sylviolin
Honored Member
sylviolin
Honored Member
Joined: October 9th, 2010, 7:13 pm

December 11th, 2011, 3:56 am #171

prompt: never/tidak pernah
fandom: gak tau -_____-
chara: aku dan kamu -______-
"Pernahkah kamu berpikir untuk mencintaiku selamanya?"

"—tidak pernah."

"... Mungkin selamanya memang terlalu lama, sih. Tapi, pernahkah kamu berpikir ingin bersamaku... hm, sepuluh tahun lagi? Sampai usiaku 27 tahun?"

"—tidak pernah."


"A-apa? Tidak pernah? O-oke, pernahkah kamu berpikir untuk bersamaku tujuh tahun lagi, sampai usiaku 24 tahun? Biasanya orang-orang menikah di usia 24, bukan? Pernah, kan?"

"—tidak."

"... Ba-bagaimana jika sampai umurku 21 tahun? Sampai aku lulus kuliah, dan kamu menemaniku di acara wisuda kuliahku?"

"—tidak pernah juga..."

"O-oke. Pernahkah kamu berpikir... untuk mencintaiku sampai tahun depan saja?"

"—tidak pernah."

"Sa-sampai tiga bulan lagi? Sampai hari jadi kita yang kedua?"

tidak pernah."

"Sebulan lagi! Pernahkah kamu berpikir untuk mencintaiku sampai bulan depan, sampai tahun baru! Kita akan merayakan tahun baru bersama di tempat kita pertama bertemu!"

t i d a k."

"... Aku lelah. Jadi sebenarnya kamu punya keinginan untuk tetap bersamaku atau tidak? Jujur, aku meraguk—"

"Stop."

"Aku ragu padamu, sungguh..."

"Dengarkan aku. Aku tidak pernah berpikir untuk mencintaimu selamanya, atau sepuluh tahun lagi, atau tujuh tahun lagi, atau bahkan sebulan lagi. Tidak pernah. Aku hanya ingin mencintaimu sampai besok. Itu saja."

"Besok? Jika begitu, daripada harus menunggu sehari lagi, akan lebih baik jika kamu putuskan aku sekarang!"

"Dengarkan aku baik-baik. Pahami aku. Hari ini tanggal sebelas. Hari ini, aku berharap agar aku bisa mencintaimu sampai tanggal dua belas. Kemudian, tanggal dua belas, aku berharap agar aku bisa mencintaimu sampai tanggal tiga belas. Tanggal tiga belas—"

"Kamu berharap agar bisa mencintaiku sampai tanggal empat belas?"

"Yap. Begitu seterusnya. Itulah yang kulakukan selama 22 bulan aku bersamamu ini. Saat awal kita bersama, aku tidak pernah berharap bisa bersamamu untuk 22 bulan ke depan. Aku hanya berharap bisa bersamamu sampai besok, dan memperbaharui harapan itu setiap hari. Nyatanya, aku bisa tetap memegang harapan itu sampai sekarang, bukan?"

"Hmmm..."

"Apa?"

"Te-terima kasih."

"Untuk apa? Justru akulah yang berterima kasih, karena kamu mengajarkanku bagaimana caranya mencintai. Dan satu hal lagi—"

"Ya?"

"Setiap malam, sebelum aku tidur, aku selalu mengucapkan satu permintaan yang tak pernah berganti—selalu sama setiap hari. Aku memohon—"

"...?"

"—agar jika besok pagi aku masih bisa bangun, namamu masih terselip dalam doa pagiku."
oke, lagilagi aku ngancurin prompt orang orz orz orz -_________-
dan kenapa aku sempet sempetnya ngedrabble *buang diri*

next: cloud/awan? :3
Quote
Like
Share

kuroliv
Honored Member
kuroliv
Honored Member
Joined: January 18th, 2010, 2:16 pm

December 11th, 2011, 4:35 am #172

prompt : cloud/awan
fandom : crossover sih indoolympians dan aussie wizarding school ._.
chara : scheherazade windsor; mireille osbourne.
"Aaaaaa—" Mulut gadis itu menganga ketika memaksakan dirinya membaca titel sebuah gedung. Penglihatannya terhadap tulisan sangatlah buruk, apalagi bila diharuskan membaca sebuah buku ketika di sekolah; lebih baik ia bertarung dengan Makhluk Baik daripada harus membaca. Ya, disleksia menghalanginya untuk belajar lebih banyak. "Tetap saja nggak bisa," ujarnya, memilih untuk menyerah dan mengerucutkan bibir akibat sebal berkepanjangan. Tulisan abjad itu bagai teracak di matanya, huruf-huruf yang tidak pernah bisa beraturan dan ditangkap dengan baik. Hanya untuk yang satu ini, ia menyesal dilahirkan sebagai demigod.

—yaterus? Memang ia peduli dengan hal-hal tidak menyenangkan seperti ini? Pfffft.

"Kau nggak bisa membaca?" Seorang pemuda tiba-tiba mengambil posisi di dekat gadis dengan surai cokelat bergelombang itu, ia berusaha untuk menahan tawanya. Biasanya pemuda itu langsung melepaskan tawa tanpa peduli siapa lawan bicaranya, namun kini tampak sungkan. Sang gadis hanya bisa mengangguk-angguk, tidak mengelak akan kekurangan yang dimilikinya. Iris kecokelatan pemuda itu berkilat, sepintas membaca titel gedung tersebut, "biar kubacakan ya."

"—heh, nggak perlu!"

Namun terlambat, "Center of Performing Arts; mau coba masuk? Kata orang-orang, pertunjukannya bagus-bagus." Tak peduli gadis itu mau berbicara panjang lebar, tak peduli orang lain akan melihat mereka dengan pandangan apa-yang-sebenarnya-terjadi, sang pemuda menggandeng pergelangan tangan sang gadis dan menggiringnya untuk masuk ke gedung kesenian tersebut. "Nanti akan kuajari membaca!" tambahnya lagi.

Oh ya, gadis itu kan tidak pernah bisa membaca. Tsk. "Nggak mau, nggak suka seni," sang gadis angkat bicara dan menghentikan langkahnya. Ia menggeleng perlahan, namun tidak melepaskan tautan tangan mereka. Bukan, bukannya ia tidak suka seni. Ia suka ketika anak-anak Apollo menyanyikan beberapa lagu setelah makan malam, atau mungkin saat Pesta Awal Summer maupun saat Pesta Akhir Summer. Ia juga suka ketika anak-anak Hephaestus menjual senjata untuk kepentingan para pekemah (dan itu termasuk seni, bukan?). Ia hanya... tidak suka ketika perkenalan pertamanya dengan pemuda itu harus berakhir di gedung kesenian dan belajar membaca. Nggak elit; itu istilahnya. Reading is not her cup of tea.

"Terus sukanya apa?" tanya pemuda surai gelap itu seraya mengamati lingkungan sekitar. Kalau ia boleh jujur, cuaca yang terbilang cerah dan awan-awan menggantung di atas sana tampak lebih menarik daripada melihat kesenian. "Melihat awan?" Walaupun ia tak seratus persen yakin dengan hal ini.

Gadis itu mengangkat alisnya, lantas menyahut, "not funny, i think."

"Jangan bilang begitu sebelum mengalaminya," jeda sebentar, "atau jangan-jangan kau tidak suka awan?" Nice shot. Kini pemuda itu hanya bisa terkekeh.
maaf promptnya nggak kerasa, sebenarnya untuk prompt never tapi tadi keduluan kakak cilpi >______>
;; //////////// ;;
euh. euh. mireille/serra. euh. *dibuang* *anaksendirijuga*
nggak mungkin mereka bisa ketemu dan sama-sama sekalem itu D:


next prompt : world/dunia.
I wonder, do you still r e m e m b e r?
The things that aren't always reflected in the eyes are important.




? newest fic: counterfactual. ?

{ thanks for the userbar, The Silver Frenzy. }
Quote
Like
Share

Dani
Honored Member
Dani
Honored Member
Joined: November 3rd, 2008, 3:38 am

December 11th, 2011, 5:02 am #173

prompt : world/dunia
fandom: ndak dikasi judul
chara: alexander en reon-nyan~
"Tambahkan pasirnya di sini," kata Alex pada Reon ketika mereka sedang membuat istana pasir di pinggir sungai dekat dengan pantai. Dari kejauhan mereka terlihat seperti dua anak autis yang masa kecilnya tidak bahagia sehingga mereka bermain pasir tanpa melihat sekitar dan tanpa melihat waktu yang sudah mulai mendekati tengah malam.

"Kenapa kita jadi bermain pasir?" tanya Reon sambil membentuk pagar untuk istana yang dibangun kakaknya.

"Aku sendiri tidak, tahu. Ah!! Diam! Aku sedang stress!" ujar Alex sambil menepuk-nepuk istananya agar sesuai bentuk yang diinginkannya.

Reon hanya mengangguk.

Tanpa mereka sadari, seorang pria yang sedang menggendong kucing berwarna hitam memperhatikan mereka dari jarak yang agak jauh sehingga dia tidak terlihat. Pria itu hanya tersenyum sinis melihat mereka. "Sepertinya dunia jadi milik mereka berdua, ya?"

Kucing itu menanggapi, "Nyaa~"
lol

next prompt: goddess/dewi
Quote
Like
Share

Silent Afterglow
Honored Member
Silent Afterglow
Honored Member
Joined: December 23rd, 2010, 9:52 am

December 11th, 2011, 5:45 am #174

Prompt: Goddess/Dewi
Fandom: Erh...Is yet to be named.
Character: Shiva, the Empress of Ice
"Lakukan sesuatu padanya, Shiva!"

Shiva terkikik pelan melihat lawan contractor-nya itu. "Sesuatu, eh? Ayo kita lihat apa yang bisa aku lakukan." Rufina hanya menaikkan alis tanda bingung. Shiva lalu menegakkan kepalanya, kakinya yang jenjang dan hanya diselubungi sebuah kain tipis menjejak di tanah yang kering. Tatapan matanya yang biru jernih menyembunyikan hatinya yang beku dan dingin seperti es, geraknya bagaikan dewi yang turun dari langit. Ada betulnya sih soal dewi...Julukannya adalah Empress of Ice - kaisar wanita es. Ia dengan mudah mengendalikan badai salju, tapi tentu ia tidak akan memberikan pertunjukan se-spektakuler itu pada kemunculannya yang pertama, bukan?

"Aku adalah Shiva. Salju dan es tunduk pada perintahku. Jadi sekarang...Tidurlah...Dalam kesendirian."

KENAPA SHIVA SEREM GINI.

Next up: Cauliflower / Bunga Kol (eh saya lupa. Betulin aja kalo salah ya.)
"I will shoulder the burden."
~Kain Highwind, Dissidia [012] Final Fantasy~


♪|♪|♪|♪|



Peraturan ada bukan untuk jadi pajangan. Mohon ditaati.
Ini, ini, dan ini juga bukan pajangan.
avasig (c) me
Quote
Like
Share

biaaulia
Newbie
Joined: October 3rd, 2009, 7:16 am

December 13th, 2011, 1:25 pm #175

Prompt : Cauliflower
Fandom : random
Character : random
Cauliflower. Disebut juga Brassica oleracea.

Atau bekennya, di kalangan ibu-ibu pasar dan abang-abang pasar, kembang kol.

Benda dengan ujung permukaan berwarna putih, dengan tekstur kasar-kasar-enak yang kalau dilihat-lihat dari jauh, formasinya mirip formasi awan. Dikelilingi dengan lembar-lembar daun warna hijau yang cenderung malah dijauhi orang untuk tidak dimakan. Sekilas, dilihat dari jauh, tidak ada yang aneh dengan sebongkah kembang kol yang kini berada di tangannya. Kembang kol yang sama seperti kembang kol biasa yang dijual penjaja lain di pasar tradisional favoritnya. Tidak ada bau-bau kena amis ikan dari tukang ikan yang berada tepat di sebelahnya.

Dilihat dari dekat?

Ada yang menggeliat-geliat keluar dengan seksinya. Yang membuat ibunya menjerit ketakutan dan menyumpah-serapahi abang-abang penjualnya. Yang membuatnya nyaris mengembalikan si kembang kol inosen tersebut ke tempatnya semula.

Nyaris.
Tanya kenapa.

Random. HAHA.

Next prompt : Ayat #edisilupabahasainggrisnya

A moment, a love, a dream aloud
- Sweet Disposition, The Temper Trap -
Quote
Like
Share

neolavender
Honored Member
neolavender
Honored Member
Joined: August 25th, 2011, 10:05 am

December 16th, 2011, 8:35 pm #176

Promp: Ayat
Fandom: Unknown
Chara: Shin, dia, suara lain
Kertas itu adalah satu lembar ayat dari koleksi kenangan hidupmu, sebuah pengingat yang membuat kau terikat akan masa lalu yang ingin kau lupakan.
Tapi tidak bisa. Karena satu, ayat itu masih kau genggam erat dengan tangan dinginmu; dan dua, karena kau menyesali tindakanmu kala itu. Kau menyesal telah meninggalkan dia. Kau menyesal telah kehilanganya. Kau menyesal... karena kaulah yang membuatnya hilang dan meninggalkanmu. Kau membunuhnya, kan?
Untukmu, yang tersayang.
Aku menulis surat ini setelah merenungkan banyak hal. Kita berdua adalah manusia. Kita melakukan kesalahan--aku, melakukan kesalahan. Jadi sudikah kau memaafkanku? Ayo kita rajut masa depan yang lebih cerah...

Kau telah dibutakan oleh rasa benci sebelum membaca ayat itu. Tanganmu kini kotor dan tak ada sabun yang cukup mutakhir untuk membersihkan dosa yang menempel di kedua tanganmu itu. Jadi? Kau melakukannya. Hal bodoh itu.
"Shi-shin?!" terdengar suara yang lain pagi itu. Lalu, "KYAAAAA!" Mereka menemukanmu, Shin. Tak bernafas--dengan tangan menggenggam ayat itu, yang berlumuran dengan darah.
=_= gaje parah...
eniwei, next prompt: dragon/naga
Just call me Neo or Rene
Contact me in:


|| Twitter || Facebook || fanfiction.net || AO3 || E-mail me ||
?Levi is someone who (usually) doesn?t show trust to anyone, but Erwin is the only person he meets with complete trust.?
[+] spoiler
RIP, Erwin. You're still the best commander humanity has ever seen. We will always love you.
Quote
Like
Share

Deleted User
Deleted User

December 16th, 2011, 10:47 pm #177

Promp: dragon/naga
Fandom: tidak diketahui
Chara: Aito, Reva

Lelaki berparas imut itu memandang dompetnya dan mangkok yang semakin bertambah susunannya. Gadis itu makan dengan sangat lahap. Dia dikatakan sebagai reinkarnasi dari naga. Pantas saja semua yang ada pada cewek itu selalu berlebihan. Kekuatannya, makannya, bahkan tidurnya.
Piring-piring semakin banyak bertambah. Aito semakin frustasi dengan nasib dompetnya. Bukannya dia pelit. Tapi kalau seperti ini dia tidak akan bisa melewati bulan ini dengan selamat. Dia mau cari makan dimana coba? Uang saja tidak ada. Minta sama Reva? Jangan mimpi. Wong, gadis itu saja tiap hari selalu makan diluar. Aito menyesali peebuatannya untuk mentraktir gadis itu. Susah kalau naksir cewek mengerikan. Harus siap dompet. Harus siap hati.
Reva meletakkan piring sambil bersendawa. Cewek satu ini memang kurang sopan. Tapi bunyi sendawa itu seperti bunyi lonceng surga. Tandanya ia sudah selesai makan. Aito bernapas lega dan meminta bon.
Cowok itu bengong melihat tagihan makannya. Bahkan uang di dompetnya tidak cukup untuk membayar setengah tagihan itu. Aito panik. Panik tingkat setan sebenarnya. Kalau sendirian dia lebih milih kabur. Lah, kalau berdua? Jadi dia harus bagaimana untuk membayar tagihan luar biasa itu? Jadi tukang cuci piring? Masa cowok keren kayak dia jadi tukang cuci piring sih? Bisa hancur harga dirinya.
"Pergi yuk," ajak Reva. Aito bingung.
"Hah? Bayarnya?"
"Udah kubayar barusan," ujar Reva sambil memperlihatkan kartu kreditnya.
Aito membuang muka. Lain kali ia tidak usah sok baik jika ingin membawa jalan-jalan tuan putri ini.Bikin malu saja.

next prompt: air/water
Quote
Share

Ann-chAn
Honored Member
Ann-chAn
Honored Member
Joined: September 5th, 2010, 1:47 pm

December 17th, 2011, 12:05 pm #178

Prompt: air/water
Fandom: no
Chara: aku
Kutatap cermin air itu. Kutelusuri tiap detail wajahku yang terpantul di sana. Dan kau tahu?

Kusibak lapisan air yang menunjukkan betapa buruknya wajahku.

Aku sungguh membenci wajahku sendiri. Mata yang penuh amarah, bibir yang mengucapkan sumpah-sumpah serapah, pipi yang tercoreng luka. Semuanya, aku benci semuanya.

Setelah beberapa saat, lapisan air kembali tenang, kembali memantulkan visual wajahku yang buruk. Lamat-lamat kusadari, bahwa air ini akan selalu kembali--tak pernah lelah memberitahumu tentang segala keburukan yang ada pada dirimu. Tidak ada gunanya menghukum air, karena dia hanya akan beriak sesaat sebelum kembali tenang.

Karena itu, aku menghukum diriku. Kubuat keburukan itu--tiada.
*lagi depresi*
Next: Salju/snow
Someday, somewhere, anytime, in any place--
--in the night of all the angels
Take me to the nowhere land
nowhere - FictionJunction YUUKA
Horeee, saya sudah sesuai peraturan!
Quote
Like
Share

Deleted User
Deleted User

December 17th, 2011, 4:31 pm #179

Prompt: Salju/snow
Fandom: -
Chara: Violet, James.

Benda-benda putih itu mulai berjatuhan. Semakin lama semakin banyak. Membuatnya kedinginan. Hingga ia harus merapatkan jaketnya agar merasa hangat. Napasnya tinggal satu-satu. Kakinya hampir tidak terasa lagi. Ia menatap dadanya yang kini berhiaskan cairan warna merah pekat. Ia tersenyum dan masih meneruskan jalannya. Hingga ia jatuh tersungkur.
"Ayah," katanya pelan saat merasakan tangan seseorang.
Mungkin hanya perasaannya. Karena ia adalah orang terakhir dari keluarga itu yang masih hidup.
"Aku pulang," katanya lagi, saat merasakan bahwa waktunya tak lama lagi.
Violet terbatuk sedikit dan mengeluarkan cairan berwarna merah pekat. Ingatannya melayang pada saat ia terakhirnya berduel dengan James, pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk membunuh Tuan Mudanya. Ia tersenyum karena tugasnya sudah selesai. Kemudian ia kembali terbatuk. Cairan merah itu keluar lagi, mengotori benda-benda putih yang turun semakin banyak.
"Uhuk!"
Ia terbatuk untuk yang terakhir kalinya di belakang halaman rumahnya. Dan tubuh tak bernyawa itu terkubur oleh salju. Semakin lama semakin banyak. Membentuk sebuah gundukan ganjil yang putih.


gaje sangat >///<
Next prompt: pulpen/pen
Quote
Share

Sanctuary
Honored Member
Sanctuary
Honored Member
Joined: April 9th, 2011, 12:16 am

December 18th, 2011, 8:53 am #180

Prompt; Pulpen/pen.
Fandom; ;D!
Chara; D:!
Grim terduduk kaku dihadapanku. Ia menatap telapak tangannya sendiri.
Tatapan kosong, sama seperti biasanya.
Andai mata itu dapat kucopot dan kuganti dengan mataku sendiri. Andai aku bisa membuatnya melihat lagi.

"Aku tidak ingin begini," Ia memulai dengan serak. Kemudian setelah berdeham, melanjutkan dengan suara yang lebih dingin;
'..jujur, aku bahkan tidak bisa merasakan keberadaanmu saat ini."

Aku memutar pena dengan tangan kiri, sedikit gugup. Samar-samar tercium wanginya yang hangat..
..tetapi makin lama, tangan ini terasa semakin mati rasa.

"Terimalah saranku dan pergi dari hidupku yang tidak nyata."

Penaku terjatuh dengan begitunya. Entah karena saking gugupnya tangan ini atau.. atau memang kata-kata yang sederhana itu memang melumpuhkan.

"Hanya karena kau tidak bisa melihat apa-apa, bukan berarti hidupmu tidak nyata."

"Kaulah yang menciptakan persepsi itu padaku," Ia menggelengkan kepalanya tak tentu arah, "aku tidak bisa mengambilkan pena yang terjatuh itu untukmu. Aku tidak akan pernah bisa menopang apapun dalam hidupku dan hidup orang lain.
Dan kau pernah bilang padaku kalau kau hanya mempercayai apa yang kau lihat.
Seandainya aku juga menggunakan prinsip itu, bukankah seluruh hidupku tidak nyata?"

Aku terpaku diam.
Aku ingin sekali mengambil pena yang terjatuh itu dan memutarnya kembali.
Paling tidak aku masih bisa merasakan bahwa tanganku kaku dan mulai terasa lumpuh disaat aku melakukan sesuatu dengannya.
Next Prompt; Horoscope | Horoskop.


I hope to hell
this is the last time I ever hurt.

what more do you expect from me?
Quote
Like
Share