Drabble Berantai Keroyokan

noiha
Honored Member
noiha
Honored Member
Joined: July 19th, 2008, 3:45 am

January 23rd, 2010, 10:40 pm #1

boleh nggak, min? (lirik admin) kalo nggak mangga dihapus aja.

oke, jadi drabble rantai-nya mirip topik ini. intinya, silakan membuat drabble sesuai prompt yang diajukan member sebelumnya, setelah membuat drabble jangan lupa membuat prompt untuk member selanjutnya. thread chain-drabble yang lama mangga dilanjutin, sesuai peraturannya yang bebas, tapi di sini ada aturan.

1. cantumkan fandom dan warning untuk konten-konten seperti yaoi/yuri/pwp/lime/lemon/smut/gore/sara/politis/ideologis/etc. ngerti lah, yaa.
2. entri hanya boleh dalam bahasa Indonesia atau Inggris.
3. M-rated ditulis dalam bentuk spoiler.
4. prompt maksimal rating T.
5. prompt ditulis dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris.
6. komentar di thread [C&C] Drabble Berantai Keroyokan.
7. eyd? baku-nggak baku? grammar? ya, sesuaikan aja.

-

DISCLAIMER: Semua entri di thread ini adalah milik pemegang franchise-nya masing-masing. Kami tidak mengambil keuntungan materi sedikit pun dari sini.

-

care to join?

prompt: forest/hutan
A.N.JELL
Jung Yong Hwa . Park Shin Hye . JANG GEUN SEUK! . Lee Hong Ki


I'm currently addicted to them xD
Quote
Like
Share

Ninja-edit
Honored Member
Ninja-edit
Honored Member
Joined: January 11th, 2010, 9:38 am

January 24th, 2010, 1:39 am #2

Prompt: forest/hutan
Fandom: Prince of Tennis
Charas: Marui Bunta, Kirihara Akaya. feat. Niou Masaharu & Yagyuu Hiroshi
Warning: hints of BL (Niou/Yagyuu)

Bunta tengah melirik ke arah kumpulan semak belukar di belakangnya untuk yang kesekian kalinya, ketika sebuah bola tenis meluncur ke arahnya dan menabrak dahinya dengan keras. Dengan suara berdebum ia terjatuh dan kini meringis kesakitan.

"Oi, Marui-senpai, apa yang kau lakukan dengan kepalamu itu? Fokus! Fokus kalau latihan!" Akaya memainkan raketnya, sebelah tangannya lagi berkacak pinggang mendukung raut wajahnya yang tampak berang.

"Sikapmu tak menunjukkan rasa hormat sama sekali terhadapku sebagai senpai-mu," Bunta menggerutu, bangkit berdiri dan menepuk celananya yang kotor. "Hoi, kau percaya sama hantu tidak?" bisiknya tiba-tiba.

Akaya menaikkan sebelah alisnya, "Ha?"

"Aku yakin, benar-benar yakin, aku mendengar 'sesuatu' di antara pepohonan hutan itu! 'Sesuatu'!" Bunta mendesis, bergidik menunjuk hutan di belakangnya dengan dagunya. Kedua bola matanya awas dan otot-otot di mukanya menegang.

Akaya tertawa hambar, "Ja-jangan main-main, Marui-senpai. Kita masih akan tujuh hari lagi di gunung ini, lho. Kau boleh saja jadi tukang khayal, tapi jangan membual yang tidak-tidak paling tidak untuk training-camp ini," ada getaran dalam suaranya, namun tetap tajam seperti biasa.

"Aku tidak mengada-ngada!" Marui bersikeras. "Aku mendengar suara-suara..." Marui menggenggam raketnya keras dengan peluh mengucur di dahinya, pupil matanya mengecil dan jantungnya berdetak cepat. "Su-Suara laki-laki... mengaduh, meringis, dan kadang mengerang..!"

Akaya tersentak, dipandanginya seniornya yang lugu itu dengan mata membulat. Detik berikutnya tawa membahana, "Mereka itu tak pernah lewatkan kesempatan, dasar, senpai-tachi itu. Musim panas bikin mereka makin panas saja," sahut Akaya di antara derai tawanya.

"Haa?" Bunta terbengong.

Jauh di dalam hutan, Niou dan Yagyuu tampak asyik dengan aktifitas mereka, ketika tawa kencang kohai mereka membahana. Niou sedikit mengambil jarak, "Si Bakaya itu, aku punya firasat dia sedang menertawakan kita. Lihat saja apa yang akan kulakukan dengan makan malamnya,"

-

A/N: gaje lol

-

Prompt: sunglasses/kacamata
Quote
Like
Share

Yusa Haruna
Intermediate Member
Yusa Haruna
Intermediate Member
Joined: July 28th, 2009, 10:11 am

January 30th, 2010, 5:01 pm #3

@Ayame-nee: Sunglasses apa kacamata beneran nih? Yasuwlah...

Prompt: Sunglasses/Kacamata (hitam)
Fandom: Gintama

--

Hijikata memandang jam dengan tatapan cemas. Ia harus bergegas pergi kalau ia ingin tiba tepat waktu untuk muncul di acara itu. Acara TV di mana ia dan kelompoknya akan bertanding, atau lebih tepatnya berdebat, dengan kelompok lain. Tapi masalahnya, ia tidak boleh dikenali orang! Pokoknya tidak boleh! Ia, Hijikata Toshiro, tidak boleh ada di acara TV itu. Tidak sebagai wakil ketua Shinsengumi.

Mata Hijikata tiba-tiba melihat sebuah benda. Benda yang dapat menolongnya: sebuah kacamata hitam.

Hijikata mengenakan kacamata hitam itu dan tersenyum puas.

"Dengan ini cukup. Sekarang aku bukanlah Hijikata wakil ketua Shinsengumi. Aku adalah Toshi, seorang anime-ota."

Toshi pun berjalan menuju stasiun TV, tempat ia dan teman-teman anime-ota nya akan berhadapan dengan para idol-ota.

--

Gyaa.. Maap geje sekali. Dan saya lupa judul acara TV nya (males ngubek2 animenya).


Prompt: kunci/key
My FFnet Profile |My Blog | My DA

君にないものは何もない、その手を伸ばすだけで。
遠いと感じてただけだよ。こんなに近くにあるのさ・・・
【幸せのありか~藤原祐規】
Quote
Like
Share

blackpapillon
Honored Member
blackpapillon
Honored Member
Joined: May 22nd, 2008, 9:35 am

January 31st, 2010, 8:20 am #4

coba ah..

Prompt: kunci/key
Fandom: Spiral: Suiri no Kizuna (Ayumu/Hiyono)


-

Sudah lama dia mengunci pintu dan menyusun ulang bahannya. Dulu seingatnya pintu itu terbuat dari kaca, transparan, cukup kuat, dan tak berkunci. Semua orang bebas untuk melihat ke dalam, apa saja yang mereka ingin tahu.

Tapi entah sejak kapan ia sudah mengubah semuanya. pintunya kin terkunci rapat. Bahkan ia mengubah bahannya dari besi yang sangat kuat. Belasan tahun seperti itu. Hingga orang tak ada yang berani mendekat. Hingga hanya ia yang paling tahu tentang dirinya sendiri. Dan ia menikmatinya biarpun sebenarnya sedikit merasa tersiksa.

Karena itu, seharusnya saat ia mendapati ada yang berhasil membobol pintunya, seharusnya ia tak suka.


Tapi, mengapa justru ia malah merasa lega?


-

"Narumi-san!"


lamunan Ayumu seketika. Seorang gadis berkepang dua, mata cokelatnya yang besar berkejap. Anak lelaki itu mendengus kesal, mengetahui acaranya diganggu. "Hn."

Gadis itu merengut, memasang ekspresi kesal yang lucu. Membuat "Kau selalu saja begitu jika dipanggil, Narumi-san! Sekali-sekali, panggil aku secara sopan! Aku ini se-ni-or-mu, ingat??" Mata besar gadis itu berkejap lagi, kali ini ekspresinya benar-benar membuat Ayumu ingin tertawa.

"Hn." Ayumu bangkit, membuat gadis itu melompat mengitarinya, sebelum kemudian mengikutinya.

"Mau kemana, Narumi-san?"

"Keluar," sahut Ayumu dari pintu, "karena kau berisik."

"A--"

Sebelum gadis itu sempat melanjutkan omongannya, Ayumu segera menambahkan kalimat lain. "Sebaiknya jangan dibiasakan teriak-teriak seperti itu, atau kalau tidak, kau tidak akan pernah menikah."

-

-

-

wajah gadis itu merah padam sebelum kemudian mengejarnya dan memberi satu pukulan keras di bahu. Ayumu hanya menyeringai mendengar omelan gadis itu,yang langsung memberondongnya seperti senapan. Ah, keseharian yang wajar.

-

-

Mungkin, sejak awal ia mengunci pintu... adalah karena ia ingin ada yang membukanya.

Ada yang mau menerimanya apa adanya.

-

-

Beribu kali kukunci lagi, kutahan lagi, kututup lagi... kau selalu berhasil membukanya kembali.
Hanya kau saja.




Bleeeeeeeeeh Dx Apaan iniiii D: tapi lumayan, akhirnya saya nulis lagi untk spiral biarpun cuma sedikit 8D

prompt: Teddy Bear / Beruang Teddy XD
Quote
Like
Share

Ninja-edit
Honored Member
Ninja-edit
Honored Member
Joined: January 11th, 2010, 9:38 am

February 1st, 2010, 2:34 am #5

@Ru+Blackpapillon:
Ayo main teruss

-
Prompt: Teddy Bear/Beruang Teddy
Fandom: Spiral~Suiri no Kizuna
Charas: Rio Takeuchi & Eyes Rutherford

Eyes tengah larut dalam permainan pianonya sendiri di tengah ruangan luas yang lengang, ketika suara sol sepatu berpantul dengan lantai keramik menggema. Dari sudut matanya dapat dilihatnya sesosok gadis kecil dengan rambut peraknya yang dikuncir dua.

"Eyes, Kanone menjahiliku," gadis kecil berpita besar itu menggembungkan pipinya, semakin mendekat.

Tangan terampil Eyes tidak berhenti menari di atas tuts piano, dengan lihai jemarinya melantunkan melodi yang tajam. "Jangan dihiraukan," sahutnya tanpa menoleh.

"Kanone bilang aku tidak boleh makan melon kesukaanku selama satu minggu. Aku bisa mati kalau begitu,"

Eyes menoleh kali ini. Ditatapnya gadis kecil bermata besar di sampingnya dengan seksama. "Apa yang kau lakukan kali ini, Ryo?"

Gadis kecil yang dipanggil Ryo itu mengangkat bahunya, "Aku cuma membuang isi perut boneka teddy bear yang dia belikan untukku dan ia pinta aku meletakkannya di salah satu bangku ruang tunggu rumah sakit,"

"Kenapa kau lakukan itu?" Eyes mengerutkan keningnya sedikit.

"Aku lebih suka boneka teddy bear berisi kapas dan busa daripada kabel-kabel, tuas air raksa, dan alat penghitung mundur," Ryo menatap Eyes lekat-lekat.

Eyes menutup kedua kelopak matanya perlahan, menikmati dentingan piano yang tercipta dari gerakan jemari lentiknya. "Akan kubelikan boneka yang kau mau," ucapnya kemudian, "sampaikan pada Kanone, aku yang akan menerima 'hadiahnya' itu,"

Rio berbalik dan berlari kecil ke arah pintu dengan riang, "YAY! Oke!" tepat sebelum ia menutup pintu di belakangnya, Rio menoleh sekilas dengan seringai samar di bibirnya, "Pastikan kau keluar secepatnya sebelum teddy bear-nya meledak,"

-

A-apa pula ini *sweatdrop* Udah lama ga bikin Spiral ^^;;

Prompt: Chocolate/cokelat
Quote
Like
Share

Fleddie Melkuli
Honored Member
Fleddie Melkuli
Honored Member
Joined: September 11th, 2008, 7:18 am

February 19th, 2010, 6:25 pm #6

cobain ah...
ini saya posting jg di LJ: LJ-nya Fleddie

Prompt: chocolate/coklat
Fandom: Bajaj Bajuri
Characters: Bajuri, Emak, Ucup, Said dan Stella (OC)
Rate: T

-------------------------------

14 Februari. Siang.

“Juriiiii!”

Bajuri buru-buru mematikan mesin bajaj. Tanpa nada nyaring itu saja, panggilan Emak tidak bisa dibantah.

“Bang, pinjem bajai-nya sebentar buat---”

Ini lagi. Makhluk item, pengangguran, pecicilan ini selalu saja muncul di saat tidak tepat. Kalau mau jujur, tidak ada saat tepat buat kemunculan Ucup.

“Ambil, no!” sahut Bajuri cepat-cepat. Kunci bajaj dilempar begitu saja. Si kunci mendarat pasrah di telapak tangan Ucup. “Ati-ati. Awas kalo sampe---“

“Juriii! Cepetan betulin antene!”

“I—iya, Mak!” sahut Bajuri. Tubuh gempalnya terguncang-guncang seiring dia mencari tangga.
Suara mesin bajaj terdengar meninggalkan ujung gang, abai pada derita tuannya. Tapi itu tak bertahan lama.

“Bang Juri kebangetan. Giliran gue yang pinjem, bensinnya abis,” gerutu Ucup. Terpaksa dia mendorong kendaraan buatan India itu pulang ke empunya. Sembari berharap diberi ongkos untuk naik metromini, dia terus merutuk Bajuri.

Yang dirutuk sedang di atap, menggoyang-goyang antene.

“Udah Mak?”

“Belum. Malah tambah rusak!” sahut Emak nyaring.

Tambah pula kerutan di jidat Bajuri. Hampir sebanyak kerutan di jidat Ucup yang kini sudah sampai di depan rumah petak mereka.

Hampir saja satu lagi ocehan nyinyir meluncur masuk ke telinga Bajuri. Satu benda kecil di jok belakang bajaj membungkam niat Ucup itu. Entah siapa penumpang ceroboh yang meninggalkannya di sana. Dia pasti tak tahu betapa besar perubahan yang dibawa oleh benda itu hari ini, di kampung ini.

“Coklat,” bisik Ucup girang. Dielusnya kemasan bening berbentuk jantung hati dan dihiasi pita pink itu. Makanan bulat-bulat mungil mengintip malu-malu dari balik untaian pita. Romantis dan manis. Sempurna.

“Stella pasti akan menyerah pada Yusuf bin Sanusi,” pikirnya, “ditimang-timang jadi setampan Nabi Yusuf, kini malah jadi penakluk wanita.”

Senyum merekah tetap menemani bibir Ucup hingga dia melintas di depan rumah Bajuri. Sosoknya tertangkap mata tua Emak yang masih awas.

“Heh, Item. Sono ke atas, bantuin si Juri. Dari tadi mbenerin antene nggak beres-beres,” semprot Emak.

Rontok sudah bayangan Stella dikelilingi bunga-bunga mawar pink.

“Antene-nya yang rusak, Mak,” sahut Bajuri dari atap, membela diri.

“Ambil antene elu buat gantiin antene gue. Cepetan!”

“Tap—tapi Mak, entar aye gimana---“ sahut Ucup terbata-bata.

Mata melotot Emak sudah cukup jadi jawabannya.

“I—iya, Mak.”

Ucup berlari ke rumahnya.

“Iteeeem!” seru Emak gemas. Sontak langkah Ucup terhenti. “Gimane elu mau nyopot antene kalo nggak pake tangga?”

O iya. Betul juga.
Ucup balik arah, berjalan cepat menuju tangga kayu di depan rumah Bajuri.

Eh, tunggu dulu. Masa’ mengambil tangga sambil mengempit coklat? Coklat ini diapain? Dititipin Emak? Nggak mungkin. Pasti langsung habis disikat Emak.

“Cepetan! Bentar lagi filem Shahrukh Khan di tipi!” Emak terus nyerocos.

Ke rumah dulu, naruh coklat, baru ambil tangga.

“Ucuuuup!”

Ucup mati langkah.

“Cepetan, Iteeeeem!”

Tangga, rumah. Rumah, tangga, rumah. Mana dulu?

Ah, untung ada Said.

“Id!”

Yang dipanggil berhenti. Dia melongo saja ketika tangan kanannya diraih Ucup, diberi barang, dan tangan kirinya ditangkupkan di barang itu. Masih melongo juga ketika Ucup ngacir begitu saja, meninggalkan dia tanpa penjelasan.

“Cup…”

Tapi yang dipanggil sudah sibuk menggotong tangga, mencopot antene, dan melakukan semua yang diperintah Emak. Tak peduli pada dirinya yang masih dilanda ketidaktahuan.

Sampai dia membuka tangan dan melihat barang itu.

Coklat. Kemasan jantung hati. Pita pink. Hari ini 14 Februari. Hari kasih sayang.

“Jadi selama ini Ucup menyimpan rasa…”

Said tak berani meneruskan kalimat di dalam otaknya.

-------------------

ini sih bukan drabble!

A/N: maap. gaje bin abal sangat!

Prompt: Nail/Kuku

Fleddie Melkuli is
sujeneng | konohafled | chainsling22
.
ayo bersahabat dengan peraturan biar makin disayang
Quote
Like
Share

lalaaa
Honored Member
lalaaa
Honored Member
Joined: May 3rd, 2009, 4:35 am

February 22nd, 2010, 9:32 am #7

Prompt: Nail/Kuku
Fandom:Apollo Justice: Ace Attorney
Characters: Apollo, Trucy
Rate: K+

--

Trucy memandangi cat kuku itu seakan-akan ia melihat oasis di tengah padang pasir, bagaikan sedang bertemu kembali dengan ayahnya yang sejak lama menghilang.

Entah sejak kapan, namun baru detik ini Apollo menyadari tatapan kelaparan yang Trucy luncurkan kepada Vera dan cat kukunya. Selama ini, tak pernah ada bukti-bukti yang menunjukkan keinginan Trucy akan sebuah cat kuku, atau hal-hal yang berbau feminin lainnya. Apollo malah berpikir bahwa mungkin pesulap cilik itu takkan pernah tertarik dengan hal-hal yang biasanya diinginkan remaja-remaja perempuan sepantarannya.

Tetapi, deduksi itu akhirnya dipatahkan oleh kejadian ini.

Trucy--yap, Trucy Wright yang itu--kini memandang penuh harap kepada sebuah botol cat kuku milik orang lain.

Apollo mungkin akan memaklumi bila yang kini sedang Trucy pandangi, dengan bola mata cokelat membesar dan tangan yang terkepal erat seperti itu, adalah sebuah alat sulap yang sangat mahal sehingga Mr. Wright tak bisa membelikannya. Tetapi, yang kini ia inginkan bukan hal itu. Melainkan sebuah cat kuku.

Cat kuku.

Ya, kau tak salah baca--sebuah cat kuku.

-

-

...Mungkin dunia akan kiamat besok.


-

-

"Hei, Trucy," ucap Apollo pelan, bermaksud mengalihkan tatapan Trucy dari cat kuku yang malang itu, "kau mau cat kuku seperti itu?"

Trucy menoleh, kemudian terlihat sedang berpikir sebentar. "Hmm, nggak," jawabnya pelan. Ia mulai memperhatikan kuku-kukunya, sembari melanjutkan, "Kupikir, bisa saja aku melakukan sebuah sulap dimana setelah aku meminum sebuah cat kuku, tiba-tiba, bukan kuku yang berubah warna! Tetapi--taraaa!--rambutku yang berubah!"

-

-

Hening.

Masih juga hening.

Kayaknya, cuma kamu yang mengganggap sulap semacam itu keren! Apollo menggaruk-garuk kepala seraya ia memutar bola mata, tak tahu ingin membalas apa atas ide 'brilian' asistennya itu.

"Hei, Polly! Gimana? Bukankah ini ide hebat, hm?" desak Trucy dengan nada bangga.

"...kayaknya semua orang bakalan lebih suka Ms. Underwear, deh."

"HEI! Namanya Magic Panties, Polly!"

--

ASDFGHJKL--ini juga bukan drabble. kepanjangaaaaan. T^T
m-maafkan saya, wahai starter yang bijaksana.

dan maaf atas keabalan dan betapa pointless-nya fic ini. ;_;

edit:
prompt: magic/sihir

—but then you were gone.
Quote
Like
Share

Ninja-edit
Honored Member
Ninja-edit
Honored Member
Joined: January 11th, 2010, 9:38 am

February 23rd, 2010, 2:07 am #8

Prompt: Magic/Sihir
Fandom: Prince of Tennis
Charas: Niou Masaharu & Yagyuu Hiroshi
WARNING: Hints of BL
NOTE: Yagyuu's POV

--

Niou Masaharu. Anak kelas tiga Rikkai Daifuzoku. Anggota klub tenis putra. Keahliannya adalah memanipulasi lawan dan menipu mereka dengan ilusi yang diciptakannya. Julukannya adalah Petenshi, Trickster of the Court. Selalu terlihat santai dan serampangan.

Dia adalah pasangan gandaku.

-

"Yagyuu, aku tidak bawa bekal makan siang hari ini, minta punyamu."

Seenaknya, dan tidak mau mendengar kata 'Tidak'.

"Yagyuu, nanti sepulang sekolah aku mau main game, pinjam uang."

Tidak peduli apakah sikapnya mengganggu orang lain atau tidak.

"Yagyuu, buatkan aku PR Sejarah, aku malas."

Memerintah orang lain seolah siapapun adalah budaknya.

"Yagyuu, bertanding melawan Golden Pair dari Seigaku nanti, kita hancurkan mereka dengan ilusi kita."

Tidak pernah mendengarkan pendapat orang lain, semua tergantung keinginannya semata.

"Yagyuu, aku puas melihat Golden Pair itu hancur di tangan kita. Aku memang hebat. Seharusnya mereka tahu diri, toh biarpun mereka 'Golden Pair' dari Seigaku, kita adalah 'Platinum Pair' dari King Rikkai."

Tidak pernah menghargai usaha orang lain, dunianya adalah dunia miliknya sendiri. Mengagumi dirinya sendiri, mungkin dapat kukatakan ia narsis.

"Yagyuu! Kudengar kau main tenis dengan si ular dari Seigaku itu?! Siapa namanya? Kaidou? Ya, Kaidou! Jangan bermain tenis dengannya lagi! Dengan siapapun juga tidak boleh!"

Posesif yang sangat berlebihan.

"Yagyuu, aku ada kencan dengan cewek kelas sebelah hari ini, kau carikan alasan buatku menghindar dari cewekku yang kemarin ya."

Padahal dia sendiri hidung belang.

"Yagyuu, aku sudah menyempurnakan Illusion-ku. Sekarang bahkan jenius dari Seigaku--si Fuji Syusuke itu sekalipun, pasti bertekuk lutut di hadapanku."

Dengan keahliannya memanipulasi lawan, menciptakan ilusi yang membuat siapapun tak berdaya di hadapannya.

"Yagyuu, si Bakaya itu percaya saja kalau cegukan sebanyak seratus kali maka dia akan mati. Sekarang dia sedang menangis di ruang klub. Apanya yang 'Devil Akaya'? Dia cuma anak cengeng yang mudah dibodoh-bodohi! Puri"

Antara yang bohong dan kenyataan, tak dapat dibedakan dari setiap kata yang meluncur dari mulutnya.

"Yagyuu, cuma kau yang betul-betul kusuka. Tidak ada yang lain."

Kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat siapapun terlena.

-

Niou Masaharu sang Petenshi. Trickster of the Court. Mampu menyihir siapa saja dengan kata-katanya yang mempesona dan tatapannya yang membuatmu terlena.

"Yagyuu, hanya kau yang paling mengerti aku."

Bagaikan sihir--

"Aku suka Yagyuu. Jadilah pacarku."

--tak pernah dapat kuhindari.

"Baiklah." --adalah satu-satunya jawaban yang keluar dari mulutku, setiap kali ia meminta sesuatu dariku.

Aku telah tersihir oleh pesonanya, jatuh ke dalam ilusinya.

Niou Masaharu. Sang Petenshi dari Rikkai. Trickster of the Court.

Trickster of the World.

--

Euh... gomen kalo aneh ^^;;
Panjang pula ha-ha-ha *tawa hambar*

Buat yang ga ngikutin Tenipuri, jurus Illusion Niou ini semacam mengopi jurus lawan, dan/atau membuat lawan berpikir dia adalah orang lain. Misal saat dia berubah jadi Tezuka Kunimitsu dari Seigaku dan The Bible Shiraishi Kuranosuke dari Shitenhouji ketika melawan Fuji Syusuke sebagai Singles 2, di Pertandingan Nasional.
Kadang juga menipu lawan dengan kata-katanya yang bikin lawan gentar, atau menyamar menjadi Yagyuu. Intinya dia pandai mempermainkan mental orang. (siapa yang nyuruh ngejelasin?? *dilemparin tomat*)

-
Prompt: Beach/Pantai
Quote
Like
Share

noiha
Honored Member
noiha
Honored Member
Joined: July 19th, 2008, 3:45 am

February 25th, 2010, 2:59 am #9

Prompt: Pantai
Fandom: The Wild Thornberries (Hayoo ada yang inget ga kartun ini? Haha)
Karakter: Eliza, Darwin, Donny, hewan-hewan yang diculik langsung dari lokasi
Rating: K

-

Srek srek.

Byur byur

Ckrek ckrek

"Aduh, jangan injak kakiku!"

"Ssst..." bisik Eliza galak, memperingatkan simpanse berbaju garis-garis yang sejak tadi mengeluh ini itu. Gadis berkepang dua itu mengelus kameranya yang tadi terkena tangan tidak tahu sopan santun simpanse bernama Darwin itu. "Aku sudah susah payah merayu Mom agar dipinjami kamera ini," Eliza menghela nafas ketika sepasang tangan mungil kini asyik mengutak-atik kamera yang tergantung lemas di leher Eliza. "Tidak, Donny. Aku harus berhasil memotret mereka kali ini."

"Huh, apa istimewanya, sih," Darwin, simpanse yang tentu saja bicara dengan bahasa simpanse (Eliza senang ia bisa mengerti dan dimengerti oleh hewan, akan tetapi terkadang Eliza bingung harus bersyukur atau mengeluh karena bisa mengerti bahasa Darwin. Sungguh tidak enak mendengarkan seekor simpanse mengeluh setiap lima menit sekali), menggerutu seraya melemparkan pandangannya ke arah makhluk-makhluk mungil yang merayap dalam bisu. "Kau tinggal menghampiri mereka sambil bilang 'Hei, mau foto bersama kami?' dan ckrek! Kau dapat pose yang kau inginkan!"

"Jangan bodoh, Darwin," bibir Eliza membentuk seulas senyum tatkala pandangannya menatap makhluk-makhluk mungil yang istimewa itu. Anak-anak penyu yang baru menetas itu baginya layaknya seorang guru. Guru? Ya, kalau mengingat saat-saat ia harus berhadapan dengan masalah demi masalah, ia selalu malu jika disandingkan dengan anak-anak penyu itu. Dengan makhluk-makhluk mungil yang tanpa henti mengejar mimpinya untuk mengarungi samudra. Tak peduli ancaman laut yang mengganas, atau tangan-tangan usil yang mengganggu ketentramannya, anak-anak penyu selalu maju menuju biru yang membentang luas di hadapannya.

Dan jika ia mengingat saat-saat dimana ia ingin kabur saja, atau diam bersembunyi saja, ia merasa sungguh malu pada anak-anak penyu.

"Waaaw..."

Eliza menoleh, melihat Donny, si anak tarzan kini ikut terkagum-kagum sementara Darwin yang sejak tadi mengeluh kini tampaknya ikut merasakan haru ketika melihat satu dua anak penyu tersandung cangkang kerang dan bersusah payah melangkah lagi.

"Kau ingin membantu mereka, Eliza?" tanya Darwin.

Eliza menggeleng seraya tersenyum sebelum kembali serius menekan tombol kameranya. Merekam pemandangan ajaib di hadapan mereka. Sungguh, ada banyak hal yang bisa kau lihat di pantai. Ada begitu banyak keajaiban yang bisa kau rekam dari sebuah pantai. Tapi bagi Eliza, tidak ada yang lebih istimewa dibandingkan melihat anak-anak penyu yang menempa diri.

-

Prompt: Langit/Sky
A.N.JELL
Jung Yong Hwa . Park Shin Hye . JANG GEUN SEUK! . Lee Hong Ki


I'm currently addicted to them xD
Quote
Like
Share

Farfalla
Honored Member
Farfalla
Honored Member
Joined: December 8th, 2007, 4:22 pm

February 27th, 2010, 9:27 pm #10

Prompt: Langit/Sky
Fandom: .hack
Karakter: Antares, Phyllo
Rating: K+

Dari jembatan Mac Anu, aku melihat punggung Haseo menjauh ke distrik perbelanjaan. Manerismenya dengan jelas mengindikasikan agresi dan kekesalan. Beberapa orang pemain menyingkir dari jalannya. Ketakutan sekaligus kekaguman mewarnai ekspresi mereka. Reputasi Haseo tak pelak sudah mencapai mereka.

Aku menggeleng.

Tujuh belas tahun. Ah, betapa aku bersyukur aku sudah melewati usia itu.

Tujuh belas adalah usia yang merepotkan. Tidak cukup muda agar kau bisa bertindak kekanak-kanakan dengan sadar. Tidak cukup tua untukmu memiliki pembawaan orang dewasa.

Dan dalam kasus Haseo, usia labil ditambah berbagai kejadian yang menimpanya menciptakan kemarahan konstan dalam dirinya, yang kemudian melahirkan Terror of Death, PKK legendaris yang pernah membunuh seratus pemain dalam field.

"Apa yang kau lakukan ditambah dengan apa yang dilakukan kepadamu menghasilkan dirimu."

Aku menaikkan alis, menggerakkan ujung mataku untuk menangkap seekor kucing Tu Tribe melayang-layang di sampingku.

"Ah, teman lama," aku berkata. "Kurasa maksudmu: apa yang tidak membunuhmu membuatmu lebih kuat?"

"Bodoh," Phyllo membalas tajam, namun humor terlihat jelas di matanya. "Tapi memang seharusnya aku mengharapkan kata-kata itu dari mantan Emperor."

Aku tertawa. "Pak tua, observasimu tajam seperti biasanya."

"Apalah yang bisa kau banggakan selain kebijaksanaan untuk melihat apa yang tak bisa kau lihat di usia enam puluhku ini?"

"Bijaksana? Yang benar saja? Hahaha." Aku mengayun guci arak di tanganku seiring gelak tawa menyusuriku. "Hahaha. Pak tua perlu kuingatkan siapa yang menyelamatkanmu dari doppelganger?"

Phyllo mendengus. "Kebijaksanaan tidak selalu diukur dengan otot."

"Oh ya?" aku menyeringai. "Kuharap kau masih bisa berkata seperti itu ketika berhadapan tuan doppelganger."

"Ah, Antares, aku bersyukur tiga puluh lima adalah usia yang sudah kulewati, nak," Phyllo berkata dengan nada menasehati.

Seringaiku bertambah lebar. Aku berjalan ke pinggir jembatan Mac Anu, menaruh guci arakku dan mengistirahatkan tanganku di atas reling batu. Phyllo mengikutiku, mengambil posisi khasnya di jembatan Mac Anu.

Permukaan sungai berpendar jingga, merefleksikan matahari Mac Anu yang hampir tenggelam. Langit merona dalam berbagai warna matahari penghujung hari yang paling indah. Pemandangan abadi yang tidak pernah terasa statis ini adalah keajaiban Mac Anu.

"Hei, pak tua, sudah berapa lama kau bermain The World?" Aku bertanya tanpa alasan.

"Hmm," Phyllo tampak menghitung-hitung. Pandangan matanya mengikutiku, terpatri pada panorama abadi Mac Anu. "Sekitar beberapa tahun."

"Haha. Beberapa tahun. Jangan bilang demensia sudah mulai menyerangmu hingga kau tidak bisa menghitung sudah berapa lama semenjak log in perdanamu?"

Dengusan Phyllo kembali terdengar. "Antares, berikan pak tua ini sedikit keringanan dari humor konyolmu."

"Ah, tapi aku sudah menyimpan humorku yang paling konyol untuk Haseo," aku menyanggahnya dengan seringai yang kembali terkembang.

Phyllo mendesah. "Langit Mac Anu indah sekali hari ini," katanya. Jelas ia menyerah dan memilih untuk menyetir topik.

Aku menepuk bahu Phyllo ringan. "Sedikit arak akan membantu humormu."

---



Begitulah drabble gaje tanpa inti ini tanpa konklusi tanpa kesinambungan dan rushed ini terkonklusi.

Next Prompt: Keseimbangan/Balance.


picture me there with my hat down low
a smile upon my face to let you know
that I would like to take you home.

Livejournal|FF.net|AO3|Tumblr I

STAFF CONTACT LIST
This forum has rules, you know.
Quote
Like
Share