Deleted User
Deleted User

August 2nd, 2011, 2:46 pm #491

member baru boleh post nggak ya?
prompt: record / rekam / rekaman
fandom: Vocaloid
chara: Miku, Kaito, Rin, Len
warnings : garing dan abal

"Rekaman hari ini gagal!" seru Miku sembari membanting pintu. Kaito yang tengah menikmati es krim vanilanya hanya mampu terlonjak kaget dengan pasrah dan menoleh ke arah Miku.

"Kenapa?" tanyanya singkat.

"Tuh si Rin, bikin ulah lagi. Bilang suaranya serak lah, nggak bisa nyanyi lah, apa lah. Terserah. Pokoknya rekaman hari ini gagal total! dan yang paling menyebalkan, deadline rekaman kita seminggu lagi! Seminggu dengan Rin yang berulah!" Miku mengomel panjang lebar. Rambut hijau birunya bergoyang-goyang kencang sekali, siap melibas siapa saja yang hendak memotong omelannya.

"Yang sabar. Toh kita pernah mengalami hari rekaman yang lebih parah dari hari ini."

"Nggak bisa! Ini parah sekali. Bahaya! Kita kan kerja sama dengan perusahaan luar negeri. Kalau melampaui deadline, bisa di kick kita."

Detik berikutnya pintu ruang istirahat tempat Kaito dan Miku berada terbuka. Berdiri di sana Rin Kagamine, dengan muka semerah kepiting rebus. Amarahnya sudah mencapai ubun-ubun--atau pita putihnya?

"Aku memang lagi nggak bisa nyanyi Miku! Aku bersumpah! Kalau aku nyanyi, semua akan hancur! Kamu mau pihak luar negeri menerima rekaman kita yang hancur dan abal?! Kamu mau kita dicap sebagai penyanyi nggak becus sama mereka?!" tantang Rin yang kini berkacak pinggang dihadapan Miku.

"Jelas nggak! Tapi kenapa kamu bisa serak di saat kita butuh begini sih?! Kenapa nggak hari lain aja?!" Miku kini ikut berkacak pinggang.

Mata Rin dan Miku beradu, mengeluarkan sengatan listrik kecil antara keduanya.

"Salahkan Kaito yang memberi cokelat sebelum kita rekaman!" seru Rin sambil menunjuk Kaito.

"Kok aku?! Kenapa aku diseret juga?" kini Kaito ikut dalam lingkaran perdebatan Rin dan Miku.

"Kamu memberiku cokelat!"

"Kan bisa dimakan nanti sehabis rekaman!"

Ketiganya tidak ada yang mau mengalah. Adu mulut masih terus berlangsung. Ego menguasai pikiran mereka. 'Aku tidak salah' pernyataan yang mendominasi otak mereka saat ini.

"Etto...rekamannya mau dilanjutkan besok tidak?" tanya Len yang sedari tadi berdiri di ambang pintu, mengamati mereka bertiga yang terus beradu mulut.

"Bisa diam nggak sih!" seru mereka kompak. Untuk semenit itu saja.
kok garing semoga ada yang tau tentang vocaloid di sini~

next prompt : jump/loncat :3
Quote
Share

Silent Afterglow
Honored Member
Silent Afterglow
Honored Member
Joined: December 23rd, 2010, 9:52 am

August 3rd, 2011, 1:45 pm #492

Prompt: Jump/Lompat
Fandom: Final Fantasy Versus XIII
Chara: Noctis/Diana
"Satu, dua, tiga, lompat. Berputar, berbalik, langkahkan kaki."

Diana hanya menatap dalam kekaguman bagaimana sang pangeran meluncur di atas es. Pisau sepatunya yang tajam membawanya meluncur dengan mudah, dan juga indah.

Sang gadis iri dengan pria multitalenta ini. Serbabisa, dengan juga fitur-fitur yang tak mengecewakan. Bagi sang gadis, Noct tampan. Dan ia mengakui hal itu. Bukan hanya dirinya, gadis-gadis lain mengakui ketampanan sang pangeran. Sepasang iris azure yang menawan namun dalam - dan terkadang berpendar sedih, dengan bentuk muka bak berlian terbaik - sang pangeran memang mempesona.

Diana menatap sang pangeran lekat - sebelum sang pangeran menghampirinya, dan mengulurkan tangannya.

"Mau melompat bersamaku?"

--

Next Up: Bell/Lonceng

"I will shoulder the burden."
~Kain Highwind, Dissidia [012] Final Fantasy~


♪|♪|♪|♪|



Peraturan ada bukan untuk jadi pajangan. Mohon ditaati.
Ini, ini, dan ini juga bukan pajangan.
avasig (c) me
Quote
Like
Share

lalaaa
Honored Member
lalaaa
Honored Member
Joined: May 3rd, 2009, 4:35 am

August 3rd, 2011, 2:51 pm #493

Prompt: Bell/Lonceng
Fandom: Gods Eater Burst
Character(s): MC/Alisa

--

Kala melihatnya, Alisa merasa seolah ada lonceng yang berdentang di dalam dirinya.

Terkadang dentangan yang cepat dan tak beraturan, membuat pipinya terasa panas tiap kali pemuda itu menatapnya sedetik terlalu lama. Terkadang dentangan yang terlalu cepat, seolah berlarian, begitu terburu-buru sehingga ia tak mampu mengambil napas dan yang ia mampu pikirkan untuk beberapa waktu kemudian hanyalah kamu, kamu dan kamu. Terkadang dentangan yang teratur, tak terlalu cepat dan tak terlalu lambat, yang menyebarkan perasaan tenang dan memaksa sudut-sudut bibirnya untuk tertarik naik.

Namun kali ini, sewaktu melihat punggung pemuda itu yang mulai menghilang di balik pintu Den, dentangan yang ia rasakan adalah dentangan yang tidak menyenangkan, tidak menenangkan.

Dentangan ini cepat - terlalu cepat, membuat bibirnya menekuk, membuat napasnya tercekat.

"Hei - "

Perkataannya terputus kala lelaki itu menoleh kepadanya, dengan permata cantik dan lekuk wajah sempurna dan segala hal yang mampu mendentangkan seluruh bel di dalam dirinya.

"Kau - kau tidak sedang akan melakukan sesuatu yang nekat lagi, bukan, Leader?"

Raut wajahnya berubah selama beberapa detik. Lalu, kemudian ia tersenyum dan tertawa dan - oh, dengarlah, lonceng dalam diri Alisa kembali berdentang.

--

fffffff mc/alisa♥
next prompt: heartbeat/detak jantung

—but then you were gone.
Quote
Like
Share

Farfalla
Honored Member
Farfalla
Honored Member
Joined: December 8th, 2007, 4:22 pm

August 6th, 2011, 2:53 am #494

Prompt: detak jantung
Fandom: Generation Kill
Chara: Brad Colbert

Dan ketika ia merasa lebih familiar dengan hamparan vista padang pasir tak berujung dan angin berpasir yang menusuk mata daripada kehangatan keluarganya, ia merasa bersalah. Ia merasa kotor dan tidak pantas duduk satu meja dengan keponakannya yang masih berusia dua tahun. Ia teringat akan Suhar, gadis kecil bermata jernih dengan kaki yang terinfeksi parah oleh serpihan peluru. Ia teringat akan M16-nya. Senjata yang selalu bersamanya bagaikan bagian dari tubuhnya. Ia merindukan familiaritas senjata tersebut. Menembak itu sangat mudah, semudah detakan jantung, sebuah proses yang natural baginya.

Next prompt: Stasiun terakhir


picture me there with my hat down low
a smile upon my face to let you know
that I would like to take you home.

Livejournal|FF.net|AO3|Tumblr I

STAFF CONTACT LIST
This forum has rules, you know.
Quote
Like
Share

Deleted User
Deleted User

August 6th, 2011, 7:54 am #495

Prompt: Stasiun terakhir
Fandom: Persona 4
Chara: Souji Seta
Hari ini dia pindah sekolah lagi. Pindah kota lagi. Semua karena urusan pekerjaan ayah ibunya yang tidak bisa ditunda.

Souji terpaksa pindah ke tempat pamannya di Inaba, sebuah kota kecil yang damai dan tenang. Hanya desas-desus sih. Souji sendiri belum pernah ke sana jadi dia belum tahu Inaba seperti apa.

"Yasoinaba, Stasiun Yasoinaba."

Suara operator mengagetkan Souji dari lamunannya. Dia segera berkemas dan turun dari kereta.

Stasiun Yasoinaba akan menjadi stasiun terakhir tempat Souji berpijak, jika dia salah langkah dalam memilih jalan hidupnya. Lebih tepatnya jalan hidup yang sudah digariskan padanya.

--

next prompt : gunting
Quote
Share

himura kyou
Honored Member
himura kyou
Honored Member
Joined: January 18th, 2009, 7:44 am

August 6th, 2011, 9:49 am #496

prompt: gunting
fandom: Sayonara Zetsubou Sensei
chara: Itoshiki Nozomu dan Fuura Kafuka
curhat: dari fanart+fanficmini bikinan sendiri. #krik.
"Sensei~ mau meninggikan badan lagi?"
Sepotong kalimat penuh keceriaan menginterupsi tepat saat Nozomu akan mengalungkan tali tambang ke lehernya. Dengan senyum dan tawa, Kafuka tak pernah lelah berpikir positif terhadap apapun, serusak apapun logika yang menyertainya. Gadis itu belum juga berhenti berbicara tentang indah dan manisnya hidup hingga membuat Nozomu makin putus asa dan histeris.
.
"...Fuura-san, sudah saya bilang saya tidak ingin meninggikan badan, saya ingin pergi dari dunia yang penuh keputusasaan ini!"
"Eh? Bukan begitu cara untuk pergi dari dunia ini!"
Nozomu hanya menampakkan raut heran ketika muridnya itu menyeret kursi ke samping kursinya yang digunakan untuk berpijak sebelum lompat gantung diri. Kini mereka berdiri di ketinggian yang sama, namun Kafuka masih harus berjinjit untuk meraih atas kepala gurunya yang berpostur tinggi.
"Fu-Fuura-san, apa yang mau kau lakukan?"
"Tenang Sensei. Aku akan membantumu."
.
Sebilah gunting berpindah dari saku rok ke jemari mungil Kafuka. Sambil masih berjinjit dan mengangkat tangan berguntingnya tinggi-tinggi, akhirnya Kafuka berhasil mencapai utas tali tambang yang menggantung di langit-langit.
Cres.
"Fuura-san! Saya benar-benar mau gantung diri! Kenapa kau potong talinya!?"
Ada helaan nafas lega yang samar dari Nozomu. Namun hal itu tidak dilihat oleh Kafuka yang merapat dan mengurangi jarak tubuh mereka. Ujung gunting di tangan mungilnya menyusuri wajah, lalu turun ke leher dan mendarat di dada gurunya. Keringat dingin mengucur bersama dengan firasatnya yang memburuk. Dan ujung gunting itu makin menekan, dan menekan, dan menekan.
Jleb.
"Fu... Fuura....sa...n?"
"Sayonara, Zetsubou-sensei.."
Ia jatuh terebah dengan lubang di paru dan jantungnya. Seulas senyum hangat yang tulus dari sang murid mengantar kepergiannya dari dunia ini.
next prompt: exotic/eksotis (?)
Quote
Like
Share

hansel.
Honored Member
hansel.
Honored Member
Joined: February 13th, 2009, 7:18 am

October 30th, 2011, 2:32 pm #497

prompt: exotic/eksotis(?)
fandom: indoolympians; percy jackson universe (c) rick riordan
chara: elsea osbourne; clifford osbourne; lucy canfield.
Dunianya sedang sangat kacau bagi gadis sebelas tahun bersurai ikal ini.

Ayahnya menikah dengan seorang wanita yang telah memiliki anak. Kakak yang baru dikenalnya saat upacara pernikahan Dad ternyata adalah setengah dewi—dan ia baru mengetahui fakta keren yang satu ini, ugh. Tambahan lagi, saudara tirinya, putri istri baru Dad rupanya juga keturunan dewa dan telah mengenal Cliff semenjak bertahun-tahun yang lalu. Sebagai adik resmi seorang Cliff Osbourne, ia merasa.. kesal, cemburu, iri—kakaknya nampak lebih akrab bersama dengan Lucy dibandingkan dirinya. Bukan hanya itu, kasih sayang Dad yang hanya dirasakannya di waktu tertentu kini terbagi, memberikan porsi yang lebih kecil baginya.

Sang gadis merengut kesal. Terkadang ia ingin menjadi egois, namun otaknya masih cukup rasional untuk mencegah Elsea berlaku apapun yang akan disesali di masa mendatang.

...

“Cliff, Cliff, lihat,” menyodorkan foto sebuah tanaman eksotis pada saudaranya. “Kakek mendapatkan enceng gondok ini asli dari Indonesia. Katanya dia memakan serangga. Aku sudha membaca ensiklopedia tentang tanaman ini, dia—” berlanjut beberapa menit.

“Cliff, Cliff, lihat,” menyodorkan foto seekor burung di dalam sangkar yang memiliki bulu bagai pelangi. “Kalau yang ini nenek diberi temannya, katanya asli dari daerah Asia. Aku lupa dari negara mana, tapi warnanya bagus ya. Khas daerah tropis, semacam eksotis begitu. Katanya—” lagi, berlanjut beberapa menit hingga sang gadis kehabisan materi untuk diujarkan.

“Cliff, Cliff, lihat,” menyodorkan satu album dan membuka halaman pertama seraya menunjuk foto yang terpampang di sana satu per satu. “Ini hadiah dari Dad saat ulang tahunku yang ke sembilan. Kalau yang ini, tetangga yang memberikan. Yang ini, aku lupa dari siapa, pokoknya hadiah saat ulang tahunku yang kedelapan. Cliff masih mendengarkan kan?”

...

“Rumah kakek nenek penuh hewan dan tumbuhan yang eksotis. Banyak hal yang bisa Kau harus berkunjung untuk melihatnya dengan mata kepalamu sendiri ya, Cliff. Janji ya bakal datang. Ya? Ya ya ya?”

Ceritanya, haus kasih sayang. Pemaksaan dalam gestur samar.
hasil galau gegara ga bisa nolong kakak :”| #yaudahsih #emangbelomlahir =’))
promptnya ga kerasa? yaudahlahya 8D *plak*


next prompt: gate/gerbang.

IN ONE bang BLOOD RUSHED TO THE head
she'd rather fly through the sky than walk with the dead

Quote
Like
Share

himura kyou
Honored Member
himura kyou
Honored Member
Joined: January 18th, 2009, 7:44 am

October 30th, 2011, 6:24 pm #498

prompt: gate/gerbang
fandom: The Legend of Zelda - Ocarina of Time
chara: Link & Navi & Redead (pre-timeskip)
Pertemuan pertamanya dengan para zombie nista di gua bawah pusara keluarga Kerajaan Hyrule sungguh tak terlupakan. Desahan horor, lompatan mendadak, lalu pelukan erat yang menghisap nyawa tanpa ampun tentu membekaskan trauma yang amat mendalam bagi bocah sekecil Link. Navi si peri cerewet yang senantiasa membantu di setiap keadaan pun hanya diam membisu, entah karena syok melihat adegan tersebut atau memang tidak tahu cara mengatasi Redead. Link sudah tidak peduli harta apa yang tersimpan di ujung gua itu, yang penting segera keluar kembali ke Desa Kakariko untuk menghancurkan semua gentong yang ada.
.
Terkapar di samping sumur desa, nyawa Link telah penuh kembali setelah menghancurkan ratusan gentong milik penduduk. Namun bulu kuduknya tetap merinding tiap kali teringat kejadian nista itu. Akhirnya ia memutuskan untuk ke Kastil Hyrule, menemui Putri Zelda dengan harapan mendapat penghiburan dan sedikit cuci mata.
.
Jarak dari Desa Kakariko ke Kota Hyrule tidaklah jauh. Tapi langit jingga suram menunjukkan sebentar lagi malam, sementara gerbang Hyrule hanya dibuka selama hari masih terang. Tragedinya bersama Redead tadi siang sudah lebih cukup, Link tidak ingin berhadapan dengan Stalfos malam ini. Cepat-cepat ia berlari melintasi Padang Hyrule menuju gerbang Kerajaan sebelum bulan menampakkan diri.
.
Sedikit lagi. Duapuluh langkah lagi. Langit makin gelap. Sepuluh langkah lagi.
"Hey! Dengarkan! Hey! Hey!!"
Navi tiba-tiba berkoar, mengagetkan Link hingga langkahnya terhenti. Dan tepat lima detik kemudian lolongan serigala tanda pergantian waktu terdengar lebih memilukan dari biasanya.
.
"Link! Saat malam tiba akan ada monster dari dalam tanah! Hati-hati!"
Bintang bermunculan di atas langit, begitu pula Stalfos yang bermunculan dari bawah tanah. Sambil terpaksa mendengarkan ocehan Navi yang berisi 90% info penting dan 9001% info sangat tidak penting, Link hanya bisa meratapi gerbang Hyrule yang berjarak lima langkah darinya telah ditutup. Kalau saja berhasil mendapatkan Lagu Matahari dari gua tadi, ia tidak perlu menghabiskan satu lagi malam yang indah bersama para Stalfos.
...abal orz
next prompt: tower/menara
Quote
Like
Share

Haruki_Irish!
Honored Member
Haruki_Irish!
Honored Member
Joined: June 4th, 2009, 5:10 am

November 19th, 2011, 3:49 am #499

prompt: tower/menara
fandom: friday night lights
chara: matt saracen; julie taylor.
Helai-helai rambut pirang gadis tersebut kini ditiup angin musim semi—tidak keras, namun dengan lambat dan menyentuh dengan kasih sayang. Gadis itu sendiri kini mendekatkan tubuhnya ke arah sang pemuda berambut coklat yang matanya menatap putri sang coach lekat-lekat. Sebuah senyum terukir di wajah gadis tersebut, membuat wajah oval sang mantan QB-1 itu dipenuhi semburat merah hangat. Willis Tower masih lengang, membuat keadaan di sekelilingnya terasa semakin privat. Romantis, mungkin...untuk kedua pasangan baru ini. Dari atas menara ini mereka bisa melihat Chicago dari atas. Sebuah pemandangan yang menyenangkan; manik Matt maupun Julie sayangnya kurang tertarik mengamati panaroma kota Chicago. Tentu saja karena ada panaroma yang lebih indah bagi mereka.

"Julie—," pemuda itu lantas menunduk. Tiba-tiba terasa malu. Wajahnya semakin hangat. "—aku...aku sayang padamu, kau tahu kan?"

Gadis itu mengangguk perlahan. Lembut. Senyum kembali mengembang, disertai semburat merah yang sama.

Pemuda itu lantas memeluknya erat-erat—sangat tiba-tiba. "Aku senang menikmati musim semi ini bersamamu." Matt mengucapkannya pelan. Ia teringat masa-masa dirinya sendiri di Chicago. Bukan sesuatu yang paling menyenangkan. Ia merindukan gadis di pelukannya ini—teramat sangat. Rasanya begitu lega begitu ia bisa mendekapnya lagi, melihatnya lagi, kembali mengajaknya mengobrol, kembali bisa mengajaknya berjalan bersama—ya, itu semua terasa begitu menyenangkan.

....mungkin saat ini Matt Saracen bersikap kelewat sentimentil, tapi kenapa?

"Aku juga." Gadis itu menjawab perlahan, suaranya dibawa angin yang menerpa keras menara. Binar matanya menatap Matt, membuat pemuda itu menjadi seorang pemuda yang paling beruntung...setidaknya bagi dirinya.
abal yay
next prompt: gestured/mengisyaratkan.
"I just need to be able to connect to people like you can...
then I can make everyone happy."*


(icons | mine)
Quote
Like
Share

himura kyou
Honored Member
himura kyou
Honored Member
Joined: January 18th, 2009, 7:44 am

November 19th, 2011, 10:23 am #500

prompt: gestured/mengisyaratkan
fandom: The Legend of Zelda - Ocarina of Time
chara: Link, Malon, Navi
"HYAA!"
Tangan Link teracung pada Epona yang tengah merumput di lapangan Peternakan Lon Lon. Kuda itu tersentak akibat teriakan barusan, namun tidak kalah kagetnya gadis yang berdiri tepat di samping si peneriak. Malon tidak pernah mengerti apa yang diucapkan teman barunya. Selalu saja hanya gumaman, gerutu, teriakan, atau apapun yang tidak dapat dibentuk menjadi sepotong kata bermakna.
.
"Ada apa, Link? Ada apa dengan Epona? Dia baik-baik saja kok."
"HYAA!!"
"Oh, kau ingin menungganginya?"
"DEYAA!!"
Link bergeleng kepala sambil menepuk perutnya. Otomatis gadis itu terkejut.
"Kau ingin makan Epona!? Yang benar saja!!"
"HAAH!!"
.
Kali ini Link menunjuk segerombol sapi yang sedang Talon giring di pinggir lapangan, lalu kembali menunjuk-nunjuk Epona sampai kuda yang dimaksud mundur menjauh karena risih. Malon makin bingung
"Jadi kau ingin makan sapi atau kuda? Atau mengawinkan sapi dengan kuda??"
"HYAAAA!!"
Sekali lagi jejeritan nista itu terlontar lagi, Malon bersumpah untuk menggunduli rambut pirang Link dengan alat pencukur wol. Derita yang Malon alami hanya mendapat tawa datar dari Navi. Peri kecil itu lebih tahu seperti apa derita nestapa yang sebenarnya ketika harus selalu bersama bocah cacat wicara itu. Tapi Navi bukanlah peri jahat yang tega melihat orang lain merasakan penderitaan yang sama dengannya.
.
"Hey! Dengarkan! Hey! Hey! Malon!"
"APAPULA!?"
Tidak Link, tidak Navi. Keduanya berisik dalam semesta yang berbeda, tapi tetap sama-sama membuat telinga berdenging.
"Hey! Malon! Link kecapaian setelah bertualang! Dia ingin minum susu! Bukan susu sapi, tapi susu kuda!"
.
Suara jangkrik mengisi kehampaan sejenak. Dan Malon pun menghela napas yang sangat panjang. Tak lama kemudian segelas susu kuda spesial dari Peternakan Lon Lon siap disajikan. Bocah bertunik hijau itu segera menghabiskannya dalam sekali tenggak dan langsung berteriak di depan wajah Malon tanpa aba-aba.
"RHAAAHHH!!"
"APALAGI!??"
"Hey! Sepertinya susu kuda tidak seenak yang dibayangkannya. Walau begitu Link tetap berterima kasih!"
Tak lama kemudian Link buru-buru kabur sebelum alat pencukur wol mendarat di kepalanya.
eh? prompt harus tersurat di drebelnya kah? #kabor
next prompt: ranch/peternakan
Quote
Like
Share