Ω

Ω

sylviolin
Honored Member
sylviolin
Honored Member
Joined: October 9th, 2010, 7:13 pm

January 3rd, 2012, 9:52 am #1

warning: pendek, kind of drabble format; nggak dibeta; plotless; timeline loncat loncat dan ngebingungin, aku tau -_-
.
.
Sampai ujung batas takdir;
sampai napas paling akhir;
sampai batu nisan terukir.


(@blindgameagain—dengan sedikit perubahan)
.
.

Sambil menggendongnya di punggungmu, kamu berlari.

Merah mewarnai rambut hitamnya, darah terus mengucur dari bagian kepalanya yang mengalami benturan.

Kamu butuh rumah sakit, segera. Oh, atau setidaknya, klinik.

Tak ada gerakan. Ia hanya bergeming, walau hembusan napasnya masih terasa di belakang telingamu.

Berlari, berlari, berlari.

Jeda antar napasnya semakin panjang, frekuensi napas permenitnya sepertinya semakin sedikit. Sebelum napasnya berhenti...

—tidak. Napasnya tak boleh berhenti.
.
.
Ω
© sylviolin—january 2012
.
.
Putih, putih, putih, putih, put—

Ia diselubungi oleh warna putih. Baju yang telah ia kenakan selama empat hari, cat dinding, sprei, dan seragam seorang perawat yang sedang mengganti cairan infusnya—semuanya putih.

"Belum sadar juga, ya, Tuan?" perawat itu bertanya kepadamu.

"Hu-uh," kamu mengangguk.

"Tuan tak mengantuk? Ini memang ruang VIP, pengunjung boleh menungguinya 24 jam, tetapi... saya sarankan untuk selalu menjaga kesehatan Tuan."

"Terima kasih, Suster."

"Saya keluar dulu, Tuan. Silakan tekan tombol di sisi tempat tidur jika butuh sesuatu."

Perawat itu melangkahkan kakinya menuju pintu, kemudian keluar (meninggalkanmu dan ia di dalam ruang rawat). Kamu kembali duduk di sisi tempat tidurnya, kamu genggam tangan kirinya erat. Memandang botol infus yang tergantung, kamu menghela napas. Berapa tetes—bukan, berapa botol infus lagi yang ia perlukan sampai ia bisa sadar? Atau mungkin, ia tidak akan sadar...

—tidak. Ia harus sadar.
.
.
Karena matamu tak sanggup lagi menahan kantuk, kamu tertidur. Dan kamu terbangun saat merasa tangannya menggenggam balik tanganmu.

"Clara..."

Menatapmu dalam, ia tersenyum. Ah—sudah berapa lama kamu tidak melihat senyumnya, sampai kamu bisa merasa sangat bahagia saat melihatnya lagi kali ini? Kamu merasa sangat tenang saat melihat lengkungan yang tercipta di bibirnya. Tentu saja, rasa itu tercipta karena akhirnya ia sadar dari komanya, bukan?

"Clara... akhirnya..."

Ia menggenggam tanganmu lebih erat lagi. Sangat, sangat, sangat erat—seolah ia takut kamu pergi meninggalkannya.

"Clara?"

"Syukurlah—bisa sampai akhir."

Setelah kalimat itu terucap olehnya, perlahan, genggamannya melemah. Matanya kembali tertutup, dan—
—piiiiiip.
Garis-garis yang biasanya naik turun di monitor Holter kini berubah menjadi lurus. Datar. Tidak ada fluktuasi sama sekali.

"Clara? Clara?" berdiri dari bangkumu, kamu hanya bisa menjeritkan namanya sambil mengguncang-guncangkan bahunya, "Bangunlah! Mengapa kamu tidur lagi, bukankah—"

Matamu menangkap tombol hijau di sisi tempat tidur. Tanpa pikir panjang, kamu tekan tombol itu, berharap perawat dan dokter segera datang. Selanjutnya, detik demi detik yang kamu lalui selanjutnya terasa sangat, sangat, sangat panjang. Kamu hanya ingin tenaga medis cepat datang. Dan sambil menunggu, kamu terus mengguncang bahunya, menepuk pipinya, dan—

"Ya, Tuan?" tanya seorang perawat sambil membuka pintu.

"Dokter. Saya butuh dokter."

Melihat garis nol derajat di monitor Holter, perawat itu langsung keluar ruangan. Beberapa saat kemudian, ia kembali bersama seorang dokter dan satu perawat lainnya, membawa defibrilator dan alat bantuan hidup lainnya.

Seorang perawat menempelkan dua elektroda di dadanya, seorang lagi menempelkan sungkup ambu bag—sebuah alat yang digunakan untuk membantu pernapasan—menutupi hidung dan mulutnya. Sang dokter menatap monitor itu, kemudian ia memberi aba-aba beberapa saat kemudian.

Beberapa kali sudah listrik dihantarkan dari defibrilator itu ke dinding dadanya, tetapi tidak ada perubahan—garis itu masih tetap datar. Rangsangan demi rangsangan terus diberikan agar jantungnya bisa berdetak kembali.

Sayangnya, semua seolah sia-sia.

Dan setelah kejut jantung yang kesekian, dokter itu menginstruksikan kedua perawat untuk berhenti, dan sebuah kata maaf terucap.

Tiga orang berseragam putih itu merapikan alat-alat resusitasi. Kamu hanya bisa diam.
.
.
Satu demi satu orang berbaju hitam berjalan meninggalkan pemakaman itu. Sampai akhirnya, tinggallah kamu sendiri di sana.

Satu tetes air jatuh ke atas kepalamu. Kamu tengadahkan kepalamu—hujan. Bahkan langit pun tahu apa yang kamu rasakan. Langit mewakilimu untuk menangis, karena—entah kenapa—bulir-bulir air matamu seolah tertahan.

Kembali kamu tatap tanda salib di atas tanah itu. Kenangan demi kenangan datang tanpa kamu inginkan—dari saat kamu pertama kali mengenalnya sampai saat terakhir ia ada di dunia, semuanya melintas di pikiranmu.

Hujan semakin menderas; dan kamu tetap bergeming di sana.

Akhirnya, kamu berlutut di sebelah makamnya. Mengusap foto di atas tempat peristirahatan terakhirnya, kamu berkata,

"Terima kasih."
.
.
(Bahkan sampai akhir, hal yang paling ia syukuri di hidupnya adalah bahwa ia dapat mencintaimu.

"Syukurlah—bisa sampai akhir."

Itu kan kalimat terakhir yang ia ucapkan?)

.
.

[+] spoiler

ambu bag itu yang dimaskerin (?) ke hidungnya, defibrilator yang ditempelin ke jantungnya.
semoga gambarnya (baik yang ngefoto atau yang difoto) ngga marah fotonyaa credit di sini ;w;
dan haha. aku tau ini ngaco....... cuma pelampiasan karena pengen bikin angst, walaupun jadinya gak angst -_-" that's all ._.
dan namanya itu sumpah ngasal =)))
soal kalimat "syukurlah, bisa sampe akhir"... itu kisah nyata... walau nyata tapi dalam mimpi (?) pokoknya gitu -_-" /fail
Quote
Like
Share

Hiyori Kirishima
Premium Member
Hiyori Kirishima
Premium Member
Joined: December 2nd, 2011, 6:47 pm

February 25th, 2012, 9:08 am #2

UWAAAAHHH~!!! #speechless.
Ini... ke-keren banget!!! . Dan gak fail sama sekali, kok!

Aku bacanya sambil bayangin adegan di film AWAKE . Abis situasinya mirip sih. Sama-sama di RS, lagi operasi dan nyaris mati! . Tapi kalo yang di film AWAKE, lebih ke thriller suspense pas adegan operasi, kalo ini lebih ke angst. Angst-nya dapeeeetttt

Trus, aku suka pemilihan POV-nya. Sudut pandang dari si 'pasien' sangat terasa. Gimana dia mau bertahan, namun akhirnya~ #hiksu.

Yang jelas... sugoiii lah~cerita ini, Sylvi
Quote
Like
Share

Neng Tya
Honored Member
Neng Tya
Honored Member
Joined: October 31st, 2011, 1:00 pm

February 26th, 2012, 6:50 am #3

Aku ga sanggup bayangin cerita ini, Kak.
.
Jd pengen nangis pas baca ending-nya.
Quote
Like
Share

Joined: July 25th, 2012, 8:55 pm

September 1st, 2012, 8:28 am #4

Haaahhhh... Saya speechless. Eumm, bingung mau ngomong apaan lagi.

Ini memang angst, tapi sisi romancenya dapat. Ngebayangin seseorang yang berarti bagi kita di samping kita saat kita sekarat, itu benar-benar menyentuh dan senpai mampu mendeskripsikannya dengan baik. Sejauh ini saya tidak melihat typo (s). Penulisan apik. Hanya saja, ada satu pertanyaan yang nyempil di otak saya yang aneh ini : Kenapa tiap adegan sedih, harus ada hujannya? Padahal, setiap saya sedih, saat ngelihat ke langit dan berharap hujan turun, matahari tetepppp aja nyengat, oke, abaikan, ini gak penting.

Well, keep writing, senpai dan salam kenal. Mohon bimbingannya ya di infantrum.

Who am I?
Me? I am Conundrum
Who are you?
You? You are Conundrum
Wanna visit Me?
Quote
Like
Share