[Essay] Telling the Truth...

Sanich Iyonni
Honored Member
Sanich Iyonni
Honored Member
Joined: June 1st, 2009, 8:09 am

July 30th, 2011, 4:28 am #1


Woro-woro
Saya sempat mengusulkan agar ada subforum essay di All About Fanfiction, tapi menurut para Admin dan Momod lain, subforum tersebut belum perlu karena bisa digabung di Fanfiction Free Discuss. Jadi sekarang saya coba dulu nulis essay di sini.

MEMBUDAYAKAN MENGATAKAN KEBENARAN

Semester lalu saya belajar filsafat. Salah satunya adalah epistemologi, yang membahas tentang pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan (sumber: Wikipedia). Namun, bukan itu yang ingin saya bahas di sini.

Salah satu modul saya menyebutkan bahwa Indonesia tidak maju-maju karena masyarakatnya tidak membudayakan mengatakan kebenaran seperti orang-orang Barat. Budaya Indonesia adalah budaya menjilat--mengatakan yang bagus-bagus saja untuk menyenangkan orang, khususnya orang-orang yang punya kekuasaaan. Sejak zaman raja-raja, hingga saat ini, kebiasaan itu masih berlangsung. Tak heran, banyak orang hipokrit bermuka dua di negeri ini.

.

Setelah membaca modul itu, saya jadi berkaca pada diri sendiri.

Apakah saya termasuk orang yang tidak membudayakan kebenaran?

.

Mari kita kaitkan dengan review. Saya biasanya selalu memuji ketika memberi review. Bukan karena ingin menjilat atau menyenangkan orang, melainkan karena saya memang benar-benar suka dan terpesona dengan fanfic tersebut. Selama ini kebanyakan fanfic yang saya review adalah yang benar-benar saya suka saja, jadi wajarlah jika isinya pujian semua.

Tidak saya pungkiri, keinginan menyenangkan orang memang ada, meski tentu saja tidak sampai tahap "menjilat" (sebenarnya, sedikit-banyak saya tidak suka pemakaian kata itu). Masalahnya, biasanya saya terlalu ingin menjaga perasaan author tersebut, jadi saya jarang mengungkapkan kelemahan-kelemahan fanficnya. Saya tetap ingin membina hubungan baik sehingga tidak memberikan concrit secara maksimal, walaupun sebenarnya saya tahu kekurangan fanfic tersebut.

Entah kenapa saya bisa lembek begitu dalam memberi review, padahal kalau saya menilai sebuah karya--bukan fanfiction--di blog saya, saya selalu menilai dengan adil antara kelebihan dan kekurangannya.

Namun, sekarang saya sedang belajar untuk mengubah kebiasaan itu. Bukankah kebenaran harus dikatakan meskipun pahit? Kebenaran tidak boleh disembunyikan, harus dikatakan demi kebaikan yang bersangkutan. Kita bisa mulai belajar dari pemenang Best Reviewer IFA 2010 lalu, AnnaYuki dan beberapa nominator lain seperti Azureila dan teacupz' yang selalu membudayakan mengatakan kebenaran dalam reviewnya dengan memberikan concrit-concrit yang teliti.

Semua orang senang dipuji, tetapi belajar menerima kesalahan dengan lapang dada juga perlu.

Mari kita mulai membudayakan mengatakan kebenaran dalam me-review!

Lebih jauh tentang Epistemologi bisa dilihat di sini




Mohon patuhi peraturan Infantrum demi kenyamanan kita bersama.
Quote
Like
Share

Farfalla
Honored Member
Farfalla
Honored Member
Joined: December 8th, 2007, 4:22 pm

July 30th, 2011, 1:23 pm #2

Egh, halangan utama saya dalam memberdayakan kebenaran adalah... susah untuk mengkritik orang tanpa menyakiti hati orang. Sebagai contoh ada sebuah kasus di masa lampau, ada author yang minta untuk diberi concrit lewat jalur pribadi ke saya, setelah saya concrit, mungkin saya yang terlalu keras atau apa, sang author malah sepertinya jadi agak 'ngambek'. Well, bukan cuman saya yang pernah mengalami pengalaman seperti ini, beberapa author kenalan saya juga ada yang pernah diminta untuk memberi concrit dan yang diberi concrit sepertinya kurang 'tegar' ketika kekurangannya ditunjuk.

Solusi saya akhirnya menjadi, kalau gak suka ya gak komen, daripada menambah musuh, hiks.

Satu lagi, untuk author yang menulis di notesnya (biasanya di akhir fanfic) "tolong berikan kritik, saran, dan komentar membangun..." Mohon benar2 dipikirkan dulu sebelum menaruh notes ini, apakah kalian bisa 'tegar' kalau beneran diberi kritik membangun?

Pesan cinta saya pribadi untuk para penulis, kalau hanya ingin mencari penjilat di review, kapan bisa berkembangnya. /masih sebal



picture me there with my hat down low
a smile upon my face to let you know
that I would like to take you home.

Livejournal|FF.net|AO3|Tumblr I

STAFF CONTACT LIST
This forum has rules, you know.
Quote
Like
Share

Deleted User
Deleted User

July 30th, 2011, 1:38 pm #3

Setuju bgt ama Farfalla...

Hmm... jujur saya termasuk reviewer yang rada 'baik' dengan author. Tpi saya lebih prefer untuk (kalau bisa) mengatakan secara blak-blakan apa mereka yang bagus dengan tetap mengimbangi yang kurang dan lebih dari segi penulisan.

Still... mau ng mau memang perlu latihan dalam me-review fic.

Apalagi jika kita mau bilang kebenaran yang sebenar-benarnya. Tentu saja reviewer akan dipengaruhi oleh fandom dan character yang mereka sayangi. Berbeda jika reviewer yang baru tau fandom tersebut dan milihatnya sebagai orang yang ketiga. Tapi kembali pada akhirnya apa...


=> Tujuan anda untuk me-review fic tersebut itu apa?

What do YOU want from the Author???

Jawaban pasti macam-macam lah... tapi menurut saya itu kembali lagi kepada alasan pribadi kita.

Misalnya saya menemukan fic-nya (one-shot) plotnya bagus tapi grammarnya perlu perbaikan. Jika jujur yang bilang plot bagus dan tunjukan mana grammar yang perlu diperbaiki. Jika plot saya tidak senang dan bukan tipe saya ya... saya tidak review (kecuali saya adalah juri/diharuskan untuk review)... Ok, mungkin ini rada sadis... tapi saya sangat malas untuk ngasih kritik setiap cerita saya baca yang menurut saya kurang menarik perhatian saya... itu kejujuran saya...

Beda dengan Multi-chapter misalnya... cerita plot agak ngambang (masih punya postensi berkembang) tapi grammar udah benar... saya tetap motivasikan sang author untuk maju terus dengan tetap tulis mohon diperjelas plotnya dan plot-hole untuk melihat apakah sang author berkembang. Mungkin saya tidak akan rinci apa saja yang perlu dia perbaiki dulu (karena saya percaya tidak semua orang ng melahap segala kesalahan mereka sekaligus... apalagi newbie) jika ada perbaikan ya kasih tau lagi kesalahan lagi dimana... make the author grow gradually...


Uh... itu diatas klu saya benar-benar lagi bertindak sebagai reviewer yang 'benar'...

Saya ngaku dosa seorang reviewer...

Kadang saya baca fanfic untuk tujuan sekedar 'hiburan'. Oleh karena itu, saya akan lebih mengutamakan 'mana lanjutan ceritanya?' <= multichapter sehingga saya tidak melirik one-shot sama sekali (kecuali adanya cerita bagus dan karakter favorit). Maaf yang pada suka one-shot...

Itu mood saya mencari hiburan dari stress kerjaan lain-lain di dunia nyata. Oleh karena itu, jika memang sang author mau review yang benar dari saya ya minta review yang kritis ditulis bagian A/N dong. Tpi klu nga... ya mau apalagi? Saya tidak tau sang author ekspektasi terhadap review yang dia mau kalau dia tidak bilang dia serius menulis. Jadi seperti Farfalla bilang... hati-hati menulis ttg meminta kritik yang apa adanya klu ng tahan...

Namun, saat ini saya dalam situasi sekarang akan lebih suka lurking alias => Pencet ceritanya ke 'Story Alert' supaya tidak mereview yg tidak jujur... Klu cerita makin bagus kasih review yang jujur + perbaikan klu perlu... makin ngaco... ya tinggal ambil alertnya dan nga terikat lagi... daripada bikin orang sakit hati... -__-
Quote
Share

Neoratu
Honored Member
Neoratu
Honored Member
Joined: February 1st, 2010, 4:20 am

July 30th, 2011, 2:44 pm #4

Uhm. Saya udah pasang pengumuman di profile saya kalau saya bukan tipe yg sembarangan ngasih review. Jadi klo ada yg tetep PM saya minta direview, saya anggap mereka sudah siap dikritik (jika ada yg pantas dikritik). Dan saya kalau ngritik emang nggak nanggung-nanggung sih, bisa membahas dari semua sisi baik plot, flow, karakterisasi, dsb, dsb. a1y-puff salah satu org yang jadi korban kebawelan saya. Dan terutama waktu saya nge-beta fic, entah kenapa radar saya bakal lebih tajem berkali-kali lipat xD;

Kalau saya memuji sebuah fic, saya pasti jujur kok. Saya nggak mungkin memuji hal yang dalam hati saya anggap 'kurang'. Kalau ada yg saya anggap kurang, saya juga pasti jujur bilang. Hanya saja, yah... Gimana ya, para author kebanyakan mentalnya nggak kuat. Dikritik dikit, langsung dianggap flame. Jujur, saya heran dengan kasus 'flame' rame-rame yang pernah diributkan. Waktu saya lihat contoh review yang dianggap flame, kok di mata saya itu adalah konkrit karena sang reviewer menulis detail soal kekurangan yang perlu diperbaiki secara sistematis. Oke, mungkin memang agak keras caranya dan nggak disertai pujian. Tapi mau lembut dan berbunga-bunga, ataupun padat dan keras, konkrit kan tetap konkrit. Istilahnya, sama aja dengan kita belajar di sekolah sama guru killer atau guru lemah lembut. Kita dapet ilmu, cuma penyampaiannya aja yang beda. Nah, kenapa mental para author segitu lemahnya terhadap kritikan, sampai-sampai pada rame-rame setuju menganggap review2 jenis itu adalah 'flame'? Apakah hanya pujian-pujian buta saja yang akan diterima dengan senang hati?

Karena seringnya author tidak menerima konkrit itulah saya jadi 'malas' ngereview kalau nggak perlu. Kecuali saya yakin si author memang siap menerima lahir bathin. Bukannya gimana, tapi klo effort kita meneliti sebuah fanfic dan menjabarkan kekurangan + kelebihannya nggak dihargain, buat apa juga cape-cape ngereview? -___- #dibuang

Yeah well. Intinya, klo dikonkrit aja udah kebakaran jenggot, mana bisa jadi lebih baik? Latihan mental sedari dini donk, sapa tau bisa publish novel beneran? Pembaca itu kritikus paling kejam loh... hehe.
Quote
Like
Share

Sanich Iyonni
Honored Member
Sanich Iyonni
Honored Member
Joined: June 1st, 2009, 8:09 am

July 31st, 2011, 1:50 am #5

Memang sebetulnya mengatakan kebenaran itu nggak mudah. :/ Orang Indonesia pada umumnya kan gak senang nyari musuh, jadi sebisa mungkin berusaha menjaga perasaan orang. Tapi ya kalau dimanja gitu, gak akan berkembang.
Concrit harus dibudayakan, entah yang modelnya to the point ataupun muter-muter dulu.
.
Dan saya juga baru melihat dari sudut lain setelah Frenzy-san dan Pinku-san mengatakannya, yaitu sudut orang yang kita concrit. Emang sih, mental orang yang kita concrit itu banyak yang lembek, terutama newbie yang tumbuh di fandom aman damai. Kalo di fandom2 besar sih ngasih concrit lebih santai, soalnya memang banyak orang. Tapi di fandom pinggiran atau fandom lenje yang susah. =/
.
Saya cukup yakin 85% review untuk fanfic-fanfic Indonesia saat ini adalah review palsu yang cuma menjilat. Terus 5%-nya review pragmatis, yang cuma mentingin apdet seperti kata Frenzy-san. Sisanya barulah review yang benar-benar review.
.
Jujur aja, seperti yang udah saya bilang, saya sendiri biasanya cuma me-review fanfic yang saya bener-bener suka. Tapi kalo ada keharusan me-review, saya masih sering lembek. Walaupun sekarang udah berusaha berubah, tapi review2 saya yang dulu-dulu--yang banyak palsunya--masih jauh lebih banyak. Jadi merasa bersalah.
.
Anyway, kembali lagi, kebenaran perlu dikatakan. Sebelum me-review, kita harus bilang agar si penerima siap mental, apalagi kalau concrit itu dia yang minta seperti kata Farf-san. Saya biasanya mengakali dengan menabur emoticon yang cukup banyak, atau kalo mengoreksi fic author yang udah cukup terkenal, pake kata2 basa-basi. Akhirnya ditutup dengan maaf dan menjelaskan ini demi kebaikan ybs...
Mohon patuhi peraturan Infantrum demi kenyamanan kita bersama.
Quote
Like
Share

ReiyKa
Intermediate Member
ReiyKa
Intermediate Member
Joined: March 23rd, 2011, 12:42 pm

July 31st, 2011, 3:01 am #6

OOT dikit. sanich-san jurusan apa sih sebenarnya? kira-kira saya dapat pelajaran itu juga nggak yaa~ hmm..

soal review ya, saya dari fandom kecil dan saya kenal beberapa author disana. nggak akrab memang, tapi setidaknya saya tahu apa yang mereka pikirkan sejauh ini.
dulu mereka pernah ngomongin satu fic dan terus dikritik, tapi mereka bilang itu flame.
menurut saya, definisi flame disini udah berubah dari yang seharusnya. mereka pada nganggap kalau kritiknya keras alias concrit (bener nggak?) sebanding nilainya dengan flame. jadi, saya juga bingung ngasih tahunya sebenarnya kalau sebenarnya definisi mereka salah.

kalau saya sih, sementara ini bakalan ngasih review yang blak-blak-an selama si authornya emang salah. dan kalau soal plot cerita, saya pernah ngasih ke satu orang author yang ujung-ujungnya dia jadi agak ngambek karena saya seolah mojokkin (bahasa apa ini?) dia.

ya.. jadinya, saya males banget kalau ngasih review ke author ini.
soalnya, saya yang dari fandom kecil, suka bacain review orang-orang pasti isinya tentang: "ayo update" dengan berbagai macam bentuk bahasa dan susunan kata.

tapi, itu semua balik lagi ke mental authornya itu sendiri.
ada bahkan yang reviewnya dibilang: "kamu ngaco ceritanya. masa ada ini... dan itu... yang nggak nyambung sama sekali dengan ceritanya"
terus ini dibilang flame. saya sejujurnya bingung sendiri mau komentar apa. authornya masih SMP sih jadi menurut saya dia agak kurang bisa terima soal kritik model begini.

ah ya, tanya deh, kita boleh ngereview alur cerita setiap fic kan? soalnya pas si author itu dikritik soal plot, teman-temannya pada bilang: "biarin aja tuh orang ngomong. nggak usah dipeduliin. alur ceritanya bagus kok. keren."

saya cengo.
Bila ada dua, aku mau satu, satu kuberi untukmu.

Bila ada satu, aku tak mau ambil, akan kuberi semua untukmu.

Quote
Like
Share

Deleted User
Deleted User

July 31st, 2011, 3:14 am #7

Sanich Iyonni wrote:Jujur aja, seperti yang udah saya bilang, saya sendiri biasanya cuma me-review fanfic yang saya bener-bener suka. Tapi kalo ada keharusan me-review, saya masih sering lembek. Walaupun sekarang udah berusaha berubah, tapi review2 saya yang dulu-dulu--yang banyak palsunya--masih jauh lebih banyak. Jadi merasa bersalah.
.
Anyway, kembali lagi, kebenaran perlu dikatakan. Sebelum me-review, kita harus bilang agar si penerima siap mental, apalagi kalau concrit itu dia yang minta seperti kata Farf-san. Saya biasanya mengakali dengan menabur emoticon yang cukup banyak, atau kalo mengoreksi fic author yang udah cukup terkenal, pake kata2 basa-basi. Akhirnya ditutup dengan maaf dan menjelaskan ini demi kebaikan ybs...
Ano Sanich-san...

Menurutku memang orang Indonesia itu ada budaya basa basi.... memang udah dari sananya...

Ibaratnya hal itu susah sekali menghilang dan mau tidak mau itu memang sudah bagian dari apa ekspektasi masyarakat. Pengalaman pribadi gw dan juga mungkin teman-teman yang pernah kena/sekolah dengan kurikulum luar negeri kalau di Indonesia diharuskan adanya basa basi sebagai bentuk etika dan kesopanan. Bukan bermaksud meng-generalisasi semua orang Indonesia... tapi memang entah kenapa jika menanyakan sesuatu hal langsung tanpa basa basi terkesan kita 'angkuh' atau terlalu memaksakan untuk mengetahui sesuatu yang apa yang kita mau tanpa memperdulikan keberadaan orang itu.

Hmm... selain itu... entah kenapa pasti kita dicap => 'Ni orang ng ramah banget... main tembak nanya lagi...' Pernah kejadian ini terjadi saat pertama kali masuk kuliah (soalnya klu teman2 SMA udah kenal jadi nga apa2)... tpi bagaimana dengan orang asing atau belum dikenal? Belum tentu mereka mau menerima kita dengan apa adanya... apalagi kalau mereka sudah mejadi suatu kelompok yg dipandang orang-orang sekitarnya mereka yang 'benar'.

Kadang susah sekali untuk menilai kita kalau bilang sesuatu itu melanggar garis pribadi seseorang tersebut atau nga. Lebih terasa lagi jika kalau tinggal di kota-kota yang menjadi melting pot atau tempat pencampuran etnis seperti Jakarta, Bandung, Yogya, atau kota-kota besar lain di Indonesia. Nga pintar membawa diri, jadinya malah kitanya yang diinjak karena nga 'menyesuaikan diri dengan sekeliling kita'.

Repot bukan?

Tapi memang ada pepatahnya dalam bahasa Indonesia koq... => Kalau masuk ke kandang singa, kita juga harus meng-aum.

Samanya kalau orang Indonesia keluar negeri, yah jangan berharap kalau di sana orang itu ramah-ramah seperti di Indonesia... orang udah jelas bukan budaya kita... dan mereka komplein juga. -__-

Ya udahlah... saya memang ng mahir u/ fic-fic bahasa Indonesia... salah satu alasan saya nulis u/ fandom bhs Inggris memang mau cari kejujuran dari review fic tersebut. Tapi ingat juga kalau seorang kritikus maupun reviewer juga awalnya mulai dari orang biasa. Bedanya mereka udah latihan menulis review dan mengamati lebih banyak dari orang biasa.

So, kejujuran itu juga perlu latihan...
Quote
Share

Ejey Series
Honored Member
Ejey Series
Honored Member
Joined: October 28th, 2010, 5:38 am

July 31st, 2011, 3:20 am #8

Err... kayaknya review saya juga banyak (banget) yang palsu...

Waktu saya baca suatu fic dan pengen review fic tsb, saya malah bingung mau ngetik apa di kolom review. Dan ujung-ujungnya cuma bilang bagian yang berkesan buat saya dan numpang fangirl. orzorz. Pernah sih, nyoba buat kasih review yang sedikit berbobot, tapi setelah dibaca ulang... kok kesannya malah nggak penting ya?

Saya pernah dapet concrit, dan awalnya emang ngerasa sedikit down, tapi setelah saya cek lagi fic saya yang dikasih concrit tsb, akhirnya saya bisa nerima kalo concrit tsb emang ada benernya. Saya jadi kangen sama author yang ngasih concrit tsb. Kayaknya cuma dia di antara sekian banyak author yang pernah mampir di kolom review saya yang bener-bener ngasih kritik yang membangun.

Dulu saya suka setiap kali ada yang muji-muji fic saya di kotak review, tapi lama-lama bosen juga. Kalo dipuji terus, kemampuan menulis saya jalan di tempat, dong.
pursue your happiness

Obey the rules, please!
Quote
Like
Share

a1y-puff
Intermediate Member
a1y-puff
Intermediate Member
Joined: June 17th, 2008, 9:48 am

July 31st, 2011, 5:48 pm #9

*Orang yang ke sini karena di-summon sama Pinku*

Saya inget si Nel (Pinku) pernah ngamuk2 di FB karena seseorang meminta dia mereview ceritanya tapi begitu dikritik dengan jujur (bahkan dengan berbagai macam pemanis), dia "ngambek" dan kalo udah kena seperti itu kayaknya emang bikin males untuk jujur dalam memberi review yah, atau malah jadi malas mereview sama sekali xD;;

Ini mungkin sering terjadi karena beberapa orang salah mengartikan apa itu flame dan apa itu kritik membangun (con-crit).

Seperti yang Nel bilang, saya memang sering jadi korban dia, karena saya bebal dan ga kapok2 nyuruh dia baca dan betain fic saya. Kenapa? Karena justru orang yang mau susah-susah menganalisa fic kita dan ngasih tahu di mana salahnya, di mana kurangnya itulah yang bikin kita maju, kan? Saya lebih baik "dihajar" sama temen sendiri sebelum publish suatu fic ketimbang udah publish dan keliatan begonya sama orang lain. Maka dari itu saya butuh orang-orang yang "jujur" untuk baca tulisan saya sebelum saya publish.

Itu ngga berarti saya ga akan dapat kritikan bahkan setelah saya publish tulisan sih, tapi sedikit kritik membangun, walopun ngga dibubuhi pemanis ngga perlu langsung dianggap flame kan? XD

Bagi saya, flame adalah ini:

- "I HATE this. How could you? Why does that sleazy asshole have to ruin everything. Stupid piano player. Poor Len." <--tidak ada unsur membangun. menurut saya ini review nyampah XD;

- "'this is junk, even a five year old can write better" <--lagi, tidak ada keterangan apa sebenarnya yang di-complain. Atau bagaimana menoreksinya, bagaimana seharusnya (menurut dia) fic itu ditulis. Ini cuma pengen maki-maki aja.

Tentu bagi semua orang dua contoh di atas jelas adalah flame, kan? Nah berikut saya mau kasih dua contoh con-crit, yang kalo saya lihat, beberapa orang akan menganggapnya flame.

Con-crit bagi saya:

Pertama ini adalah "Review" yang saya terima dari Nel via yahoo messenger.
[+] spoiler
Nel: errr oke so dr cara mengupas keadaan psychological mereka, I can see kita agak ato malah beda bgt ya

Ai: Well XD

Nel: keknya lo notice klo baca fic gw yg td de.
err gw bingung :/ pokoknya disini kan allen digambarkan sgt sakit hati ama kenyataan bahwa kanda hates him, sedang yg gw tangkep itu, allen knows kanda hate him, sejak komui ngumumin ke smua klo dia noah, en though dia agak2 ga enak, tp dia yg apa ya, kinda shrugs it off


Nel: itu keliatan dr di arc yg kanda-allen-miranda. en gw pikir dia kinda 'oh' or 'knowing' when kanda stabbed him deh. en expresi dia yg kanda senyum itu justru asal mula dia bisa mikir klo kanda ga segitunya benci dia --> itu klo bagi gw. pokoknya gw lbh menangkapnya walopun there is a deeeeeeep scar inside him, pastinya but dia gakan terlalu mikirin en judging smua masa lalu allen dan sgala kenyataan yg shocking itu, gw pikir itu udah kek sarapan aja bagi dia untuk yeah, shrug it off -->diluarnya

Nel: this: What if they were Kanda’s real feelings? What if Kanda really hated him deep down? Couldn’t forgive him because he is a fucking Noah? ‘I don’t understand.’ Kanda was the one who snapped him back to himself the first time he was about to turn Noah. He has been the one who, although indirectly, keeps telling Allen to fight, to not give up, to tell the Fourteenth go fuck yourself, so why— “I don’t understand,” Allen whispers, leaning his forehead against the cool glass surface. “Kanda... I don’t understand...”

Nel: klo menurut gw alllen gakan bilang gt krn he somehow kek udah tau (tho kanda benci dia or ga kan itu kanda yg tau, but bagi allen, kanda hates him)


Ai: klo dr gw palingan klo gw bikin fic, ada hal2 yg akan gw bawa dari canon ke fanon, is all XD;

Nel: ahaha lol yeah i can see dat. yeah keknya utk bbrp scene awal, intinya sama sih about allen yg angsting over the fact that kanda hates him and there's this one. canon allen itu gamo membiarkan temennya membunuh dia. dia bilang dia yg akan bunuh dirinya sdr klo sampe neah takes him over and/or dangers his friends kan

Ai: Eh si Allen bilang please kill me kok

Nel: eh? ngga ah, allen bilangnya when that happens I'd kill myself?

Ai: apa scanlation beda ama Viz? o.o gw ingetnya please kill me)


Nel: wait >.> ini jgn2 masalah translation

Ai: keknya si gitu XD:;;

Nel: aha lol yeaaaaa but whatever. lebih bagus lagi klo scanlationnya bilang gitu coz majority baca scanlation. itu aja sih cuman paling bagian wejangan lenalee itu gw lebih prefer klo dia ngejelasinnya scr vague drpd kek menceritakan satu persatu, jd allen berkesan bodor bgt ;A;

Ai: huh but methinks being vague is Lavi's job? i mean, i dun see Lena terlalu vague as an individual

Nel: ah well lavi juga but i mean klo dr cara lenalee cerita itu kek nerangin anak TK. ehm vague as in, ga perlu terlalu berkesan gimana gitu. well itu selera sih xD; just saying.

Ai: Anything else? :3


Nel: udah deh utk kontranya. i can TOTALLY see why people love this fic <333333 I mean, walopun gw rada2 cerewet (apa banget?) gw uhm lumayan lupa deh soal masalah canon-fanon blah blah blah. flownya asdfghjkl en i totally love your words, disini jauuuuuh lebih jder jder drpd di days passing by

Nel: en mellownyaaaaaaaaa! oke gw suka yg mellow2 so I'm biased. tp teteppp
en en en en en last scene itu biar dikata friendship itu totally HINTS and and gw somehow really can see kanda silently lurking around allen's and alma's rooms, thiking that nobody'd notice. itu just SO kanda. so yeah asdfghjkl <333


Ai: :'D

Nel: there :'D
Meskipun terdengar tajam dan ngga ada basa-basinya pas ngasi kritikan, terlihat jelas bahwa Nel memberikan con-crit, karena jelas apa yang dipermasalahkan, dan bagaimana dia melihat penokohan si karakter-karakter ini kan? Ada alasan kenapa dia bilang suatu hal.

Apa saya kecewa/sedih pada saat menerimma kritikan tersebut? Pastinya ada rasa itu, apalagi fic ybs adalah salah satu fic kebanggaan saya (bahkan sampai sekarang :D) yang berhasil mendapat 50 review hanya untuk oneshot. Dan selain Nel, 49 review lain itu ngga ada yang mengkritik.

Apa berarti nel salah? ngga juga. Itu artinya Nel lebih teliti dalam membaca fic, lebih mempertimbangkan hal-hal lain selain teknis penulisan dan atmosfir cerita. Ingat, setiap orang bisa punya pandangan yang berbeda, itu sah-sah aja. Kita ngga mungkin membuat semua orang senang, tapi bukan berarti kita harus menganggap kritikan sebagai flame kan?

Ini satu lagi contoh review paling 'sadis' yang pernah saya terima (yang bukan flame karena saya ngga pernah menganggap flame serius):

[+] spoiler
I won't mention the grammar mistakes since this version hasn't been beta read yet. On the other hand, the fighting scene was hardly convincing. One thing you absolutely shouldn't do in fighting scenes is use adverbs such as "apparently", because it spoils the dynamism. You should write shorter sentences too. Oh and on a side note, watch out, you use the words "just now" a tad too much, it gets redundant.

Back to the fighting scene: as it is, you basically get one scene following the other without feeling any suspense. 1)Link is knocked out. 2)Allen can't reach him. 3)Kanda is fighting Akuma. 4)Allen is fighting Akuma. 5)Kanda is fighting the Earl. 6)Kanda is fighting Akuma and the Earl is standing on Mana's grave.

I might be exagerrating a bit, but really, I couldn't feel any tension in those paragraphs. It looked more like a report adressed to Komui than Allen's thoughts as he fights.

And that dialog between Allen and the Earl really bugged me. I mean, come on, the Earl is the one you have to kill AND he's standing on Mana's grave: don't threaten him with your sword, exorcise him with it at once. It is what you want to do, and it is your job, what's stopping you?

Allen's lack of reaction sounds all the more absurd when the 14th ultimately does just that. I did like their shared anger when witnessing the Earl disrespecting Mana, though. It's in that kind of situation that it must be hard for Allen to figure out where he ends and where the 14th starts, and since his body had just been taken over, it has got to be distressful.

--

Once again, sorry to be so harsh, but it looks like things are getting out of control here. It's really too bad since the fic looked so promising at first, and now it's downright cliché. I hope this didn't upset you... It might sound harsh, but I point this all out because I want you to improve. And if the first chapter is any indication, I believe you can do better than that. I would advise you to entirely rewrite this chapter, but well, I don't know what you've planned for the rest of the story, so I can't advise you how to do it. Therefore, I will just let you figure out something to fix what I pointed out. (In what might very well be my longest review so far, and that's really saying something...)
Lihat kata2 yang saya bold? itu adalah tujuan con-crit. Membangun. Kalau ditanya apa yang saya lakukan setelah dapat review itu, dengan jujur saya akan jawab: Saya menulis ulang chapter itu. Karena saya tahu setelah membaca review yang mungkin terdengar kurang enak itu bahwa saya masih bisa lebih baik lagi.

Hasilnya ngga mengecewakan, versi baru dari chapter tersebut jauh lebih baik dari versi abal sebelumnya, dan banyak yang mengatakan begitu. Ngga semua saran seorang reviewer harus dituruti, tapi ngga semua harus ditolak kan?

Soal kritik membangun inilah yang menurut saya harus dimengerti ngga cuma oleh penulis, tapi juga oleh reviewer. Kalau anda merasa memberikan con-crit tapi review anda tidak mengandung unsur membangun (saran/hal apa sebenarnya yang anda nilai kurang dari fic itu dan bagaimana menurut anda seharusnya itu ditulis) maka review anda adalah flame.

Sebaliknya untuk para penulis, tolong dicermati dulu review yang masuk, kalau ada yang nggak enak sedikit jangan buru2 dicap flame. Bacalah lebih teliti, apa review itu mengandung kebenaran? baca lagi fic anda, apa hal-hal yang di-point out sebagai kekurangan oleh review itu memang masih bisa dibuat lebih bagus lagi?
Ejey Series wrote:Dulu saya suka setiap kali ada yang muji-muji fic saya di kotak review, tapi lama-lama bosen juga. Kalo dipuji terus, kemampuan menulis saya jalan di tempat, dong.
Setuju banget. Pada akhirnya toh kita-kita sebagai penulis juga yang bakal berkembang kalau kita terbuka pada pendapat orang lain yang mungkin BERBEDA dengan apa yang selama ini kita anggap bagus/benar.

Untuk mendorong ini, saya setuju untuk membudayakan mengatakan "kebenaran" saat mereview, tapi tentu kita juga perlu "kerjasama" dari para penulis untuk tidak mudah tersinggung sehingga yang mau jujur dalam review juga nggak malas, ya kan?
a1y's FFNet profile | a1y's DeviantArt page | a1y's LiveJournal | a1y's twitter | a1y's facebook



Original art by SEIL || Words from "Midnight" by Adhitia Sofyan || signature by a1y-puff
Quote
Like
Share

ambudaff
Honored Member
ambudaff
Honored Member
Joined: December 7th, 2007, 3:46 am

August 1st, 2011, 2:00 am #10

Kebanyakan review Ambu memang memuji. Tapi, ada juga yang nggak, misalnya:

1. Kalau udah akrab.

Dengan author yang udah akrab, nggak segan-segan lagi nunjuk bagian yang menurut Ambu perlu diperbaiki. Bahasa juga udah to the point aja, nggak pake dihalus-halusin segala. Toh udah akrab. Dan dengan demikian sebaliknya, dia/mereka juga kalau review fic Ambu, suka to the point aja.

Kadang, review dari mereka ini yang Ambu tunggu. Kalau sebuah fic cuma dapet 1 review tapi review dari salah satu dari mereka, itu udah seneng banget. Peduli amat, ficnya cuma dapet satu dan satu-satunya review juga!

2. Kalau nggak gitu kenal, tapi minta Ambu nge-review fic dia

Yang ini, bahasanya terpaksa dihalus-halusin. Kadang juga, cuma menunjukkan beberapa saja hal yang perlu diperbaiki. Sisanya disembunyiiin, biar ditemukan oleh reviewer yang lain.

Kebenarannya sebagian aja ya?

3. Kalau ficnya bagus banget, tapi sayang, ada satu hal yang akan lebih baik kalau diperbaiki.

Ini biasanya untuk author yang nggak kenal. Biasanya bahasanya dihalusin, dan terlebih dahulu mengemukakan hal-hal positif dari fic-nya, baru ditutup dengan: sayangnya blablabla, coba kalau blablabla. Dan nyatanya, paling tidak dua orang dari mereka jadi akrab dengan Ambu #nyengir

Kalau nemu fic dengan banyak kesalahan dari author yang Ambu ga gitu kenal, dan reviewer lain udah banyak yang concrit, biasanya langsung skip dan baca lagi yang lain. Menghemat waktu #ditimpuks dan juga menghindari takut nulis terlalu kasar...




Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
Quote
Like
Share