Antara Pedang, Persona, dan Musou

masamune11
Premium Member
masamune11
Premium Member
Joined: March 28th, 2010, 5:05 am

January 21st, 2011, 4:53 pm #1

Disclaimer: Shin Megami Tensei dan segala macam titelnya bukan milik saya. Toh yang merilis saja ATLUS (dan saya bahkan tidak punya sahamnya. LOL). Begitu juga dengan Sengoku Musou (atau lebih sering dikenal dengan nama Samurai Warriors dalam versi Inggrisnya) yang dimiliki oleh KOEI (sekarang sudah jadi TecmoKOEI sih) dan Omega-Force. Fanfic ini hanya dibuat demi kesenangan pribadi.

Fandom/Rating/Genre: SMT: Persona 3 x Sengoku Musou / T / Adventure

Ringkasan: Yang terakhir ia ingat adalah cakar Cerberus, mencoba menariknya dari tempat yang semestinya. Lantas, mengapa sekarang ia terbaring di kasur jerami? Yang kedua... mengapa helm dengan ornamen bulan sabit emas itu malah dipakai, bukannya disimpan di museum?! Arisato Minato butuh panduan untuk tetap hidup dalam masa-masa perang ini. Mungkin bocah Date itu bisa menolongnya?

Karakter: Arisato Minato / Masamune Date
Chapter 1
Interlude
Hal pertama yang dirasakan Arisato Minato ketika terbangun adalah bagaimana sekujur tubuhnya sakit luar biasa, Mungkin, daripada sakit luar biasa, ia lebih merasa... kaku, seakan sekujur tubuhnya tidak pernah digerakkan selama bertahun-tahun. Mata biru gelap memandang sekeliling dan melihat batas yang dibuat dari bambu dan kayu. Dirinya berada di sebuah kamar kecil, dibatasi oleh tembok jerami-bambu; tampak seperti rumah seorang petani.

Mengesampingkan kenyataan bahwa dia ada di sebuah kamar sekarang, pertanyaan utamanya adalah... mengapa dirinya bisa berada di tempat itu dan bisa merasakan hembusan angin lewat jendela kecil di sudut ruangan. Terakhir ia cek, dirinya itu hanya bisa melihat sosok gelap dari Erebus, mencoba menariknya keluar dari pos di mana seharusnya ia berada. Tapi sekarang, ia berada di sana, bisa merasakan angin mengelus pipinya–

–tunggu, dia punya pipi?

Tangannya buru-buru meraba wajah, kemudian mulut, mata, rambut–sekujur tubuh atas seakan bagian-bagian tubuh tersebut tak pernah di sana. Ah, tapi memang sebelumnya, dia sudah berubah menjadi batu, meskipun kesadarannya tidak hilang. Jadi, wajar bukan jika pemuda tersebut kaget?

Oh, dan siluet yang menggantung di depan matanya itu berwarna hitam. Bukan biru. Demi Tuhan, jika ia memang ada (dan tidak menghitung Nyx), apa yang terjadi padanya sekarang?

“Ah, ibu! Ia sudah bangun!”

Minato buru-buru memalingkan pandangannya pada sumber suara dan menemukan sosok anak kecil (bocah gadis) berdiri menempel di pintu. Namun, detik ketika mata mereka bertemu, si bocah buru-buru pergi dari sana. Tak lama kemudian, matanya dapat melihat sosok wanita dewasa agak renta, menatapnya dengan ekspresi antara kalem dan takut.

Pada saat seperti ini, ia bertanya-tanya apakah kulitnya sepucat hantu.

“Syukurlah Anda sudah sadar,” kata-kata yang keluar dari ibu-ibu tersebut dibumbui rasa khawatir. Bocah gadis yang tadi dengan segera sembunyi di balik ibunya. Minato bisa mencium hawa waspada, sampai ke titik di mana ia percaya bahwa wanita itu akan mengusirnya dalam beberapa detik ke depan.

“Ah, maafkan anakku. Ia malu-malu.” tangan wanita tersebut mengelus anaknya dan mendorongnya keluar dari ruangan. Pasti ia sudah dikirim untuk mengerjakan sesuatu. di luar asumsinya, wanita tersebut tampaknya tidak terlihat ingin menendangnya keluar. Nada khawatir dengan cepat disubstitusi oleh hawa ringan.

Minato hanya bisa mengangguk. Matanya kembali menyisir sekitarnya; ruangan yang sederhana, terdiri dari sebuah meja kayu kecil dan teko air (serta gelas) dan tempat tidur yang tengah ia duduki sekarang. Alisnya sempat naik saat merasakan apa yang ada di bawah sprai putih kusam. Jerami? Siapa yang memakai jerami untuk tempat tidur?

Sebenarnya di mana dirinya sekarang?

“Ah, Anda pasti bingung, ya?” Pertanyaan lagi. Minato hanya bisa mengangguk sembari melihat sosok wanita tersebut menghampirinya. Satu hal yang ia lewatkan, pakaian dari wanita tua tersebut terlihat begitu tradisional dan kusam; yukata putih gading dengan motif bunga-bunga hitam dan merah muda, namun tampak kurang terawat.

“Aku Subaru,” potong si wanita cepat, sebelum Minato bisa mengungkapkan namanya sendiri. “Yukiko menemukanmu tergeletak di sawah semalam.”

Minato berkedip berkali-kali, mencoba meresap kembali kata-kata yang keluar dari wanita bernama Subaru ini. Bagaimana bisa penyelamat dunia yang seharusnya dipasung di sebuah dimensi tak bernama tiba-tiba bebas, berjasad, dan terjatuh begitu saja di sebuah sawah? Pemuda tersebut memutuskan untuk mengesampingkan masalah ini, karena ia mendengar pertanyaan kembali diucapkan dari mulut wanita yang telah mengurusnya selama sehari penuh.

“Ah, Anda pengembara bukan? Tentu saja. Jadi, nama Anda?”

Mulutnya terkatup sekali. Berbicara menjadi sebuah kegiatan sulit, seakan ada tangan tak terlihat yang menggenggam pita suaranya untuk berhenti bergetar. Namun demikian, namanya tetap disebut–nama yang ia harap tidak menggemparkan siapa pun.

“A-Arisato Minato.”
*~*~*~*
“Masamune-sama–”

“Nanti Kojūro. Kau tak melihatku sedang apa?”

“Tapi–”

Kagetsuna Katakura [1]–Kojūro generasi pertama–segera menutup mulutnya saat melihat delikan tidak nyaman pada mata tuannya. Namun, itu sama sekali tidak membuat keinginan untuk berbicaranya turun. Bagaimanapun juga, kabar yang ia bawa juga mendesak.

“Dengan penuh rasa hormat, Masamune-sama–” belum selesai kata-kata tersebut keluar dari mulutnya, kilat cahaya dengan mudah menempel pada leher. Bilah pedang cukup membuat bawahannya terdiam seketika. Masamune Date mendelik kesal dari sebelah matanya, dengan tangannya yang lain memegang kain kusam berlumur minyak.

“Goblok! Setidaknya tunggulah setelah aku selesai mengelap pedangku!” balasnya cepat. Ujung pedang masih menempel pada leher Kojūro, siap memenggal pria tersebut di sana. Masamune, sadar bahwa tindakannya hanya akan mengotori lantai kayu rumahnya dan pedang yang baru ia bersihkan, hanya mendengus kesal sebelum menarik bilah tersebut. Tangannya kembali mengelap bilah pedang hingga bersih, dan menaruhnya bersama dengan pistol kesayangannya.

“Bicara sekarang, atau kau ingin menunggu ditembak, Kojūro?”

Bagi Kojūro, diancam seperti ini oleh tuan yang telah ia besarkan merupakan hal yang sangat biasa. Saking biasanya, ia bahkan tidak berkeringat dingin ketika rutinitas tersebut kembali terjadi, untuk kesekian kalinya. Lantas, pria tersebut membungkuk dalam; salahnya juga karena ingin agar kabarnya sampai secepatnya, namun bukan berarti kabar yang ia bawa kalah penting dengan ritual tuannya, bukan?

“T-tentu, Tuan,” Kojūro menggigit bibirnya sebentar. “Pengintai kita menemukan kelompok kecil dalam perjalanan. Sekelompok kecil tentara Uesugi. Dikatakan Kanetsugu Naoe bersama dengan mereka.”

“Kanetsugu? Si bodoh yang terus mengoceh soal kehormatan?” Masamune Date, tuan tanah dari Ōshu, menyipitkan matanya. “Kelompok kecil, eh? Kemungkinan besar, mereka ingin bernegosiasi.”

‘Tapi untuk apa?’

“Siapkan kamar untuk menginap. Bagaimanapun juga, tamu harus disambut dengan baik,” Masamune menjawab dengan lugas, meskipun dirinya merasa komandan Uesugi tersebut tidak pantas mendapatkannya. Matanya kemblai menyorot figur Katakura yang masih membungkuk di hadapannya. Seharusnya, ia sudah pergi sekarang. “Apa Katakura, ada hal lain?”

Kali ini, Kojūro tidak bergidik. Tubuhnya kembali menegak, bersama dengan keberanian yang mulai muncul perlahan. Dua kabar; setidaknya kabar terakhir tidak akan membuat kepalanya copot. “Salah satu tentara kita menemukan seorang pemuda tak dikenal di sawah–”

“Goblok! Kau kira kita punya waktu untuk masalah trivial seperti ini–”

Kojūro bergidik sekali lagi. Mungkin kabar macam ini yang akan membuat kepalanya terbang. “Tapi Tuan, Anda tidak akan percaya! Kami menemukan gulungan ini bersamanya!”

Kojūro dengan segera mengambil sebuah gulungan dari selipan obinya, kemudian menengadahkan tangannya pada tuannya. Pemimpin Date tersebut dengan cepat mengambil gulungan tersebut dan membukanya di tempat; sedikit menyembunyikan kecurigaannya pada kayu pernis a la Japara yang menghiasi ujungnya. Matanya bahkan tidak sempat membaca hingga akhir gulungan, karena Masamune Date buru-buru menggulung kertas agak tua itu kembali.

Kojūro Katakura sangat berharap kepalanya masih terpasang saat ia keluar dari ruangan.

“Bawa dia kehadapanku. Tidak ada yang bisa mencuri dari Date dan lolos tanpa sanksi!”
*~*~*~*
“I-ini di Aizu [2]?”

Subaru mengangguk. Minato sendiri merasa seperti dihempaskan dari atap Tartarus, kemudian terjatuh ke lantai dasar. Tidak pernah dalam hidupnya ia pergi ke Aizu, dan tidak pernah pula dirinya menyangka Aizu adalah daerah yang sangat-sangat-sangat terbelakang. Ia bisa melihatnya dari tembok yang masih dibuat dari kayu. Dan ranting.

Demi Tuhan, sejak kapan salah satu prefektur Fukushima menjadi begitu terbelakang?

“Kau tidak apa-apa, Arisato-san? Wajahmu pucat.”

Pertanyaan Subaru membuatnya tercengang sebentar, namun Minato tersenyum. Jika dirinya memang di Jepang, hal pertama yang harus ia lakukan adalah mengontak teman-temannya lagi. Bukan hal yang sulit. Ia tinggal bertanya pada Subaru di mana boks telpon yang terdekat.

“Ah, tidak apa-apa,” Minato menjawab dengan kalem. Tangannya menyibak rambut yang menghalangi mata. “Ngomong-ngomong, Subaru-san, Anda punya telepon?”

“Telepon? Apa itu?”

Pertanyaan tersebut, ditambah dengan ekspresi polos dari wanita renta itu, cukup membuat Minato diam di tempat. Otaknya akhirnya sampai pada konklusi yang menarik namun tak ramah: dirinya berada di Aizu, tepatnya di daerah paling terpencil Aizu, sampai-sampai teknologi paling sederhana abad 21 pun tak terdengar.

“Itu, yang bisa digunakan untuk berbicara jarak jauh. Subaru-san tahu bukan?” Minato kembali bertanya. Sungguh, ia setengah berharap wanita itu tahua apa yang ia maksud. Namun, mata wanita itu menyipit dan memandangnya seakan Minato tidak tahu dengan apa yang ia katakan.

Ditambah lagi, Subaru menggeleng.

‘Baiklah... kesimpulanku benar. Bagaimana caranya aku pergi ke Iwatodai kalau begini...’

“I-ibu!”

Minato kembali tersadar dari lamunannya sendiri. Mata segera berpaling ke arah pintu dan melihat Yukiko kecil ketakutan. Subaru yang tadi tengah duduk di sampingnya segera bangkit untuk menghampiri anaknya. Wanita itu seakan tahu apa yang telah terjadi, karena Subaru dengan segera keluar dari ruangan.

“Arisato-san,” di telinganya pemuda tersebut, nada suara Subaru terdengar panik. “S-saya menitip Yukiko sebentar.”

Begitu saja. Minato sekarang ditinggalkan oleh seorang ibu yang tak lupa menitipkan anaknya. Yukiko hanya berdiri di dekat pintu. Dan gadis cilik itu hampir menangis. Pada detik itu juga, Arisato Minato merasakan firasat buruk.

“Yukiko,” katanya pelan. Tangannya terulur pada gadis cilik berambut hitam panjang tersebut, sementara mulutnya berusaha sedikit tersenyum untuk menenangkan. Sayangnya, firasat buruk seakan sudah menguasai mood-nya sepenuhnya, karena kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah sebuah pertanyaan langsung ala orang dewasa.

“Ada apa, Yukiko?”

Minato dapat melihat sosok kecil tersebut menggigit bibir. Bola mata siap membuka dam air mata. Apa yang membuat dirinya merasa tidak tenang adalah fakta bahwa Yukiko tidak mendekatkan diri. Alih-alih, gadis kecil tersebut hanya berdiri tiga langkah dari kasur ia duduk.

“Ka-Katakura-sama da-datang...”

Alisnya naik. Katakura? Mengapa rasanya pemuda itu mengenal nama tersebut? “Memangnya ada apa dengan Katakura-san––”

Pertanyaannya bahkan tidak terjawab, karena Subaru sudah masuk ke dalam ruangan lagi dan buru-buru menarik Yukiko ke dekapannya. Perasaannya makin terasa buruk; Minato tahu ketika seseorang terlihat panik dan tidak tampak bersahabat kepadanya (dalam berbagai macam arti), ada sesuatu yang akan terjadi. Seseorang seakan membisikkan hatinya bahwa apapun yang akan terjadi dalam beberapa menit ke depan... adalah gawat.

Benaknya benar; seorang lelaki agak tua masuk ke dalam ruangan. Pakaian yang ia kenakan membuat dirinya merasa makin asing dengan negeri ini; sejak kapan busana jepang saat ini berubah menjadi busana abad ke-15?

Minato memilih diam untuk sementara waktu. Berurusan dengan seorang lelaki yang membawa pedang di sisi kirinya (Minato punya perasaan kuat bahwa sarung pedang–lengkap dengan pedangnya–itu asli) bukanlah ide yang bagus.

“Arisato Minato–benar bukan itu nama Anda?” pertanyaan yang aneh bagi pemuda tersebut, namun ia mengangguk. Pada detik itu juga, ia menyesali tindakannya.

“Anda dengan ini ditangkap dengan tuduhan mencuri pusaka keluarga Date. Ikut denganku baik-baik, atau–” tangan pria tersebut meraih gagang pedang, “–bersiaplah menemui ajalmu.”
*~*[bersambung]*~*
Pesan Penulis:
[1] - Kagetsuna Katakura adalah Kojuuro pertama yang terkenal karena telah melayani Terumune Date, ayah dari Masamune Date. Ketika Terumune meninggal karena ditembak, loyalitasnya turun kepada Masamune, meskipun ibu dari samurai tersebut lebih memilih Kojiro Date, adik dari Masamune.

[2] - Masamune menjadikan Aizu (sebuah daerah di prefektur Fukushima di Jepang saat ini) sebagai basis operasinya setelah mengalahkan klan Ashina di sana. Aizuwakamatsu-jō, kastil yang berdiri di daerah itu, masih berdiri hingga sekarang. Tidak pernah ada catatan bahwa Masamune sempat tinggal di sana, namun... for the sake of this fic, Masamune saya buat sempat tinggal di kastil tersebut.

Dokuganryū is not merely a title.
FFn | Plurk | Twitter | AniH | 7A | Gotei | BOHQ | ETC | Tensei
Quote
Like
Share

Minayaki
Honored Member
Minayaki
Honored Member
Joined: October 8th, 2010, 11:26 am

January 22nd, 2011, 1:49 am #2

Wait-wait. Ini bersambung atau finish?
Kenapa ngegantung kayak giniiii??? *lempar bantal*
Dan kenapa Minatoku harus berhadapan dengan orang kejam kayak gitu? /plak
"They are more than that"
Fanfiction || Blog || FB || Twitter || Plurk || Tumblr
=send me message when you add my facebook=
Quote
Like
Share

masamune11
Premium Member
masamune11
Premium Member
Joined: March 28th, 2010, 5:05 am

January 23rd, 2011, 9:19 am #3

Bersambung say, cuma lupa aja tulis bersambung dan tidaknya =))

Technically, It's around 1589 in Japan, where warring state is in progress. Ya jelaslah, ketemunya samurai dan sebangsanya, kan? =))

Dokuganryū is not merely a title.
FFn | Plurk | Twitter | AniH | 7A | Gotei | BOHQ | ETC | Tensei
Quote
Like
Share

Minayaki
Honored Member
Minayaki
Honored Member
Joined: October 8th, 2010, 11:26 am

January 24th, 2011, 10:51 am #4

Tapiiiiiiiiiiiiii~~

Aku tak rela Minatoku ketemu ma orang kayak gitu. Wakakak =))
Eniwei, aku penasaran. Serius. Dan ini genrenya... bukan angst kan? Mengingat dirimu kalo nulis angst bikin nyesek mulu. haha.

"They are more than that"
Fanfiction || Blog || FB || Twitter || Plurk || Tumblr
=send me message when you add my facebook=
Quote
Like
Share