Let me be me

Frank Bawden
Frank Bawden

1:33 AM - Mar 28, 2018 #1

Frank Bawden
30 y.o | Carpenter
Location : Glencoe Village

Brengsek!

Tongkatnya meluncur bebas dari tangannya yang kebas, mendarat di kubangan air penuh lumpur. Frank menunduk, lengan panjangnya terjulur memungut tongkat sihirnya yang kadung basah dan kotor. Dia bahkan tak mau repot-repot membersihkannya, langsung menjejalkannya dengan paksa di balik mantelnya yang sobek di sana-sini. Tergesa-gesa. Frank Bawden sungguh-sungguh berada di posisi yang membuatnya terburu-buru. Langkahnya dipercepat. Nafasnya memburu. Tiap hembusan nafasnya diiringi amarah yang kentara.

November yang basah. Hujan terus saja mengguyur seharian. Tapi Frank seolah tak peduli. Lelaki dengan rambut hitam berjelaga ini terus berjalan menyusuri jalan setapak yang becek. Langkahnya yang kasar membuat kubangan air berkecipak dan menimbulkan noda lumpur di sepatunya. Kepalanya menunduk, terbungkus tudung mantelnya. Ketika dua gadis muda berjalan di bawah payung warna kuning terang dari arah berlawanan, Frank merapatkan mantelnya. Menghindari kontak mata dengan dua gadis yang terkikik sewaktu mereka berpapasan. Bahkan kikikan manja itu masih bisa didengarnya setelah dua gadis muda itu lewat dan berjalan jauh di belakangnya.

Berisik.

Tapi apa pedulinya? Mencebik jengkel, Frank berbelok di tikungan pertama, pada gang sempit yang buntu, yang diapit tembok batu-bata tinggi berselimut lumut. Untuk pertama kalinya, Frank mengangkat kepalanya. Lalu setelah memastikan bahwa tak ada siapa pun yang melihat keberadaannya, Frank melakukan gerakan berputar yang cepat—

HOP!

Frank ber-apparate di tepi hutan lebat tak jauh dari desa kecil Glencoe. Bersandar—sekaligus bersembunyi—di balik salah satu pohon yang besar dan menjulang, Frank menatap pemukinan desa dari kejauhan. Kelap-kelip lampu rumah penduduk mengaburkan pandangannya. Manusia-manusia itu, yang tinggal di sana, sungguh tak tahu apa-apa.

Menurunkan tudung kepalanya, Frank membiarkan tetes-tetes hujan memukul wajahnya yang penuh luka. Toh, tubuh kekarnya sudah basah sejak tadi. Frank juga membiarkan suara deru angin dan keresak ranting-ranting pohon merongrong lorong telinganya. Suara-suara yang bercampur jadi satu. Yang tak kuasa ditolaknya untuk tidak didengar olehnya.

Ah, sudah biasa begini.

Yang tak biasa adalah kunjungannya ke Glencoe barusan. Semuanya di luar rencana. Ada sesuatu yang ingin disampaikannya pada sahabat baiknya yang tinggal di sana. Sayangnya, niatnya tak kesampaian. Sahabat baiknya rupanya sudah menikah. Parahnya, istri sahabatnya tengah hamil. Dan ini membuat Frank marah. Ia ingin berteriak dan menjebol pagar rumah sahabatnya saat meihat sahabatnya tertawa renyah bercengkrama dengan istrinya dari balik jendela yang tak tertutup tirai. Frank hanya bisa mengepalkan tangannya dan memundurkan langkahnya. Membalik badan, mengurungkan kunjungan.

Ada yang menggelegak di dasar kerongkongan Frank Bawden. Bagaimana bisa si idiot itu menikah? Bukankah idiot ini punya sesuatu yang sama dengan Frank? Bukankah dulu mereka pernah bilang hidup begini terus sungguh membuat lelah? Bagaimana Frank tidak gerah?

Bertahun-tahun hidup di balik kedok tukang kayu membosankan juga. Fakta bahwa Frank memiliki kekuatan yang lebih dari sekadar tukang kayu, bahwa dirinya punya kemampuam lebih dibanding manusia-manusia biasa bertongkat, sampai kapan dia harus bersembunyi? Sampai kapan Frank harus hidup di bawah kontrol orang lain? Bagaimana bisa kaumnya diam saja dan mau diatur begini? Memangnya kenapa kalau dia punya kekuatan lebih?

Dia ingin bilang pada sahabat idiotnya bahwa mereka harusnya berhenti sembunyi. Tidak ada alasan mereka menyembunyikan identitasnya. Sudah seharusnya kaum mereka yang terkenal kuat tidak hidup seperti maling. Tapi si idiot itu mengkhianatinya. Frank sungguh tak habis pikir bagaimana bisa dia menikahi si gadis biasa? Muggle. Lalu tujuan mereka dulu untuk hidup tanpa bersembunyi mau dikemanakan?

Frank amat berang. Kakinya dipijak keras, melepaskan sandarannya, lalu masuk ke jantung hutan lebih dalam lagi, memikirkan rencana lain. Lidahnya menjilat gigi-giginya berulang kali. Sudah hampir gelap. Dan malam ini masuk fase bulan penuh.

Dia harus bersiap-siap untuk transformasi tubuhnya.
Quote
Share

Confirmation of reply: