Diorama

Post fanfiction buatanmu di sini. Hanya untuk fanfiction berbahasa selain Inggris.

Diorama

Deleted User
Deleted User

June 20th, 2012, 7:15 am #1

Title: Diorama
Fandom/Rating/Genre: [TVXQ/PG-13/Drama]
Chara: Jung Yunho/Shim Changmin
Summary:

Sulit baginya untuk kembali. Selamanya masa itu akan terus menguasainya. Sekarang pun masih terngiang jelas. Kamar temaram hangat dibalik rengkuhannya. Napas berat menggelitik telinganya. Berbisik.

“Aku mencintaimu.”





Diorama




Mereka duduk diam-diaman berdua, berhadapan, sepi diantara riuh rendah keramaian. Tidak ada yang memulai pembicaraan duluan setelah lelaki yang lebih tua mengucapkan satu kalimat 3 menit setelah pelayan pergi mengantar pesanan mereka.

“Istriku hamil.”

Kopi hitam tanpa gula kesukaannya mendadak membeku. Bibirnya kering. Mereka, tamu tempat ini mendadak berubah menjadi patung dimatanya. Semua kaku. Dia menyelipkan helai rambut dari wajahnya kebelakang telinga. Gestur yang selalu disukai lelaki di depannya. Dia sangat tahu. Lelaki itu selalu memberitahunya setiap mereka bergumul berdua. Matanya melirik memeriksa air wajah lelaki itu. Kaku. Tidak merona seperti biasa setelah menyaksikan dia melakukan atraksi yang kata orang itu sangat menggoda.

“Aku pergi besok pagi-pagi sekali.” ujar lelaki itu. Dia tidak mau melihat apa-apa darinya. “Changmin.”

Aneh mendengar namanya menguap keluar dari mulut lelaki itu. Kedengaran berbeda dari Changmin Changmin lain dengan berbagai nada keluaran mulut itu di masa lalu. Masa itu masih menguasainya. Masa yang sudah jadi milik sejarah dalam gudang ingatan yang pudar perlahan bagai hantu. Sejarah menyimpan semuanya. Changmin selalu bergulat dengan masa. Memperebutkan memori bahagia mengundang tawa walau hanya sebentar. Tapi dia telah kalah. Masa sudah mengambil kebahagiaannya. Memori itu sudah jadi bagian sejarah sekarang. Hatinya sakit karena dia.

Yunho mengerjap melihat wajah lelaki itu dibasahi air mata yang dilukis. Bersinar cantik menuruhi pipi yang biasa dibelainya. Ingin dia mengulur tangan. Membelai pipi itu sekali lagi. Tapi dia tidak bisa. Berpasang-pasang mata kosong memikul peran memata-matainya. Diorama hidup yang menguasai dunia. Mereka tidak bisa berkilah. Yunho mendesah frustasi. Menenggelamkan wajah dalam telapak tangan.
Harusnya cerita ini bisa berakhir lebih bahagia. Menukar sejarah. Tidak begini. Kalah dengan patung-patung bermata kosong itu.

Yunho memberanikan diri melihat wajah lelaki itu. Masih meninggalkan jejak kilau ketika dia menegak isi cangkir perlahan. Rambut hitam legamnya turun menirai wajah.

“Maaf.”

Changmin menghela napas. Kata itu lagi. Dengan nada yang sama setiap kali bibir itu mengucapakannya. Sudah muak dia mendengarnya. Dia mengangkat sudut bibirnya. Mengambangkan senyum. Sinar matanya meredup. Menutup dunia mereka yang diawali oleh tukar pandang ditempat yang sama. Mulutnya membuka sejenak. Ingin Yunho menutupnya kembali dengan miliknya seperti yang dulu pernah mereka lakukan. Lagi-lagi patung-patung ini mengawasinya.

“Dah, Yunho.”

Dia senang ketika lelaki itu panik melihatnya beranjak dari kursi. Kecewa melihatnya hanya menatapnya pergi. Begini saja?
Sudah selesai?
Dia pikir sisa masanya akan dia pakai mengubah sejarah bersama lelaki itu. Terencana setiap malam pertemuan mereka dalam bisikan hangat hembus napasnya. Ah, lama-lama juga akan pudar. Tidak akan bikin sakit lagi. Sayang. Saatnya kembali menjadi patung bermata kosong. Memikul peran.
Sulit baginya untuk kembali. Selamanya masa itu akan terus menguasainya. Sekarang pun masih terngiang jelas. Kamar temaram hangat dibalik rengkuhannya. Napas berat menggelitik telinganya. Berbisik.

“Aku mencintaimu.”





Quote
Share