lontarkan di saat seperti itu.

"What the hell?"
Dan pada detik ini, Alfred takkan menyangka bahwa kehidupannya akan berubah seratus delapan puluh derajat...

To Be Continued
Chapter 2 | Chapter 3 [Coming Soon]
Quote
Share