Zelva O'Connel
Intermediate Member
Zelva O'Connel
Intermediate Member
Joined: September 17th, 2010, 1:57 pm

February 23rd, 2013, 10:17 am #701

prompt: Reciprocate
fandom: Working!!
chara: Satou Jun, Todoroki Yachiyo
Rambutnya yang kecoklatan bergerak perlahan. ditiup angin sepoi-sepoi yang dia rasakan di halaman belakang rumahnya. Wanita itu duduk di kursi kau beralas bantal, tampak merenung, mengingat-ingat dulu sewaktu dia muda belia.


"Satou-kun, coba dengar! hari ini Kyouko-san menyuruhku membuat parfait ukuran jumbo rasa strawberry! Aku khawatir dia perutnya akan sakit, tetapi semua kekhawatiranku sirna setelah dia tersenyum dan menggunakan kata-kata yang manis padaku! Dia sangat sabar dan perlahan menenangkanku yang sedang panik saat itu, lalu... " Satou hanya mengangguk sembari memasak, sesekali berhenti untuk menolehkan kepala padanya dan berkomentar. "Kau memang terlalu baik padanya, Todoroki. Manajer yang bahkan sangat jarang bekerja itu.."

"Jangan mengejeknya, Satou-kun. Itu tidak baik. Lagipula, dia cukup bertanggung jawab, kok. Setidaknya dia perduli dengan keadaan karyawan-karyawannya.." Jun hanya terdiam, bersikap seolah acuh tak acuh. Rasanya sangat pointless bila perdebatan ini dilanjutkan.

"Ngomong-ngomong, Todoroki, bukankah seharusnya kau sudah bekerja sekarang? Jam istirahatmu sudah selesai." Melirik jam, Yachiyo tersentak. 'ASTAGA!'


'Kalau dipikir lag,i dulu aku ini sungguh naif, ya.' Yachiyo menghela napas, mengelus perutnya yang masih datar. Menyukai Kyoko-san. Astaga. Hal absurd apa yang telah kulakukan...

Tiba-tiba terdengar pintu terbuka dan sosok pria bersurai kepirangan mulai muncul. "Halo, Yachiyo. Sedang apa kau di sini? Kau bisa masuk angin.." Yachiyo berdiri dan menyapa suaminya. "Selamat datang, Jun. Ngomong-ngomong, aku memiliki sebuah kejutan untukmu." Yachiyo mendekatkan kedua bibirnya di kuping Jun, berbisik perlahan, "Aku.. hamil."

Beberapa detik kemudian Yachiyo sudah berada di pelukan Jun, berputar layaknya dansa, diiringi tawa suaminya. "Benarkah? Terima kasih, Yachiyo. Terima kasih. Kuharap kau dapat memperjuangkannya sampai 9 bulan ke depan..."

Yachiyo mengedikkan bahu, lalu memegang kedua pipi Jun dengan dua tangannya. "I was just returning the favor, dear. Kau sudah mau bersabar menunggu dan memperjuangkanku selama bertahun-tahun, kini giliranku melakukannya."
Next prompt! Oolong tea.
A silent, but attractive boy, or an obedient yet innocent wolf?
You decide.

Quote
Like
Share

the-antabellum
Premium Member
the-antabellum
Premium Member
Joined: January 13th, 2013, 8:22 am

February 23rd, 2013, 2:12 pm #702

Prompt: oolong tea
Fandom: Kuroshitsuji
Chara: Ciel, Sebastian
"Tok, tok, tok." Suara ketukan Sebastian terdengar dari pintu kamar milik Ciel.

"Selamat pagi, Tuanku." Sebastian membangunkan Ciel sambil membawa masuk sebuah troli berisi satu set peralatan minum teh.

"Ah, hari ini Oolong Tea ya, Sebastian?" Ciel membaui aroma teh di kamarnya.

"Anda memang ahlinya, Tuanku."

Ciel meminum tehnya sambil membaca koran pagi ini. Tak ada yang menarik. Seperti biasa, penangkapan pelaku pembunuhan, pencapaian perusahaan besar, kegiatan amal bangsawaan, berita dari Istana, dan pertandingan berdarah.

Tunggu dulu, pertandingan berdarah?

Ciel membaca berita itu dengan lebih seksama. Sebastian, yang sedari tadi hanya memperhatikan Tuannya itu akhirnya membuka mulut.

"Maaf Tuanku, tadi pagi, kurir dari Ratu membawakan sebuah surat," ucapnya sambil mengulurkan sebuah amplop putih.

"Kenapa kau tak bilang dari tadi?" Ciel menarik surat itu sambil berkata dengan nada yang cukup keras. Mungkin lebih tepatnya berteriak.

"Karena Anda tak bertanya, Tuanku," ucap Sebastian polos.

Dengan geram Ciel membuka surat itu. Benar saja, surat itu berisi tugas dari Ratu kepada Ciel untuk menyelidiki kasus tersebut. Ciel membaca surat itu dengan seksama.

"Sebastian, mari kita bersiap-siap. Hari ini kita akan datang ke Stadiun Auckshire," perintah Ciel kepada Sebastian. Lalu menghabiskan Oolong Tea miliknya.

"Ya, Tuanku," jawab Sebastian sambil membungkukan badannya.
Next prompt: blood/darah

It's good to be different - Luna Lovegood

Find me on:
TWITTER | FFN
Quote
Like
Share

Joined: January 13th, 2012, 7:52 am

February 24th, 2013, 2:41 am #703

Prompt: Blood/Darah
Fandom: Record of a Fallen Vampire
Chara: Akabara Strauss, Cynthia (1st Black Swan)
_____________________________________________________________________________________________________

"Akhirnya aku menemukanmu... Akabara Strauss!"

Akabara mengalihkan pandangannya dari rembulan yang bersinar indah. Matanya yang sewarna dengan Ruby menatap sosok seorang gadis berpakaian ksatria dan berambut hitam legam yang panjang. Gadis itu menyilangkan lengannya, seakan hendak melindungi tubuhnya dari serangan apapun yang akan tiba.

Akabara tidak bergerak, sang Raja Vampire itu hanya memandang dingin sosok gadis yang ada di hadapannya. Matanya kembali ia arahkan untuk memandang rembulan.

"Kau...beraninya kau mengacuhkanku!"

Gadis itu langsung menyerang dirinya, tetapi Strauss dapat menangkis tangan gadis itu. Entah kenapa, Strauss tidak tahu, tetapi instingnya yang tajam mengatakan bahwa lengan gadis itu bukanlah lengan biasa. Ada hal yang berbahaya yang terkandung pada lengan itu.

Benar saja.

Strauss melihatnya,pada punggung tangan gadis itu tergambar sebuah angsa berwarna hitam dan lengannya dihiasi tato berwarna hitam yang melilit tangan. Strauss dapat merasakannya, itu bukanlah tato biasa, ada sihir yang terkandung di tato angsa hitam itu.

Gadis itu terus menyerang tanpa henti, sementara Strauss terus menangkis. Terlihat sekali gadis itu hendak membunuhnya, akan tetapi bahkan kekuatan sihir dan kecepatan gadis itu tidak sebanding dengan dirinya. Strauss terlihat meneliti kekuatan sihir gadis itu yang terlihat abnormal saat lengan gadis itu hendak menusuk jantungnya. Secara refleks, Strauss langsung mengeluarkan kekuatan sihirnya untuk melindungi dirinya. Gadis itu terpental jauh.

"Siapa kau?" Strauss bertanya dengan suara dingin.

Gadis itu mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya.

"Aku adalah Cynthia Saberhagen, Black Swan yang pertama, dengan kekuatan ini aku akan membunuhmu Akabara Strauss," jelas Cynthia sambil menyilangkan lengan di depan wajahnya, memperlihatkan tato angsa hitam yang ada di tangan dan lengannya.

Akabara Strauss paham, ini akan menjadi pertarungan pembunuhan. Strauss tak ingin melukai dan membunuh siapapun, akan tetapi sepertinya gadis ini siap membuang nyawanya untuk membunuh dirinya. Cynthia menyerang, Strauss menangkis. Pertarungan yang tak akan pernah berhenti hingga salah satu dari mereka mati, meskipun tentu saja , level Strauss jauh diatas gadis bernama Cynthia itu.

Tak akan pernah berhenti. Dengan berat hati, Strauss mengeluarkan kekuatan sihirnya, menghentikan serangan Cynthia untuk selamanya. Membunuh gadis itu. Strauss tak ingin membunuh dan melukai siapapun. Apapun yang dilakukan oleh Raja Vampire itu telah terencana dan terorganisir dengan baik. Ia tak ingin ada nyawa yang hilang secara sia-sia. Akan tetapi, demi melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang Raja, langkah ini sangat penting untuk dilakukan.

Cynthia bersandar lemah pada batu besar di belakangnya. Darah mengalir dari sudut bibirnya, tangan gadis itu berada di perutnya, seakan hendak menahan darah yang mengalir dari sana. Strauss menatap gadis itu dengan penuh penyesalan.

"Setidaknya... aku... sudah... melaksanakan... kewajibanku... pada... ibuku, Maria Saberhagen," gumam gadis itu melemah.

Strauss masih menatap Cynthia dengan rasa sedih. Tak seharusnya gadis ini mati karena dirinya.

"Jangan memasang... wajah seperti itu, wahai Raja Vampire. Aku tak... pernah membenci dirimu," gumam Cynthia.

"Maafkan aku," gumam Strauss.

"Justru aku... yang harus meminta... maaf. Setelah aku mati, gadis lain yang terpilih oleh 'Black Swan' ini akan muncul kembali... dan akan berusaha membunuhmu," Cynthia menatap mata Ruby milik Strauss.

"Selamanya... kau akan terus... dipaksa untuk bertarung dengan kami, para Black Swan. Hingga suatu saat nanti... seorang Black Swan akan mampu... membunuhmu dan Sang Ratu,"

Pandangan mata Cynthia menggelap, gadis itu menghembuskan napas terakhirnya sambil tersenyum.

Strauss menatap tangannya dan menggenggamnya dengan kuat. Sampai kapan ia harus menjalani kehidupan yang penuh dengan darah ini. Mungkin untuk selamanya,hingga seorang Black Swan mampu membunuh dirinya, Strauss harus menjalani kehidupan yang penuh dengan darah.

Strauss kembali menatap rembulan yang bersinar pucat.

"Apakah sang rembulan akan memberkati jalanku yang penuh dengan darah ini, Stella?" gumam Strauss sedih.

Angin dingin berhembus dengan lembut.
______________________________________________________________________________________________________

X_X wow... apakah ini?

Next promp: Wind/Angin
Latifun Kanurilkomari,
Terus Semangat Untuk Terus Berkarya



My Fanfiction My FacebookMy DA
Quote
Like
Share

the-antabellum
Premium Member
the-antabellum
Premium Member
Joined: January 13th, 2013, 8:22 am

February 24th, 2013, 6:41 am #704

Prompt: Wind/angin
Fandom: Naruto
Chara: Hinata, Naruto.
Burung kertas. Salah satu hal yang pernah Naruto ajarkan padaku. Memerlukan ketelitian, ketekunan dan kesabaran dalam membuatnya.

Burung kertas. Naruto mengajarkanku membuatnya di tengah padang rumput dengan angin semilir yang bertiup pelan menyejukkan.

Burung kertas. Naruto pernah menceritakan kepadaku bahwa kalau kau sudah membuat 1000 burung dari kertas, satu permohonanmu akan terwujud.

Namun aku tak pernah percaya. Yang kuyakini, setelah membuat 1000 burung kertas, kau akan mendapatkan kepuasan setelah menyelesaikannya.

Angin. Salah satu hal yang sangat menyebalkan kalau bertiup dengan keras. Kertas-kertas dan burung hasil kerja kerasmu akan hilang tanpa sanggup kau halangi kepergiannya.

Sama seperti kepergian Naruto. Dia pergi untuk belajar pada Tuan Jiraya. Dan aku tak akan bisa menghalanginya.

Setelah tiga tahun, aku tetap melakukan kebiasaanku membuat burung kertas. Sudah sejak lama aku menomorkan burung hasil ciptaanku. Lebih efisien dan tak perlu menghitung lagi.

Hari ini, jumlahnya tinggal sedikit lagi sehingga menjadi 1000.

Kubawa beberapa lembar kertas ke padang rumput favoritku. Seperti biasa, membuat burung kertas sambil menikmati semilir angin dan pepohonan Konoha yang hijau.

Ah, tinggal satu lagi. Kubuat burung kertas terakhirku dengan penuh ketelitian. Selesai sudah.

"Angin, tolong sampaikan pesanku padanya. Supaya ia cepat pulang," ujarku mengucapkan permohonan kepada burung kertas ke-1000 itu.

Dan angin mendengarkan pesanku. Ia menerbangkan burung kertas itu.
.
.
Hingga tiba di tangan Naruto yang baru saja memasuki Konoha.
Hua, ini kok jadi burung kertas sih? :shock:
Maafmaaf :P

Next prompt: confused/bingung

It's good to be different - Luna Lovegood

Find me on:
TWITTER | FFN
Quote
Like
Share

Raiha Laf Qyaza
Honored Member
Raiha Laf Qyaza
Honored Member
Joined: October 16th, 2010, 3:15 am

March 2nd, 2013, 8:07 am #705

Promt: Confused/Bingung
Fandom: Sket Dance
Chara: Tsubaki Sasuke

Malam ini Tsubaki Sasuke lagi-lagi datang untuk makan malam di rumah keluarga kembarannya--Bossun. Kelas tiga ini hubungan mereka menjadi semakin erat, bahkan Bossun pun sudah pernah makan di rumah Tsubaki sekali. Mereka semua sekarang sudah selesai makan, dan Tsubaki sedang melihat-lihat foto-foto kedua orang tuanya. Bertemu mereka sangat membuatnya merasa tenang.

Perlahan ia menelusuri foto-foto di album itu.

"Hoi, apa yang sedang kau--Oh, lagi melihat mereka, tidak ada bosan-bosannya ya kau?" celetuk Bossun. Ia menghempaskan dirinya di sebelah Tsubaki dan melihat foto-foto itu bersama.

"Lihat, ayah mirip sekali kan denganku?" pamer Bossun dengan cengiran bangga.

Tsubaki menoleh kepada Bossun sebentar untuk mengecek, lalu melihat lagi foto ayahnya. Memang mereka sangat mirip. Tsubaki kemudian melihat foto ibunya yang sedang tersenyum senang. "Apakah aku mirip ibu?" tanyanya pelan.

"Hm?" sahut Bossun. Ia merebut album itu dan membandingkan wajah Tsubaki dengan foto ibunya. Lalu ia tertawa terbahak-bahak.

"A-Apa!" kata Tsubaki, tersipu malu.

Bossun tertawa, "Tidak, bodoh! Ibu itu mukanya seperti ini," Bossun berusaha memimikkan wajah ibunya. "Sedcangkan wajahmu seperti ini," Bossun sekarang berusaha merubah wajahnya semirip mungkin dengan wajah Tsubaki.

Adik Bossun yang melihat itu langsung menerjang mereka. "Kakak, kakak, coba mimik muka Switch!"

Dan jadilah permainan konyol di antara mereka. Dimana sang adik memilihkan muka dan sang kakak berusaha meniru muka itu.

"Tsubaki, coba kau pasang muka goblok!"

"M-Muka macam apa itu?" tanya Tsubaki dengan polosnya, yang membuat Bossun dan adiknya tertawa terbahak-bahak.

Tsubaki setelah itu ikut tersenyum juga melihat wajah goblok yang dicontohkan oleh Bossun.

Terkadang ia bingung. Kenapa manusia tidak elit seperti ia bisa jadi kembarannya? Tapi ia tidak menyesal. Ia memang masih bingung, tapi ia tidak sabar akan hari dimana ia akan berhasil menerima semua itu suatu saat nanti.
__________________________________________________

Er... Okay, Next Prompt: Ice/Es
"It's hard looking for someone so small, so don't leave my side."
Quote
Like
Share

mizuraina
Intermediate Member
mizuraina
Intermediate Member
Joined: January 14th, 2013, 5:01 am

March 13th, 2013, 8:54 pm #706

Promt : Ice/Es
Fandom : Naruto
Chara : Sasuke x Sakura
.
Semua orang-orang yang pernah bersinggungan denganmu pasti berpendapat kau orang yang dingin, acuh, tak peduli dengan hal apapun yang menurutmu tak penting. Bahkan, orang-orang yang bisa dikatakan dekat denganmu pun tak bisa menerka apa yang ada di dalam hati dan pikiranmu.

Kau bagaikan es. Dingin. Menusuk.

Walaupun ada beberapa orang yang peduli padamu, memerhatikanmu, bersahabat denganmu, kau tetap saja memasang raut wajah datarmu. Menyembunyikan semua emosi yang sebenarnya tersirat di dalam kalbumu. Tak tahukah kau, hei Sasuke, ada seseorang yang sungguh-sungguh peduli akan dirimu?

Tak pernahkah kau menyadari bahwa ada seseorang yang menyimpan perasaan tulus padamu? Seseorang yang sekelompok denganmu di team seven. Seseorang yang selalu ingin melindungi segaligus menangisimu. Seorang Kunoichi yang kau bilang cerewet dan cengeng.

Tapi, setelah semua yang ia lakukan padamu, kau membalasnya dengan perlakuan dinginmu, wajah tanpa ekspresimu, senyuman ejekanmu. Titik puncaknya kau membalasnya dengan kepergianmu dari desa daun itu. Kau masih ingatkah saat gadis itu dengan bercucuran air mata bertekad menahanmu? Masih ingatkah saat itu kau menidurkannya dan mengucapkan kata terima kasih yang ambigu?

Ah ya, tentu kau masih ingat. Seakan kau menyimpan kenangan pahit yang kau ukir itu di tempat khusus dalam sel otakmu.

Sebenarnya, di balik sikap dinginmu, kau juga peduli padanya. Kau juga memerhatikannya. Kau juga menyimpan sebuah perasaan padanya. Namun kau bisa menutupnya amat rapat seakan tak ada celah untuk terlihat.

Kau sebenarnya menyesal. Kau menyesal dulu emosi dan dendam membelenggumu. Kau hanya bisa berharap. Perasaan gadis itu tak akan berubah padamu. Gadis itu dapat memaafkan dan tersenyum lagi seperti dulu.
***
wah kayaknya rada gak nyambung nih. Apalagi pake second PoV. Gapapa lah xD

Next promt : smile (biar gampang XD) /dor
Its better to regret things that you've done. Than things that you didn't do at all. You might regret it for not doing it afterall
If you can't take risk. Then you can't make a brighter future
Quote
Like
Share

Joined: January 13th, 2012, 7:52 am

March 15th, 2013, 8:43 am #707

Prompt: Smile/ Senyuman
Fandom: Vocaloid
Chara: Kagamine Rin x Kagamine Len
__________________________________________________________________________________________________

Suram.

Itulah satu kata yang menggambarkan diriku. Tepatnya,bukan aku yang mendeskripsikan diriku dengan satu kata itu. Akan tetapi orang-orang disekelilingkulah yang seenaknya saja mendeskripsikan diriku dengan kata itu. Seorang gadis yang suram, pendiam, tak terlalu suka bergaul dan lebih suka dikelilingi oleh tumpukan buku. Well, apakah itu salahku kalau aku adalah sosok yang tidak terlalu pintar bergaul dan lebih memilih buku?

Hmm, mungkin beberapa persennya memang salahku juga karena tidak mau berusaha untuk bergaul. Hey, bukannya aku tidak mau bergaul. Akan tetapi mereka lebih memilih untuk menghindar dariku daripada harus terlibat denganku.

Nerd Book Girl. Itulah julukan mereka untukku.

Aku melangkah memasuki gerbang sekolah sambil menenteng koleksi buku-buku perpustakaan baru yang telah kucap. Lapangan basket pagi ini cukup ramai, padahal sekarang baru pukul 6 pagi sementara kelas dimulai pukul 8 pagi. Beberapa anggota klub basket sudah mulai bermain, mendribble bola dan mencoba memasukkannya ke gawang lawan. Selain itu beberapa anak perempuan yang berdiri di tepi lapangan berteriak-teriak histeris. Entah apa yang mereka teriakkan tetapi aku yakin mereka adalah para fangirls anggota klub basket.

Aku terus berjalan melintasi lapangan basket, mencoba tidak peduli pada keributan yang dihasilkan oleh teriakan para anak perempuan tersebut. Aku terus berjalan pelan, berhati-hati dengan tumpukan buku yang kubawa hingga-

BRUKK

Pandangan mataku menggelap.

.

.

.

"Hmm," erangku perlahan.

Aku membuka mataku perlahan, mendapati suasana putih yang menenangkan. Selain itu hidungku mencim bau alkohol yang tidak terlalu tajam.

"Ah, syukurlah kau sudah sadar,"

Sebuah suara menyadarkanku hingga aku menolehkan kepalaku perlahan ke arah sumber suara. Aku bisa melihat seorang pemuda berambut blonde cerah dan bermata sapphire indah, wajahnya tampak cemas sekaligus lega.

"Kamu... siapa?" gumamku pelan.

Pemuda itu mengangkat alisnya, tampak heran.

"Kau tidak mengenalku?"

"Memangnya kau orang terkenal?" gumamku lemah, masih merasa pusing.

Pemuda itu tertawa terbahak.

"Yah, sebenarnya aku juga memang orang terkenal sih. Tapi bukan itu maksudku. Kita sekelas, apa kau tidak kenal semua teman sekelasmu?"

Aku hanya bisa mengerutkan alisku.

"Aku Kagamine Len, kelas XI-2," ujarnya memperkenalkan diri. Aku hanya mengangguk pelan.

"Dan kamu Kagamine Rin kelas XI-2 juga kan?" lanjutnya.

Ah, aku baru ingat. Kelasku memang ada dua murid yang bernama Kagamine, yaitu aku dan satunya lagi pastilah pemuda ini. Hanya saja kami tidak memiliki hubungan darah.

Aku mencoba bangkit, rasa pusing di kepalaku sudah tidak terlalu terasa.

"Hei, jangan bangun dulu. Tadi kepalamu terkena bola,"

Aku mengingat-ingat peristiwa yang terjadi sebelum tiba-tiba pandanganku menggelap. Sesaat aku teringat semuanya. Aku menoleh panik, mencoba mencari dimana buku-bukuku.

"Bukuku...," gumamku panik.

"Ah, kalau tumpukan buku itu sudah kuletakkan di perpustakaan. Aku melihat cap perpustakaan-,"

Aku tidak mendengar ucapan Len. Aku langsung bangkit dan berlalri pelan menuju perpustakaan. Aku dapat mendengar Len yang berlari mengejarku tetapi aku tidak mempedulikannya. Saat aku telah tiba di depan perpustakaan aku langsung menghambur masuk. Aku menghampiri meja petugas perpustakaan dimana diatas meja itu terdapat setumpuk buku yang cukup tinggi. Aku mengecek jumlah buku tersebut, syukurlah tidak ada yang hilang.

"Ya ampun, kau lebih peduli pada buku dibandingkan kesehatanmu ya?" Len telah tiba di sampingku, napasnya agak terengah.

"Karena aku sangat mencintai buku," gumamku sambil tersenyum lega. Aku memandang Len dengan tatapan terima kasih.

Sesaat Len terdiam dan tak berkata apapun.

"Terima kasih telah mengantarkan semua buku ini," gumamku sambil masih tersenyum. Akan tetapi Len masih belum mengatakan apa-apa.

Tangan pemuda itu terjulur pelan menuju wajahku, jari-jarinya menyentuh pipiku. Sesaat aku bisa merasakan wajahku memanas, mataku juga menangkap sebersit warna merah tipis di pipinya.

"Aku...," gumam Len. Aku menunggu apapun yang hendak diucapkan Len.

"Kau gadis yang aneh!" ujarnya sambil menarik kedua pipiku.

"Aduh...aduh...aduh...," aku hanya bisa meringis kesakitan karena kedua pipiku ditarik. Len melepaskan kedua pipiku dan berjalan keluar perpustakaan.

"Aku sudah minta izin pada guru jam pelajaran pertama bahwa kita izin. Lebih baik kau istirahat dan masuk di jam pelajaran kedua," ujarnya tegas sambil keluar dari perpustakaan.

"Terima kasih...," gumamku meringis, masih merasakan sakit di kedua pipiku.
.

.

.

Kagamine Len menutup pintu perpustakaan dan bersender di pintu tersebut. Wajahnya memerah dan tangannya menutup bibirnya.

"Tadi apa sih yang kupikirkan?" gumamnya kecil.

Pikirannya kembali terbayang pada sosok Rin yang tersenyum dan menatap dirinya dengan lembut. Entah kenapa ekspresi gadis itu tadi sangat....euh....susah diungkapkan tapi... ekspresi Rin tadi sangat... mempesona?

Jantung pemuda itu berdetak kencang.

"Sepertinya dekat dengan gadis itu tidak baik untuk jantungku," gumamnya pelan sambil berjalan menjauhi perpustakaan.

__________________________________________________________________________________________________

Senyumnya kerasa 'gak sih? Ya sudahlah...

Next prompt: Matamu/ Your Eyes
Latifun Kanurilkomari,
Terus Semangat Untuk Terus Berkarya



My Fanfiction My FacebookMy DA
Quote
Like
Share

Magma Maiden
Honored Member
Magma Maiden
Honored Member
Joined: August 10th, 2011, 6:58 am

April 20th, 2013, 11:13 am #708

Prompt: Your eyes/matamu
Fandom: APHetalia, AU - Tomorrow Never Dies RP universe
Characters: Ivan/Russia, Niklaas/Netherlands, Ada/fem!Indonesia
Other details: triple drabblish plus one not-so-drabblish, three characters, second person POV, subtle prompt, plot bunnies ftw, death maybe?
1: Ned-Rus-Nes
2: Nes-Rus-Ned

[[ 1 ]]
Kau kebingungan.
Kau tak sempat menanyakan padanya, pada wanita muda yang membukakan pintu apartemenmu, mengapa wajahnya memucat begitu ia melihat siapa yang mengetuk pintu. Namanya belum selesai diutarakan lidahmu ketika matamu dan mata sang tamu bertemu.

Banyak hal berkelebat di kepalamu: saksofonmu, dokumen berisi informasi penting tentang mafia yang belum diserahkan pada petinggi MI6, kelincimu... namun kau lebih mencemaskan kekasihmu. Kau berteriak, menyuruhnya lari, namun pria besar itu jauh lebih cepat--


-------------------------------


Ini sungguh kejutan yang menyenangkan.
Peliharaan kecilmu ternyata memang berbakat menjadi penghuni dunia hitam. Pagi ini, misalnya, ia menuntunmu ke rumah salah satu kaki tangan MI6 yang sudah lama mengganggu kinerja anak buahmu dari balik samarannya sebagai musisi. Kausapa dia dan kauusap rambutnya yang dikuncir kuda, menjanjikannya hadiah besar.

Dari ekspresinya, pria Belanda itu tak menginginkan pembicaraan. Kau pun tidak; kau hanya menginginkan solusi cepat untuk masalah ini; secepat muntahan Makarov di genggamanmu--


------------------------------


Jantungmu serasa meloncat keluar dari rengkuhan rusuk.
Kau tak tahu mengapa pria Rusia itu bisa berada di sini; kau tak pernah memberitahukannya kehidupan pribadimu. Tetapi kau sadar kemunculannya bukan sesuatu yang baik begitu bosmu menjanjikan hadiah atas hasil kerjamu. Kaulihat pistolnya meninggalkan mantel, bersamaan dengan suara teriakan kekasihmu.

Kaurasakan sesuatu berdesir melewati telingamu, lalu sisa kata-kata pria yang kausayangi itu terpotong--


-----------------------------


[[ 2 ]]
Kaulihat Niklaas merosot di dinding, merah merekah di kemejanya. Ivan tersenyum lebar, puas.
Kau menjerit.
/
Mata-mata MI6 itu takkan mengganggumu lagi. Tapi kau tak mengerti mengapa anak buahmu tampaknya tak senang akan tindakanmu.
Lengan wanita muda itu lepas dari genggamanmu.
/
Sosok sang mafia dan kekasihmu mengabur. Satu sosok mendekat, wajahnya basah. Wajah familiar yang kaunanti kemunculannya di ambang pintu setiap sore.
Samar kaudengar Ada memanggil namamu. Samar tangisnya menggema. Samar sentuhan jemarinya yang bergetar. Samar kaurasakan bibirmu dikecupnya. Samar napasmu memudar...
hyaahyaahyaa~ sorry I (kinda) killed you, Ned, but you're still my favorite <3
next prompt: coriander/ketumbar
Quote
Like
Share

Zelva O'Connel
Intermediate Member
Zelva O'Connel
Intermediate Member
Joined: September 17th, 2010, 1:57 pm

April 21st, 2013, 4:07 am #709

Prompt: Ketumbar
Fandom: Gintama
Characters: Okita Sougo, Kagura, Gintoki, Shinpachi
"Danna, aku disuruh Kondou-san bawa makanan ini ke Yorozuya." Sosok pria berwajah tampan nan imut berdiri di depan pintu kediaman Gintoki dengan satu kantong plastik makanan.

"Ha? Tumben. Ada angin apa tiba-tiba dia mau ngasih makanan?" sang pemilik rumah mengupil, sama sekali tidak bergerak dari tempatnya berada. "Karena tampaknya makanan ini mencurigakan, Danna. Dia ingin memberinya dahulu padamu, siapa tahu beracun, gitu." Bohong, sih. Sebenarnya dia menerima paket makanan itu kemarin, ditujukan untuk Kondou-san. Sejujurnya Kondou-san sama sekali tidak tahu menahu akan hal ini. Dan sebagai Shinsengumi dia harus selalu waspada, jadi dia berniat untuk menguji coba makanan itu terlebih dahulu.

"Anggaplah ini permintaan dari pihak Shinsengu--" Gintoki langsung naik pitam.

"MEMANG AKU KELINCI PERCOBAAN? OI, SOICHIRO-KUN. BILANG PADA ATASANMU ITU KALAU KAMI TIDAK BERSEDIA MEMENUHI PERMINTAANNYA. KAMI TIDAK BODOH, DAN MATI DEMI PERMINTAAN KONYOL BUKANLAH MOTO KAMI!" Sougo masih berdiri dengan muka tanpa ekspresi.

"Namaku Sougo. Dan sebenarnya akulah yang berinisiatif melakukan percobaan ini, Danna. Jangan bawa-bawa nama Kondou-sa.."

"Tapi barusan kau bilang kau disuruh dia!"

"...dan aku yang memberi ide, untuk menjadikan kalian kelinci percobaan. Lagipula kau bukanlah sasaranku. Mana China? Aku ingin bertemu dengannya."

"Haaaaaaaa....? Kau ingin memberinya pada Kagura? Apa kau gila?"

"Aku tidak gila. Justru karena aku masih memiliki akal sehat, aku ingin mencobanya dahulu kepada Kagura. How?"

"Well, kalau--"

"APA KALIAN BERDUA SUDAH TIDAK WARAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAASSS?" Shinpachi yang sepertinya paling normal diantara anggota Yorozuya menggaruki kepalanya dengan frustasi. "OKITA-KUN! KENAPA KAU BERBICARA PADA GIN-SAN DENGAN NADA LAYAKNYA ORANG YANG INGIN BERTRANSAKSI SECARA ILEGAL? DAN KAU GIN-SAN! SEHARUSNYA KAU TIDAK MENJADIKAN KAGURA SEBAGAI TUMBAL! DIA DITITIPKAN PADAMU OLEH AYAHNYA, TAHU? BAGAIMANA BILA DIA SAMPAI TAHU ANAKNYA MENINGGAL?????!"

"...........kalau gitu gimana kalau kau saja yang coba, Shinpachi-kun?"

"OGAH! LANGKAHI DULU MAYATKU!"

"Oh, mudah saja." Sougo yang sejak tadi terdiam membawa bazookanya, diarahkan pada Shinpachi yang langsung berkeringat dingin.

"Tunggu dulu! Kenapa kau jadi ingin membunuhku?! Dan hanya karena makanan?!"

"Karena tadi kau bilang langkahi dulu mayatmu, bukan?"

"BUKAN ITU MAKSUDKU!"

"KALIAN BERISIK!" Tiba-tiba Kagura muncul dari belakang, menyerang Shinpachi. "Oi, sadist. Apa yang kau lakukan disini? Pagi-pagi sudah merusuh di rumah orang. Kau membuatku muak."

"Same here, China. Ini, ada makanan untukmu, coba dimakan."

"JANGAN DIMAKAN, KAGURA!" Shinpachi langsung memucat. Sougo hanya terdiam, tahu kalau kemauan besar dan rasa penasaran Kagura tidak dapat membuat peringatan apapun dari Shinpachi, berhasil masuk ke otaknya.

"Apa ini? Kau berusaha meracuniku?"

"Aku tidak serendah itu."

"Lalu apa ini?"

"Katanya ketumbar. Well, lebih tepatnya emping yang dilumuri ketumbar."

"Apa itu ketumbar? apa itu emping?"

"Itu tugasmu untuk mencari tahu, China." Setelah disodori, Kagura langsung memakannya. Untuk sepuluh menit pertama, tidak terjadi apa-apa. Sougo bernapas lega. Setidaknya makanan yang dikirim untuk Kondou-san tidak beracun. Bagus.

Tapi tiba-tiba tercium aroma yang tidak sedap.

".....Shinpachi, kau boker, ya?'

"ENAK SAJA!"

"Soichiro-kun, apa kau pipis di celana?"

Dia menggeleng. "Tidak. Dan stop memanggilku dengan nama itu. Kau sudah pernah memanggilku dengan sebutan itu di episode 86, tahu? Dan namaku Sougo."

Semua mata mendadak terarah ke Kagura.

"Oi, China... Kau kentut ya?" Kagura hanya membatu di tempatnya.

"Berarti benar, makanan ini ada racunnya...."

"SIALAN KAMU, SADIST! AKU AKAN MEMBUNUHMUUUU!!! AKAN KUKEJAR TERUS KAU SAMPAI MATI. BAHKAN SAMPAI DI DUNIA FANA SANA AKU AKAN TERUS MENGEJARMU!"
ahaha #plak

Next prompt! Kain.
A silent, but attractive boy, or an obedient yet innocent wolf?
You decide.

Quote
Like
Share

Magma Maiden
Honored Member
Magma Maiden
Honored Member
Joined: August 10th, 2011, 6:58 am

April 29th, 2013, 6:18 pm #710

Prompt: Kain
Fandom: Hetalia, slightly in Tomorrow Never Dies espionage RP AUniverse
Characters: siapa lagi, coba?
"Di dunia ini nggak ada yang gratis, tahu."

"Tapi seharusnya kau memberitahuku semalam. Ini namanya penipuan."

"Terus? Mau melaporkanku ke polisi? Aku hanya menawarkan tempat berteduh sementara saat kau menggigil kedinginan di trotoar. Seingatku, kau sendiri yang mengiyakan tawaranku."

"Sudah kubilang aku kehilangan dompetku. Aku tak membawa uang tunai dan semua kartuku ada di dompet."

Pria jangkung itu bersandar di pintu, jemarinya yang kurus panjang memainkan sebatang rokok yang belum dinyalakan. Matanya yang hijau cerah menatap wajah lawan bicaranya; yang lebih memilih untuk mendelik pada arakan awan kelabu di luar jendela.

"Begini saja," katanya, "bagaimana kalau kau membayarku dengan sebuah barang? Kau bisa mengambilnya lagi nanti setelah membayar harga yang kuminta."

"Aku ragu kau akan menemukan sesuatu yang berharga di tasku, kecuali ponsel - dan aku tak akan mau menyerahkannya." Meski begitu, si gadis berkulit coklat segera mengaduk isi tasnya, mencari-cari di antara catatan fisika dan bungkus permen loli. Setelah beberapa saat, ia menarik keluar gumpalan kain tebal. Sehelai syal.

"Ini bernilai lebih dari jumlah yang kauminta," ucapnya kesal saat syal itu berpindah ke tangan si pria jangkung. "Boleh buatmu, aku tak membutuhkannya."

"Ini kasmir."

"Memang. Aku pergi sekarang, kalau begitu."

"Senang berbisnis denganmu."
OTP. Awwyeaaah.

Next: subtlety/ketakkentaraan
Quote
Like
Share